Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) menilai keterlibatan pekerja ahli lulusan perguruan tinggi mampu meningkatkan potensi remitansi bagi negara secara signifikan.
Direktur Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri KP2MI Dwi Setiawan Susanto dalam kegiatan penguatan Career Development Center (CDC) di Jakarta, Rabu menyebutkan saat ini terjadi pergeseran tren permintaan tenaga kerja migran Indonesia, dari yang sebelumnya didominasi sektor tradisional beralih menuju pekerja sektor ahli (skilled worker), salah satunya adalah ahli di bidang pengelasan atau welder.
"Welder itu punya reward yang sangat tinggi, rata-rata sudah Rp100 juta (per bulan), bahkan di negara seperti Kanada sudah mencapai Rp200 juta. Nah jadi nampaknya kita juga perlu mengidentifikasi jadi jabatan-jabatan kerja harus di-combine antara degree engineer atau degree di bidang-bidang S1 atau S2 kita menjadi certified skill," katanya.
Dwi menekankan kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi langkah strategis untuk mencocokkan kebutuhan industri global dengan pasokan tenaga kerja berkualitas yang memiliki kualifikasi gelar sekaligus keahlian tersertifikasi.
Dengan terbukanya akses ekonomi dan tingginya daya serap pekerja ahli tersebut, KP2MI optimistis bahwa proyeksi sumbangan devisa dari pekerja migran ke depannya mampu melampaui pendapatan sektor minyak dan gas bumi.
Pada 2025, ungkap Dwi, remitansi pekerja migran Indonesia (PMI) mencapai Rp280 triliun, dengan total sekitar 290.000 tenaga kerja.
Pemerintah, lanjut dia, memiliki target yang jelas pada tahun 2026, yakni menempatkan hingga 500 ribu pekerja ahli ke berbagai negara penempatan. Dalam konteks ini, nilai remitansi PMI berpotensi meningkat bila lulusan perguruan tinggi dilibatkan untuk menjadi tenaga kerja ahli.
"Kalau 2025 kita sudah mencapai Rp280 triliun, tidak menutup kemungkinan di tahun berikutnya ke Rp500 triliun, dan suatu saat akan tembus Rp1.000 triliun." tutur Dwi Setiawan Susanto.
Sebelumnya, Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin menyampaikan bahwa remitansi ada 2025 mengalami kenaikan 14 persen dibandingkan 2024.
Menurut dia, remitansi PMI sangat besar manfaatnya untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.
"Artinya daya beli masyarakat meningkat, menumbuhkan sektor ekonomi usaha mikro, dan juga menggerakkan ekonomi keluarga. Jadi uangnya langsung masuk ke masyarakat sehingga daya beli terdongkrak salah satunya dari remitansi, di samping dari government spending dari APBN, APBD, kemudian dari proses investasi, juga ada (peran) remitansi," ucap Mukhtarudin (24/2).





