TRIBUNNEWSMAKER.COM - Meski tensi konflik antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan mulai mereda lewat kesepakatan gencatan senjata, dampaknya masih terasa di jalur strategis dunia.
Salah satu yang terdampak adalah aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur penting yang menjadi pintu keluar masuk minyak global.
Kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut tetap harus menghadapi prosedur pengamanan ketat dan situasi yang belum sepenuhnya stabil.
Termasuk kapal milik PT Pertamina yang hingga kini dilaporkan masih tertahan dan belum dapat melanjutkan pelayaran seperti biasanya.
Kondisi ini memicu perhatian publik karena berpotensi berdampak pada distribusi energi dan pasokan minyak nasional.
Pemerintah pun terus memantau perkembangan situasi di kawasan tersebut agar tidak mengganggu kebutuhan dalam negeri.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia turut angkat bicara terkait kendala yang dihadapi kapal Pertamina.
Ia menjelaskan sejumlah faktor yang membuat kapal belum bisa melintas, sekaligus memastikan pemerintah tengah mencari solusi terbaik untuk mengatasi situasi ini.
Baca juga: Ultimatum Donald Trump ke Iran Guncang Dunia, Harga Minyak Melonjak Tembus 113 Dolar AS per Barel
Kapal Indonesia masih belum bisa melewati Selat Hormuz padahal Amerika Serikat (AS) dan Iran saat ini telah melakukan gencatan senjata.
Terkait hal tersebut, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengurai alasannya.
Untuk diketahui, gencatan senjata antara AS dan Iran dilakukan hingga dua minggu ke depan.
Namun hingga kini kapal Pertamina milik Indonesia belum diizinkan melewati Selat Hormuz.
Perihal nasib tersebut, Bahlil menyebut bahwa komunikasi intens masih dilakukan oleh pemerintah Indonesia dengan Iran terkait dua kapal Pertamina yang belum bisa melintasi Selat Hormuz.
"Lagi dilakukan komunikasi yang intens terkait dengan dua kapal itu, insya Allah doain bisa cepat," kata Bahlil, dalam jumpa pers di Istana, Jakarta, Rabu (8/4/2026) malam.
Bahlil menyampaikan, berhubung ada jeda dua minggu dari eskalasi Timur Tengah, Indonesia berharap permasalahan yang dihadapi kapal Pertamina dapat segera selesai.
Lalu, terkait besaran minyak yang diambil Indonesia dari Selat Hormuz, Bahlil menegaskan pemerintah tidak pernah mengimpor BBM dari Timur Tengah.
"Total yang kita ambil dari Selat Hormuz untuk crude, kita kan enggak pernah impor BBM jadi dari Timur Tengah, dari Middle East, yang ada itu tinggal crude-nya saja. Crude-nya itu sekitar 20-25 persen," ujar dia.
"Dan kita sudah mampu mendapatkan penggantinya dari beberapa negara, seperti Angola, Afrika, Nigeria, Amerika, dan beberapa negara lain. Jadi, kita insya Allah sudah clear lah, insya Allah aman," imbuh Bahlil.
Sebelumnya, PT Pertamina International Shipping mengupayakan dua kapal miliknya di kawasan Teluk Arab untuk melintasi Selat Hormuz.
Langkah ini dilakukan di tengah kabar gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Dua kapal tersebut yakni VLCC Pertamina Pride yang mengangkut minyak mentah untuk kebutuhan dalam negeri dan Gamsunoro yang melayani kargo konsumen.
"Kedua kapal milik PIS yang berada di Teluk Arab saat ini masih diupayakan untuk bisa melintasi Selat Hormuz," ujar Pjs Corporate Secretary PIS Vega Pita, dalam keterangannya, Rabu (8/4/2026).
(TribunNewsmaker.com/TribunnewsBogor.com)