TRIBUNNEWSMAKER.COM - Gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang semula diharapkan menjadi langkah menuju stabilitas justru kembali memicu ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Situasi memanas setelah Israel dilaporkan melancarkan serangan di Lebanon, yang dianggap sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut.
Pemerintah Iran bereaksi keras dengan menyampaikan keberatan melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dalam komunikasi diplomatik dengan Pakistan.
Media Iran hingga Al Jazeera melaporkan bahwa Teheran mulai mempertimbangkan langkah tegas jika serangan tidak segera dihentikan.
Baca juga: Heboh di AS! Trump Dituding ‘Tak Waras’, Amandemen Ke-25 Diusulkan, Wacana Penggulingan Menggema
Garda Revolusi Iran bahkan mengeluarkan ancaman balasan sebagai respons atas dugaan pelanggaran yang dilakukan Israel.
Di sisi lain, Israel membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam cakupan perjanjian gencatan senjata.
Israel juga mengklaim telah melakukan operasi militer berskala besar di wilayah tersebut.
Sementara ketegangan terus meningkat, Pakistan berupaya mendorong semua pihak untuk menahan diri dan melanjutkan jalur diplomasi demi mencegah konflik yang lebih luas.
Seperti diketahui, Gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran diwarnai ketegangan setelah Israel dilaporkan melanggar perjanjian dengan melancarkan serangan, khususnya di Lebanon.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengangkat isu dugaan pelanggaran gencatan senjata tersebut dalam komunikasi dengan pimpinan militer Pakistan, Field Marshal Asim Munir pada Rabu (8/4/2026).
Tak hanya itu, Garda Revolusi Iran juga bersumpah akan membalas. Dalam pernyataan di Telegram, mereka menegaskan akan “menghukum Israel atas kekejaman yang telah dilakukannya di Lebanon dan pelanggaran terhadap kondisi gencatan senjata.”
Seorang pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya menyebut cakupan gencatan senjata bersifat luas.
“Gencatan senjata mencakup kawasan, dan Israel dikenal melanggar janji dan hanya akan dicegah oleh peluru,” ujarnya.
Di sisi lain, Israel membantah tudingan tersebut dan menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam cakupan kesepakatan gencatan senjata.
Militer Israel bahkan mengonfirmasi telah melancarkan “serangan terkoordinasi terbesar di seluruh Lebanon” pada hari yang sama.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengakui adanya laporan pelanggaran di sejumlah wilayah konflik.
“Pelanggaran gencatan senjata telah dilaporkan di beberapa tempat di zona konflik yang merusak semangat proses perdamaian,” tulis Sharif di X, seperti dikutip AFP.
Ia pun mendesak semua pihak untuk menahan diri. “Saya dengan sungguh-sungguh mendesak semua pihak untuk menahan diri dan menghormati gencatan senjata selama dua minggu, sebagaimana disepakati, agar diplomasi dapat mengambil peran utama menuju penyelesaian damai.”
Sharif juga menegaskan bahwa gencatan senjata seharusnya berlaku “di semua tempat”, termasuk Lebanon—berbeda dengan klaim Israel.
Di tengah ketegangan tersebut, Pakistan tetap melanjutkan upaya diplomasi. Delegasi dari Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan tiba di Islamabad pada Jumat untuk menggelar pembicaraan lanjutan.
Sharif menyampaikan apresiasi kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump karena telah menerima usulan gencatan senjata dan bersedia berunding.
“Ini adalah gencatan senjata sementara. Namun Insya Allah, gencatan senjata sementara ini akan berubah menjadi perdamaian yang berkelanjutan, dan api perang akan padam secara permanen,” ujarnya.
(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)