Naskah Khutbah Jumat 10 April 2026: Tata Sebaik Mungkin Taqwamu, Ia Adalah Hasil Didikan Ramadan
ferri amiril April 08, 2026 07:19 PM

TRIBUNPRIANGAN.COM - Ketaqwaan merupakan bagian dari perjalanan religius seorang muslim semasa hidup.

Ketaqwaan sendiri meruapakn kondisi dimana seorang memiliki kesadaran penuh terdahap kehadiran Allah Subahan Wata'ala.

Hal ini juga mendorong setiap manusia untuk terus menjalankan perintah sang Pencipta serta menghindari apa-apa yang dilarang-Nya.

Selain itu, Taqwa juga biasa diartikan sebagai rasa Takut, Mencintai, serta Rasa Hormat kepada Tuhannya, yang juga merupakan sifat terpuja yang dicontohkan dalam ajaran islam.

Bahkan sifat dan pertahanan ini sering menjadi pengingat yang terus menghubungkan seseorang dengan Allah, melalui ibadah dan keteduhan, selepas bulan Ramadan.

Mengingat Ramadan baru saja berlalu meninggalkan kita, dan tak afdal bisa tidak meninggalkan sisa keteduhan untuk terus beribadah di bulan-bulan lain.

Baca juga: Naskah Singkat Khutbah Jumat 10 April 2026: Selamatkan Diri dari Bahaya Sifat Istidraj

Tata Sebaik Mungkin Taqwamu, Ia Adalah Hasil Didikan Ramadan

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ إِلٰهًا وَاحِدًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا نَبِيًّا وَرَسُولًا. الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَىٰ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ اتَّبَعَ الْهُدَىٰ. أَمَّا بَعْدُ.

فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ أُوصِينِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَىٰ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Hadirin jamaah Jumat Rahimakumullah!

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang istiqamah dalam iman dan amal saleh.

Alhamdulillah, kita telah melalui bulan Ramadan dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Namun, Ramadan bukanlah akhir dari ketaqwaan, melainkan awal dari perjalanan menuju kesempurnaan iman. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ 

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada penutupnya”. (HR. Bukhari)

Karena itu, jangan sampai amalan kita di bulan Ramadan berhenti begitu saja. Ada beberapa amal yang perlu kita lanjutkan dan pertahankan setelah Ramadan, diantaranya:

Pertama; Puasa enam hari di bulan Syawal. Puasa ini erat kaitannya dengan kelanjutan puasa Ramadan karena Rasulullah SAW pernah bersabda

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ 

“Barangsiapa berpuasa Ramadan, lalu diikuti enam hari Syawal, maka seperti puasa setahun penuh. “(HR. Muslim)

Puasa enam hari di bulan Syawal merupakan amalan yang indah dan penuh keutamaan setelah menunaikan ibadah di bulan Ramadan. Ia menjadi pelengkap yang menyempurnakan pahala, seakan menghadirkan kembali nuansa ketakwaan yang telah dibangun selama sebulan penuh. Dengan menjalankannya, seseorang belajar untuk tetap konsisten dalam kebaikan, menjaga semangat ibadah, dan memperkuat hubungan spiritual dengan penuh keikhlasan.

Baca juga: Naskah Singkat Khutbah Jumat 10 April 2026: Memaknai Waktu dan Usia yang Makin Berkurang

Kedua; Tadarus Al-Qur’an. Tadarus Al-Qur’an adalah kegiatan yang menenangkan jiwa dan menerangi hati. Setiap ayat yang dibaca bukan sekadar rangkaian kata, melainkan petunjuk hidup yang sarat makna. Dalam keheningan tadarus, seseorang dapat merasakan kedekatan yang mendalam dengan firman Tuhan, seolah-olah setiap huruf yang dilantunkan menjadi cahaya yang membimbing langkah menuju kebaikan dan ketenangan batin.Rasulullah SAW bersabda:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan menjadi syafaat bagi pembacanya di hari kiamat.” (HR. Muslim)

Ketiga; Infaq dan sedekah. Infaq dan sedekah mencerminkan keindahan berbagi dan kepedulian terhadap sesama. Melalui amalan ini, seseorang belajar untuk melepaskan keterikatan terhadap harta dan menggantinya dengan rasa syukur serta empati. Memberi tidak akan mengurangi, justru memperkaya jiwa dan membuka pintu keberkahan. Senyum penerima menjadi kebahagiaan tersendiri yang tak ternilai harganya.Allah SWT berfirman:

وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ

“Apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya.” (QS. Al-Baqarah: 110)

Keempat; Mengendalikan emosi. Mengendalikan emosi adalah bentuk kedewasaan dan kekuatan sejati dalam diri manusia. Saat mampu menahan amarah, bersabar dalam menghadapi ujian, serta tetap tenang dalam situasi sulit, seseorang sedang membangun karakter yang kokoh. Pengendalian emosi bukan berarti menekan perasaan, tetapi mengelolanya dengan bijak agar tidak melukai diri sendiri maupun orang lain.Rasulullah SAW bersabda:

 لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, melainkan yang mampu menahan diri ketika marah. (HR. Bukhari)

Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 10 April 2026: Selamatkan Diri dari Bahaya Sifat Istidraj yang Menjebak

Hadirin sidang Jumat Rahimakumullah!

Kelima;Menjaga diri dari maksiat. Hal ini tentu terasa berat. Mengingat menjaga diri dari maksiat ini memerlukan pengendalian diri yang kuat. Karena setiap manusia pasti memiliki keinginan dan godaan, namun yang membedakan adalah kemampuan untuk menahan diri dari mengikuti keinginan tersebut ketika bertentangan dengan nilai-nilai agama dan moral.

Latihan pengendalian diri ini dibiasakan dengan latihan selama bulan Ramadhan. Dengan menjaga diri dari maksiat, seseorang tidak hanya melindungi dirinya dari dosa, tetapi juga menjaga ketenangan batin dan kehormatan diri. Kehidupan pun akan terasa lebih damai dan terarah, karena dijalani dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Hal ini pada akhirnya akan membawa kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat.

Semoga kita mampu menjaga amal Ramadan dan menjadi hamba yang bertakwa. Marilah kita memperbanyak doa agar Allah menerima amal ibadah kita di bulan Ramadan, mengampuni dosa-dosa kita, dan memberikan kekuatan untuk istiqamah dalam kebaikan. Jangan biarkan semangat ibadah hanya hidup di bulan Ramadan, namun mudah-mudahan kebaikan yang dilaksanakan itu tetap lestari selamanya sekaligus sebagai didikan bulan mulia tersebut.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ ,فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.