Jakarta (ANTARA) - Bank Sampah Sakura yang berada di RW 05, Kelurahan Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan mengolah limbah minyak jelantah menjadi sabun cuci bernilai ekonomis.
“Prosesnya sekitar dua minggu, bahan yang digunakan minyak jelantah, soda api, air, pewarna makanan, dan essence,” kata anggota Bank Sampah Sakura, Sudiasmoro di RPTRA Citra Betawi Jakarta, Rabu.
Dia mengatakan pengolahan minyak jelantah menjadi sabun dilakukan melalui proses sederhana namun membutuhkan waktu sekitar dua minggu. Sabun cuci hasil olahan tersebut dijual dengan harga sekitar Rp2.500 per buah.
Selain mengolah minyak jelantah, Bank Sampah Sakura juga memanfaatkan limbah kertas koran bekas menjadi produk kerajinan seperti hiasan lampu.
“Kalau kerajinan dari kertas koran biasanya prosesnya dua sampai tiga hari, dan bisa dijual sekitar Rp250.000 sampai Rp300.000,” ujarnya.
Kegiatan bank sampah ini dilakukan secara rutin setiap dua minggu sekali, tepatnya pada hari Sabtu, dengan melibatkan warga setempat.
Menurut dia, kegiatan tersebut tidak hanya membantu mengurangi limbah rumah tangga, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan menargetkan sebanyak 579 Rukun Warga (RW) memiliki bank sampah sebagai salah satu upaya pengelolaan lingkungan yang berdampak bagi masyarakat pada 2026.
Target ini mampu mengolah sampah yang lebih solutif dan menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Jakarta Selatan (Jaksel) memiliki luas wilayah 153,9 kilometer persegi (km2) dengan 2,3 juta penduduk dan menghasilkan sekitar 1.900 ton sampah per hari.
DLH DKI Jakarta bersama instansi terkait akan terus melakukan upaya untuk meningkatkan jumlah serta efektivitas bank sampah melalui sosialisasi pemilahan sampah kepada warga dan koordinasi dengan Ketua RW untuk penyusunan pengurus bank sampah.
Inventarisasi sarana dan prasarana yang telah dibagikan, termasuk timbangan, koordinasi dengan kelurahan dalam penerbitan SK bank sampah dengan dukungan walikota/camat/lurah serta pelatihan dan pendampingan operasional bank sampah.
Selain mendukung aspek lingkungan melalui bank sampah, pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular juga diharapkan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat serta mendukung target "zero waste" pada tahun 2050.





