Gempa bumi berkekuatan magnitudo 2,8 mengguncang wilayah tenggara Kuta Selatan, Bali, Rabu (8/4/2026) siang. Meski tergolong kecil, aktivitas gempa di kawasan selatan Bali tetap menjadi perhatian karena berada di jalur seismik aktif.
Berdasarkan informasi awal yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pada 8 April 2026 pukul 14.27.46 WIB.
Lokasi gempa berada di koordinat 9,94 Lintang Selatan dan 115,52 Bujur Timur, atau sekitar 131 kilometer tenggara Kuta Selatan, Bali.
BMKG mencatat, gempa tersebut berada pada kedalaman 10 kilometer.
Karena merupakan data awal yang dirilis cepat, parameter gempa seperti lokasi, kekuatan, dan kedalaman masih berpotensi mengalami pembaruan setelah proses analisis lebih lanjut.
Secara umum, wilayah selatan Bali termasuk daerah yang rawan aktivitas gempa karena berada dekat jalur subduksi aktif di selatan Indonesia.
Kawasan ini dipengaruhi oleh pertemuan Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia/Sunda, sehingga aktivitas seismik di sekitar perairan selatan Bali kerap terjadi.
Selain dipengaruhi zona subduksi, sejumlah aktivitas tektonik lokal di sekitar Bali juga ikut membentuk karakter kegempaan di wilayah ini.
Namun, untuk gempa M 2,8 kali ini, BMKG belum merinci sumber spesifik pemicunya, apakah berkaitan dengan subduksi maupun struktur lokal lainnya.
Dari sisi kekuatan, magnitudo 2,8 tergolong gempa kecil. Secara umum, gempa dengan kekuatan seperti ini tidak selalu menimbulkan dampak signifikan, apalagi jika pusatnya berada cukup jauh dari kawasan padat penduduk.
Meski begitu, kedalaman gempa yang tercatat 10 kilometer menunjukkan peristiwa ini termasuk gempa dangkal.
Gempa dangkal cenderung lebih mudah terasa di permukaan dibanding gempa yang lebih dalam, terutama bila pusatnya dekat daratan atau permukiman.
Dalam kasus ini, karena lokasi gempa berada cukup jauh dari Kuta Selatan, yakni sekitar 131 kilometer, potensi dampak yang dirasakan luas biasanya lebih terbatas dibanding gempa dangkal yang berpusat lebih dekat ke wilayah daratan.
Artinya, dampak gempa tidak hanya ditentukan oleh magnitudo, tetapi juga oleh kedalaman, jarak episenter terhadap permukiman, kondisi geologi setempat, serta kualitas bangunan di wilayah sekitar.
BMKG mengimbau masyarakat agar tidak panik menyikapi informasi gempa awal, namun tetap waspada dan menunggu pembaruan resmi bila ada perkembangan lanjutan.
Saat terjadi gempa, masyarakat disarankan segera melakukan langkah perlindungan dasar.
Jika berada di dalam bangunan, lindungi kepala, jauhi kaca dan benda yang mudah jatuh, lalu berlindung di bawah meja yang kokoh bila memungkinkan.
Setelah guncangan berhenti, segera keluar menuju area terbuka dengan tertib dan hindari area yang berisiko seperti tiang listrik, pohon besar, papan reklame, maupun bangunan yang mengalami kerusakan.
Masyarakat juga diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, terutama yang beredar di media sosial atau aplikasi percakapan.(*)