TRIBUNKALTARA.COM, TANJUNG SELOR- Pemprov Kaltara bersama perwakilan Sabah, Malaysia, menggelar kegiatan penanaman mangrove di Desa Tepian, Kecamatan Sembakung Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara hari ini, Rabu (8/4/2026).
Kegiatan penanaman mangrove ini menjadi bagian dari kerja sama lintas wilayah dalam pengembangan blue economy atau ekonomi biru berbasis potensi pesisir.
Kehadiran Gubernur Zainal Paliwang bersama rombongan disambut penuh antusias oleh masyarakat. Tampak warga memadati lokasi kegiatan. Berbaris rapi menunggu giliran bersalam-salaman dengan Gubernur Kaltara. Bahkan anak-anak sekolah turut hadir menyambut kedatangan rombongan dengan penuh semangat.
Suasana semakin seru usai perjamuan makan bersama yang menu utamanya adalah udang hasil laut Desa Tepian. Kemudian gubernur bersama rombongan menuju lokasi penanaman dan bersiap menanam bibit mangrove.
Baca juga: Wabup Tana Tidung Hadiri Welcome Dinner Blue Economy Kaltara-Sabah, Perkuat Kerjasama Lintas Wilayah
Mantan Purnawirawan Polri ini pun dengan lantang melafadzkan “Bismillah” sebelum menancapkan bibit ke dalam tanah, menandai dimulainya kegiatan penanaman mangrove secara simbolis.
Pada kesempatan ini, Zainal Paliwang menyampaikan Desa Tepian memiliki potensi besar dalam menghasilkan karbon dari ekosistem mangrove dan gambut.
Potensi ini dinilai sangat strategis untuk dikembangkan dalam skema ekonomi biru yang tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Program ini merupakan hasil kerja sama dengan wilayah Sabah, Malaysia, khususnya dalam upaya rehabilitasi dan penanaman mangrove serta pemberdayaan masyarakat pesisir.
Selain menjaga ekosistem, kegiatan ini juga diarahkan untuk membuka peluang pengelolaan sumber daya alam berbasis karbon.
Baca juga: Jaga Keamanan Perairan Perbatasan, Polda Kaltara dan Pasukan Polis Marin Sabah Jalin Kerjasama
Sebagai tahap awal, kawasan seluas kurang lebih 33.000 hektare yang mencakup wilayah gambut dan mangrove di Desa Tepian dijadikan sebagai pilot project. Area tersebut dinilai memiliki kondisi yang sangat baik untuk pengembangan mangrove secara berkelanjutan.
"Untuk di Desa Tepian ini 33.000 Hektar sebagai Pilot Project sudah termasuk mangrove dan gambut," kata Zainal, Rabu (8/4/2026).
Ke depan, program ini juga diarahkan pada potensi perdagangan karbon. Diperkirakan, pada tahun 2035 mendatang, kawasan ini sudah mulai mampu menghasilkan manfaat ekonomi dari sektor tersebut, khususnya bagi masyarakat desa.
“Program ini tidak hanya soal penanaman mangrove, tetapi juga bagaimana masyarakat bisa terlibat langsung dan mendapatkan manfaat ekonomi dari potensi yang ada,” ungkapnya
Tidak hanya Desa Tepian, program serupa juga direncanakan akan diperluas ke desa-desa pesisir lainnya di Kaltara dengan mempertimbangkan potensi masing-masing wilayah, baik dari sisi ekosistem mangrove maupun gambut.
Melalui kolaborasi lintas negara ini, diharapkan Kalimantan Utara dapat menjadi salah satu daerah percontohan dalam pengembangan ekonomi biru yang berkelanjutan, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan pesisir.
(*)
Penulis : Desi Kartika Ayu