Ketika Kegagalan Menjadi Guru, Anwar Risyen Dari Pencari Kepiting Menemukan Jalannya ke Parlemen
Muhammad Hadi April 08, 2026 10:36 PM

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin I Aceh Utara

SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON – Seorang anak kecil di kawasan pesisir ujung timur Aceh Utara berjalan tanpa alas kaki, menembus lumpur tambak yang dingin.

Di tangannya, ia menggenggam harapan sederhana, kepiting dan udang yang kelak ditukar dengan biaya sekolah dan sekadar uang jajan.

Dari jejak-jejak kecil di lumpur itulah, kisah panjang tentang kehilangan, keteguhan, dan perjuangan hidup perlahan tumbuh, hingga akhirnya bermuara di ruang sidang DPRK Aceh Utara.

Anak itu kini dikenal sebagai H. Anwar Risyen, Wakil Ketua Komisi I DPRK Aceh Utara periode 2024–2029.

Saat duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar, ia kehilangan ayah. 

Sejak itu, hidup berubah drastis. Sebagai anak kedua dari lima bersaudara, ia dipaksa dewasa lebih cepat.

Sepulang sekolah, Anwar kecil menyusuri tambak di kawasan Seunuddon. 

Baca juga: Dari Aktivis Mahasiswa ke Parlemen, Abuzar juga Pimpin Forbes DPRK Wilayah Barat Aceh Utara

Ia mengumpulkan kepiting dan udang untuk dijual, demi membiayai kebutuhan sekolah dan sekadar membeli jajanan harian.

Rutinitas itu dijalaninya hingga remaja, membentuk karakter pekerja keras yang melekat kuat dalam dirinya.

Memasuki dekade 1990-an, ia mulai merintis usaha jual beli udang. Namun jalan yang ditempuh tidak mudah.

Usahanya sempat berjalan lancar, tetapi hanya bertahan enam bulan. 

Ia merugi karena kalah bersaing dengan para tauke bermodal besar. 

Kegagalan itu tidak hanya sekali—bahkan hingga empat kali ia jatuh dalam usaha yang sama.

Baca juga: Dari Santri lalu Pasukan Tengkorak Hitam, Kini Tgk Jinieb Ketua Komisi V DPRK Aceh Utara 

Alih-alih menyerah, Anwar menjadikan kegagalan sebagai bahan evaluasi. Ia terus mencari celah dan strategi baru.

“Saat itu saya berpikir, bagaimana orang lain bisa maju usahanya, kenapa saya tidak,” kenangnya.

Ia kemudian mengubah pola bisnis, dengan mengumpulkan udang dari luar Kecamatan Seunuddon dan memasarkannya ke pengusaha lokal hingga ke Medan.

Strategi tersebut membuahkan hasil. Usahanya berkembang pesat, bahkan saat krisis moneter melanda, ia mampu meraup keuntungan lebih dari Rp2 miliar per tahun.

Didorong terjun ke dunia politik

Pada awal 2000-an, suami Hj. Hasniah ini telah menjadi salah satu pengusaha besar di Aceh Utara, dengan modal belasan miliar serta jaringan ekspor udang ke luar negeri.

Ketika tsunami Aceh melanda pada 2004, Anwar menunjukkan kepedulian sosialnya dengan menyalurkan bantuan senilai lebih dari Rp 1 miliar bagi para pengungsi di berbagai wilayah. Pasca damai Aceh, namanya semakin dikenal.

Banyak tokoh masyarakat, termasuk eks kombatan, mendorongnya terjun ke dunia politik. 

Ia sempat menolak pada 2014, namun dorongan masyarakat tak surut—bahkan mereka yang mendaftarkannya sebagai calon legislatif.

Baca juga: Kisah Htet Hlaing, Mahasiswi Myanmar di USK, yang Merasakan Ketenangan Hidup di Aceh

Hasilnya, pada periode 2014–2019, Anwar menjadi satu-satunya anggota DPRK Aceh Utara dari Partai Gerindra.

Ia kembali terpilih pada periode 2019–2024 dan dipercaya menjabat Ketua Badan Kehormatan Dewan.

Pada Pemilu 2024, Anwar Risyen kembali meraih kepercayaan untuk periode ketiga. 

Kini, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi I sekaligus Ketua Fraksi Gerakan Kebangkitan Nanggroe Aceh, gabungan tiga partai politik.

Dari lumpur tambak hingga kursi parlemen, perjalanan hidupnya menjadi cermin bahwa ketekunan dan keteguhan mampu mengubah nasib.(*)

Baca juga: Ayahnya Gugur di Masa Konflik, Bukhari Kini Jadi Ketua Komisi IV DPRK Aceh Utara

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.