TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN - Kenaikan harga plastik di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, bikin pedagang dan pembeli sama-sama terkejut. Sejak awal April 2026, harga berbagai jenis plastik langsung melonjak tajam, bahkan disebut-sebut bisa terus naik dalam waktu dekat.
Lonjakan harga ini diduga dipicu terganggunya distribusi bahan baku plastik, seperti nafta, akibat konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah. Seorang pedagang plastik di Jalan Sudirman, Kelurahan Nunukan Timur, Kecamatan Nunukan Meiriana, mengaku tidak menyangka lonjakan harga terjadi secepat ini.
Ia menyebut kondisi tersebut dipicu dampak konflik di Timur Tengah yang mengganggu distribusi bahan baku plastik.“Kaget juga, tiba-tiba harganya langsung tinggi. Naiknya banyak karena bahan bakunya susah,” ujarnya kepada TribunKaltara.com, Rabu (8/4/2026).
Harga gelas cup plastik yang sebelumnya sekitar Rp22.000 kini sudah naik menjadi Rp27.000. Bahkan, menurut Meiriana, harga tersebut berpotensi kembali melonjak hingga menembus Rp30.000.
Baca juga: Harga Kemasan Plastik di Malinau Naik 50 Persen, Pedagang Pertimbangkan Penyesuaian Harga
Tak hanya itu, kantong plastik yang paling banyak digunakan juga mengalami kenaikan signifikan. Dari harga Rp5.000, kini naik menjadi Rp8.000 hingga Rp9.000 per bungkus.
Yang paling mencolok, harga plastik es jenis “gajah” melonjak drastis. Jika sebelumnya berada di kisaran Rp900.000 per kotak besar kini sudah mencapai Rp1.500.000.
“Ini yang paling terasa naiknya, dan paling banyak dicari,” jelasnya.
Kondisi ini membuat para pedagang berada di posisi sulit. Sehingga mereka terpaksa menaikkan harga jual karena harga beli yang sudah tinggi, meskipun khawatir akan reaksi pelanggan.
“Kami serba salah. Mau tidak mau harus ikut naikkan harga,” katanya.
Meski harga melonjak, permintaan plastik tetap stabil karena menjadi kebutuhan utama, terutama bagi pelaku usaha kecil dan pedagang makanan.
Baca juga: Harga Plastik Melonjak Tajam, Pedagang Es di Tana Tidung Pertimbangkan Naikkan Harga Jualan
Untuk bertahan, Meiriana mengaku kini lebih berhati-hati dalam mengambil stok dan memilih menunggu kondisi pasar kembali stabil.
“Kami tidak ambil banyak dulu, lihat perkembangan ke depan. Harapannya harga bisa normal lagi,” pungkasnya.
Kenaikan harga plastik ini menjadi yang paling terasa selama enam tahun terakhir ia berjualan, dan dikhawatirkan masih akan terus berlanjut jika pasokan bahan baku belum kembali normal.
(*)
Penulis: Fatimah Majid