TRIBUNSUMSEL.COM, MARTAPURA - Peristiwa penikaman brutal yang menewaskan seorang lansia di halaman Masjid Romadhon, Desa Kotabaru, Kecamatan Martapura, Kabupaten OKU Timur, Selasa (7/4/2026), menyisakan duka mendalam.
Di balik tragedi itu, tersimpan kisah haru tentang niat suci korban yang ingin menunaikan ibadah umrah, sebagaimana diungkapkan oleh pengasuh pondok pesantren, Ustadz Miftahul Faizin.
Ustadz Miftahul Faizin tak kuasa menahan kesedihan saat menceritakan sosok korban, Roni (73), yang tak lain adalah pamannya sendiri.
Ia menyebut, almarhum datang ke pondok pesantren sekitar lima hari setelah Lebaran dengan tujuan bersilaturahmi sekaligus memperdalam ibadah.
“Beliau datang dengan niat yang sangat baik, ingin mempersiapkan diri untuk umrah. Kami sarankan untuk memperbanyak ibadah, memperkuat fisik dan spiritual,” ujar Miftahul saat ditemui jurnalis Tribunsumsel.com dan Sripoku.com, Rabu (8/4/2026).
Selama hampir dua pekan berada di lingkungan pesantren, korban dikenal sebagai sosok yang tekun beribadah. Ia rutin melaksanakan salat lima waktu berjamaah, bahkan rajin menunaikan salat tahajud di malam hari.
“Setiap hari beliau ke masjid. Sangat rajin, bahkan untuk tahajud. Kami semua mengenalnya sebagai pribadi yang tenang dan religius,” tambahnya.
Namun, suasana damai itu berubah menjadi kepanikan pada Selasa (7/4) sore. Berdasarkan rekaman CCTV dan kesaksian di lokasi, pelaku yang diketahui berinisial RA (24) tiba-tiba datang mengenakan gamis dan peci putih, lalu langsung menyerang korban secara brutal tanpa banyak interaksi.
“Dari rekaman terlihat sangat spontan. Pelaku datang dan langsung menyerang bertubi-tubi. Tidak ada percakapan sebelumnya,” jelas Miftahul.
Korban yang saat itu tengah bersiap menunaikan salat Magrib sempat mencoba menyelamatkan diri. Namun, pelaku terus mengejar, menarik pakaian korban hingga terjatuh, lalu kembali menusuknya berulang kali hingga akhirnya meninggal dunia di tempat.
Peristiwa itu disaksikan langsung oleh sejumlah santri dan pengajar. Namun, mereka tak berani mendekat karena pelaku membawa senjata tajam.
“Santri dan guru melihat, tapi tidak bisa berbuat banyak karena takut. Ini yang membuat mereka sangat trauma,” ungkapnya.
Miftahul juga menegaskan bahwa tidak ada hubungan antara korban dan pelaku. Bahkan, pelaku bukan bagian dari lingkungan pesantren maupun jamaah masjid.
“Kami tidak mengenal pelaku. Korban juga tidak ada masalah dengan siapa pun di sini. Selama ini lingkungan pesantren aman dan diterima baik oleh masyarakat,” tegasnya.
Baca juga: Bersiap Salat Maghrib, Lansia Tewas Ditikam Secara Brutal di Ponpes Romadhon Martapura OKU Timur
Baca juga: Penusukan Lansia di Masjid Ponpes Romadhon Martapura: Korban Meninggal Dunia, Polisi Amankan Pelaku
Pasca kejadian, suasana duka dan ketakutan sempat menyelimuti pondok pesantren. Beberapa wali santri bahkan datang langsung untuk memastikan kondisi keamanan.
Sebagai langkah antisipasi, pihak pesantren memberikan kebijakan kepada santri untuk sementara waktu kembali ke rumah masing-masing.
“Hari ini memang tidak libur, tapi kami beri kelonggaran bagi santri yang ingin pulang. Ini untuk memulihkan kondisi psikologis mereka,” katanya.
Meski demikian, aktivitas belajar mengajar kini mulai kembali berjalan normal dengan pengawasan yang lebih ketat.
Sementara itu, pihak kepolisian terus mendalami motif pelaku. Kapolres OKU Timur, AKBP Adik Listiyono, menyatakan bahwa pelaku telah diamankan tak lama setelah kejadian.
"Hasil pemeriksaan awal menunjukkan pelaku sulit dimintai keterangan karena berbicara tidak jelas. Tes urine juga mengungkapkan bahwa pelaku positif narkoba," tuturnya.
Sedangkan, Kasat Reskrim, IPTU Rendi Ramadhona, menambahkan penyidik masih mendalami kemungkinan adanya gangguan kejiwaan pada pelaku.
“Kami masih dalami motifnya. Jika diperlukan, akan dilakukan pemeriksaan oleh dokter kejiwaan untuk memastikan kondisi kejiwaan pelaku,” ujarnya.
Hingga kini, motif di balik aksi keji tersebut masih menjadi misteri. Keluarga korban berharap kasus ini dapat diungkap secara transparan dan tuntas.
Tragedi ini menjadi pukulan bagi lingkungan pesantren yang selama ini dikenal aman dan religius. Di tengah duka, kisah tentang niat ibadah yang belum sempat terwujud dari korban menjadi pengingat bahwa kekerasan bisa terjadi di mana saja, bahkan di tempat yang paling sakral sekalipun.
Ikuti dan bergabung dalam saluran whatsapp Tribunsumsel.com