Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Selasa (7/4/2026) waktu AS mengumumkan kesepakatan gencatan senjata sementara dengan Iran selama dua minggu.
Menyusul pengumuman gencatan senjata sementara, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengumumkan Iran telah setuju untuk membuka Selat Hormuz.
Hingga awal April 2026, blokade Iran terhadap Selat Hormuz telah menciptakan penumpukan besar-besaran, dengan perkiraan ribuan kapal menunggu atau terjebak di Teluk Persia dan perairan sekitarnya termasuk dua kapal Indonesia yang belum mendapat izin Iran untuk melewati Selat Hormuz.
Hanya segelintir kapal yang diizinkan oleh Iran untuk melewati selat tersebut.
Iran menegaskan akses dan kondisi di wilayah tersebut tidak akan kembali seperti sebelumnya, terutama bagi AS dan Israel yang dianggap sebagai pihak yang meningkatkan eskalasi konflik.
Merespons Iran yang membatasi akses di Selat Hormuz, Donald Trump sempat memberikan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz atau hingga Senin (6/4/2026).
Namun Teheran secara terbuka menolak ultimatum 48 jam yang disampaikan Donald Trump.
Tekanan dari Trump dipandang sebagai upaya untuk memaksa Iran mengakhiri kebijakan yang dianggap mengancam stabilitas ekonomi global.
Kemudian Donald Trump mengubah waktu deadline tersebut, dan menetapkan batas waktu bagi Iran yang memblokade Selat Hormuz agar membuka jalur air tersebut paling lambat hari Selasa, 7 April 2026 pukul 20.00 waktu setempat.
Ada dua syarat mutlak yang diminta Trump. Pertama, Iran harus segera membuka kembali Selat Hormuz — jalur vital perdagangan minyak dunia. Kemudian yang kedua adalah Iran menghentikan total program pengayaan uranium.
Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan yang tersisa di Iran, jika hingga Selasa (7/4/2026) Iran tidak membuka Selat Hormuz.
Dalam unggahannya di platform Truth Social, Trump memperingatkan konsekuensi ekstrem jika kesepakatan tidak segera tercapai.
Bahkan ancaman 'seluruh peradaban akan mati'.
Pada Selasa (7/6/2026), beberapa jam sebelum serangan yang direncanakan, Trump menggunakan platform Truth Social secara mengejutkan mengumumkan kesepakatan gencatan senjata sementara dengan Iran selama dua minggu.
Trump menyatakan bahwa gencatan senjata tersebut akan berlaku jika Iran setuju untuk membuka kembali lalu lintas di Selat Hormuz secara penuh.
Langkah menuju gencatan senjata ini tidak lepas dari peran diplomasi internasional.
Dengan ditengahi Pakistan, Presiden AS Donald Trump dan Iran setuju untuk melakukan gencatan senjata selama dua minggu.
Trump pun memuji Pakistan karena menengahi penyelesaian tersebut tetapi memperingatkan bahwa gencatan senjata hafrus disertai dengan syarat — yaitu Iran harus membuka Selat Hormuz.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif sebelumnya mengusulkan penghentian sementara konflik guna memberikan ruang bagi negosiasi antara Washington dan Teheran.
Usulan tersebut tampaknya menjadi salah satu faktor pendorong tercapainya kesepakatan awal ini.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengatakan telah menerima gencatan senjata selama dua minggu dan akan bernegosiasi dengan Amerika Serikat di Islamabad mulai Jumat.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa jalur melalui selat hormuz akan diizinkan selama dua minggu ke depan di bawah pengelolaan militer Iran.
Belum jelas apakah itu berarti Iran akan melonggarkan kendalinya atas jalur air tersebut.
Araghchi juga menyatakan Iran akan menghentikan serangan, jika serangan terhadap mereka juga dihentikan.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Perdana Menteri Pakistan Sharif dan Marsekal Lapangan Munir yang menjadi mediator dalam perundingan AS, Israel dan Iran.
Saksikan LIVE UPDATE selengkapnya hanya di YouTube Tribunnews!