Daftar Negara yang Bisa Melintas Selat Hormuz: Filipina hingga China Dapat Izin Iran, Indonesia?
khairunnisa April 08, 2026 06:03 PM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Inilah daftar negara yang sudah bisa melewati Selat Hormuz.

Ternyata beberapa negara di Asia telah mencapai kesepakatan dengan Iran dalam upaya mengamankan jalur pelayaran utama di Selat Hormuz. 

Kesepakatan tersebut dilakukan seiring dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam pada Senin (6/4/2026) akan menghancurkan Iran dalam satu malam jika negara tersebut gagal menyetujui kesepakatan. 

Trump memberikan tenggat waktu persetujuan dengan Iran pada Selasa (7/4/2026) pukul 20.00 waktu Washington DC untuk membuka kembali Selat Hormuz. 

Konflik AS-Israel dengan Iran berawal ketika AS-Israel menyerang Teheran, Ibu Kota Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. 

Iran kemudian membalas menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah serta menutup dan membatasi Selat Hormuz. 

Lantas, negara Asia mana saja yang sudah mencapai kesepakatan dengan Iran? 

6 Negara Asia yang capai kesepakatan dengan Iran 

Dilansir dari BBC, Selasa (7/4/2026), dalam beberapa minggu terakhir, beberapa negara Asia telah membuat kesepakatan dengan Teheran untuk mengizinkan beberapa kapal melewati selat tersebut dengan aman. Berikut negara-negara tersebut: 

1. Filipina 

Filipina adalah negara terbaru yang mencapai kesepakatan dengan Iran. 

Filipina sangat ingin mencapai kesepakatan dengan Iran sebab perekonomian mereka sangat bergantung pada energi dari Teluk. 

“Para pejabat Iran menjamin jalur pelayaran yang aman, tanpa hambatan, dan cepat bagi kapal-kapal berbendera Filipina melalui jalur air tersebut,” kata Theresa Lazaro, sekretaris luar negeri Filipina. 

Ia mengatakan kesepakatan tersebut telah dicapai setelah percakapan telepon yang ‘sangat produktif’ dengan Teheran pada Kamis (2/4/2026). 

Lazaro mengatakan percakapan itu sangat penting dalam membantu memastikan pasokan energi dan pupuk. 

Filipina mengimpor 98 persen minyaknya dari Timur Tengah dan merupakan negara pertama yang mendeklarasikan keadaan darurat energi nasional setelah harga bensin di negara itu naik lebih dari dua kali lipat setelah dimulainya perang Iran. 

“Masih ada ketidakpastian mengenai klaim Teheran bahwa selat tersebut terbuka untuk semua negara kecuali AS dan sekutunya,” kata Roger Fouquet dari Institut Studi Energi Universitas Nasional Singapura. 

Fouquet mengatakan, Filipina, yang sering dianggap sebagai sekutu AS, adalah kasus menarik yang dapat menunjukkan Iran bersedia memisahkan masalah-masalahnya. 

"Iran tampaknya membedakan antara aliansi suatu negara dan partisipasi aktifnya dalam konflik,” katanya. 

Baca juga: Terbongkar Peran China Diam-diam Bantu Rencana Gencatan Senjata AS-Iran, Trump Bersuara

2. Pakistan 

Pakistan juga telah mengadakan pembicaraan dengan Iran. 

Pakistan mengumumkan pada 28 Maret 2026 bahwa Iran telah setuju untuk mengizinkan 20 kapalnya melewati Selat Hormuz. 

"Ini adalah isyarat yang disambut baik dan konstruktif dari Iran dan patut diapresiasi," kata Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar. 

Ia mengatakan bahwa dialog, diplomasi, dan langkah-langkah untuk membangun kepercayaan menjadi satu-satunya jalan melangkah ke depan. 

3. India 

Iran secara terbuka menyambut kapal-kapal berbendera India yang melintasi selat tersebut. 

"Teman-teman India kami berada di tangan yang aman, jangan khawatir," demikian unggahan Kedutaan Besar Iran di India di X pekan lalu. 

Kedutaan Besar Iran juga menanggapi unggahan lainnya yang menyatakan bahwa hanya Iran dan Oman yang akan menentukan masa depan Selat Hormuz. 

Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar mengatakan kepada Financial Times pada Maret bahwa lewatnya kapal tanker India adalah hasil diplomasi. 

4. China 

China, pembeli minyak Iran terbesar, juga mengkonfirmasi pekan lalu bahwa beberapa kapalnya telah melintasi selat tersebut. 

"Setelah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, tiga kapal Tiongkok baru-baru ini melintasi Selat Hormuz. Kami menyampaikan rasa terima kasih kami kepada pihak-pihak terkait atas bantuan yang diberikan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China. 

Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa terlepas dari perang, jutaan barel minyak Iran yang dikenai sanksi AS telah dikirim ke China dalam beberapa pekan terakhir. 

Beijing menjalin hubungan diplomatik yang ramah dengan Teheran dan telah bergabung dengan Pakistan dalam upaya menengahi gencatan senjata antara AS dan Iran. 

5. Jepang 

Belum diketahui secara pasti kondisi seperti apa yang membuat beberapa kapal Jepang berhasil melewati selat tersebut dengan aman, serta apakah kapal-kapal tersebut membayar untuk melewati selat. 

Perusahaan pelayaran Mitsui OSK Lines Jepang mengatakan pada akhir pekan bahwa sebuah kapal Jepang yang membawa gas alam cair melewati Selat Hormuz. 

"Keamanan kapal dan seluruh awak kapal telah dipastikan," kata perusahaan tersebut. 

Perusahaan itu tidak mengomentari apakah ada biaya yang harus dibayarkan dan bagaimana awak kapal mendapatkan jalur pelayaran yang aman. 

6. Malaysia 

Pada Maret, Malaysia juga mengatakan beberapa kapal tanker mereka telah mendapat izin dari Teheran untuk melewati selat tersebut. 

Perdana Menteri Anwar Ibrahim berterima kasih kepada presiden Iran karena telah memfasilitasi perjalanan kapal-kapal mereka. 

Menteri Perhubungan Malaysia, Anthony Loke menyebutkan adanya hubungan diplomatik yang baik dengan pemerintah Iran. 

Belum jelas apakah kapal-kapal berbendera Malaysia lainnya akan diberikan jaminan yang sama. 

Sekitar dua pertiga impor minyak Malaysia diketahui berasal dari negara-negara Teluk.

Nasib Indonesia 

Sebelumnya, Indonesia bersama pemerintah Iran sempat membahas aspek teknis dan operasional terkait kapal Pertamina yang masih berada di Teluk Arab karena belum dapat melintas di Selat Hormuz. 

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Yvonne Mawengkang mengatakan, dalam perkembangan komunikasi antara kedua negara, pihak Iran telah memberikan tanggapan positif. 

“Yang saat ini sedang ditindaklanjuti oleh pihak terkait pada aspek teknis dan operasional,” ujar Yvonne. 

Ia menambahkan, status kapal Pertamina yang berada di Teluk Arab terus dikomunikasikan oleh Kementerian Luar Negeri bersama Kedutaan Besar RI di Teheran. 

“Kementerian Luar Negeri bersama KBRI Teheran sejak awal terus melakukan koordinasi intensif dengan pihak terkait di Iran,” imbuhnya.

Sumber: Kompas.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.