WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Pengumuman hasil Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026 tak hanya memunculkan euforia kelulusan, tetapi juga kekhawatiran baru di kalangan orang tua.
Dalam sepekan terakhir, percakapan di media sosial hingga diskusi sehari-hari menunjukkan adanya pergeseran cara pandang terhadap pendidikan tinggi dan masa depan anak.
Berdasarkan data, dari 806.242 siswa yang mendaftar SNBP 2026, hanya sekitar 178.981 siswa yang dinyatakan lolos.
Artinya, ratusan ribu calon mahasiswa lainnya harus mencari alternatif untuk melanjutkan pendidikan.
Namun, perhatian publik kini tak lagi sekadar soal kelulusan.
Diskusi berkembang ke pertanyaan yang lebih mendasar, yakni sejauh mana pendidikan tinggi masih relevan dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.
Sejumlah orang tua mulai mempertanyakan efektivitas biaya pendidikan tinggi jika tidak diiringi kesiapan kerja yang jelas.
Baca juga: Pendaftaran SNBP 2026 Resmi Dibuka, Ini Syarat dan Dokumennya
Isu pengangguran sarjana dan pekerjaan yang tidak sesuai bidang studi kembali mencuat di tengah masyarakat.
Keresahan ini juga dipicu oleh realitas bahwa profesi yang sebelumnya dianggap stabil kini tak sepenuhnya aman dari risiko pengangguran.
Kondisi tersebut mendorong orang tua untuk lebih cermat dalam menentukan arah pendidikan anak.
Influencer Annisa Herdyana menilai, terjadi perubahan signifikan dalam cara pandang orang tua terhadap pendidikan tinggi.
“Sekarang orang tua tidak hanya fokus pada kampus atau jurusan, tetapi juga mempertimbangkan apakah anaknya siap menghadapi dunia kerja,” ujar Annisa melalui pesan tertulis, Rabu (8/4/2026)
Menurutnya, ada beberapa faktor yang kini menjadi perhatian utama, seperti relevansi kurikulum dengan kebutuhan industri.
Selain itu, ekosistem pembelajaran praktis seperti program magang serta koneksi dengan dunia kerja juga menjadi pertimbangan penting.
“Pengembangan soft skills seperti komunikasi, adaptasi, dan kepemimpinan juga semakin dilihat sebagai bekal utama,” katanya.
Ia menambahkan, pendidikan tinggi kini dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar pencapaian akademik.
Karena itu, institusi pendidikan dituntut mampu menjembatani kebutuhan dunia akademik dengan dunia kerja.
Ke depan, kampus yang mampu memberikan arah karier dan kesiapan kerja sejak dini diprediksi akan menjadi pilihan utama bagi orang tua.