Harga Tempe dan Tahu Terdampak Konflik Timur Tengah, Dosen Ibitek: Perkuat Tanaman Lokal
Irfani Rahman April 09, 2026 07:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID- Harga tempe dan tahu di Indonesia ternyata ikut terdampak perang Timur Tengah karena konflik tersebut memengaruhi sistem ekonomi global, terutama pada distribusi kedelai akibat naiknya harga bahan bakar minyak. 

Harga bahan baku yang sebagian besar impor tersebut juga dipengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Dijelaskan Erini Junita Sari BA (Hons) MSc, Dosen Institut Bisnis dan Teknologi (Ibitek) Banjarmasin, Timur Tengah merupakan wilayah penting dalam perdagangan dunia, khususnya terkait minyak dan jalur pelayaran internasional.

“Ketika terjadi perang, harga minyak dunia naik, sehingga biaya transportasi termasuk pengiriman kedelai impor ke Indonesia ikut meningkat,” jelasnya, Selasa (7/4).

Distribusi global pun tidak aman sehingga harga komoditas dunia ikut naik, termasuk kedelai.

Sementara kedelai impor sangat penting karena produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan nasional.

Baca juga: Produsen Tahu dan Tempe di Kalsel Bersiap Perkecil Ukuran Produk, Kedelai di Jakarta Rp 20 Ribu/Kg

 Baca juga: BREAKING NEWS- Kecelakaan Maut di Bundaran Palam Banjarbaru, Mahasiswi UIN Antasari Meninggal

Sebagian besar kebutuhan kedelai Indonesia masih dipenuhi impor (terutama untuk industri tempe dan tahu). Ketergantungan ini membuat harga dalam negeri sangat sensitif terhadap kondisi global.

Selain kenaikan harga tahu dan tempe, dampak terburuknya bisa meliputi berkurangnya daya beli masyarakat terhadap sumber protein murah, penurunan produksi atau bahkan penutupan usaha kecil terutama perajin tempe dan tahu.

“Dampak lainnya, potensi pengangguran di sektor UMKM pangan. Juga gangguan ketahanan pangan, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang bergantung pada tempe dan tahu sebagai sumber protein utama,” kata Erini.

Masyarakat dapat menyikapi dengan mengatur pola konsumsi dan mencari alternatif lauk atau sumber protein lain seperti telur, ikan atau kacang lokal. Kemudian mendukung produk lokal agar ketergantungan impor berkurang.

“Tidak panik atau melakukan pembelian berlebihan. Juga mendorong kesadaran akan pentingnya diversifikasi pangan,” saran Erini.

Di sisi lain, pemerintah juga diharapkan memperkuat produksi kedelai lokal dan menjaga stabilitas harga agar dampaknya tidak berkepanjangan. (dea)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.