BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Harga kedelai yang menjadi bahan dasar tempe dan tahu di Kalimantan Selatan berada di kisaran Rp 11 ribu per kilogram. Tidak menutup kemungkinan angkanya naik karena di pasar tradisional DKI Jakarta sudah mencapai Rp 20 ribu.
Adanya kenaikan harga diakui distributor di Pasar Harum Manis Banjarmasin, Sony. “Hari ini Rp 10.850 per kilogram. Ada kenaikan Rp 200 dibandingkan sebelum Lebaran,” ujarnya singkat, Selasa (7/4).
Ini menjadi tantangan bagi produsen tahu dan tempe yang pastinya akan menaikkan harga atau memperkecil ukuran.
Produsen tahu padat di Jalan Abadi 3 Banjarbaru, Afrizal, memilih menaikkan harga menyikapi naiknya harga kedelai cap Amerika dan sejenisnya. “Tahu per loyang kini Rp 35 ribu, naik Rp 3.000,” ujarnya.
Berbeda dengan produsen tahu pong goreng Pak Surip, yang juga berada di Jalan Abadi 3.
Putri Surip, Novi, mengatakan pihaknya belum menaikkan harga karena masih menggunakan kedelai stok harga lama.
Baca juga: BREAKING NEWS- Kecelakaan Maut di Bundaran Palam Banjarbaru, Mahasiswi UIN Antasari Meninggal
Baca juga: Dilema Kuliah Daring
“Sekarang per biji Rp 400. Kalau per kotak Rp 120 ribu. Terakhir menaikkan harga empat tahun lalu dari Rp 250 per biji menjadi Rp 400,” kata Novi. Jika harga kedelai terus naik, dia juga akan pertimbangkan kenaikan harga.
Beda dengan Suwandi, pemilik pabrik tahu di Jalan Intan Sari 2, Kelurahan Loktabat Selatan, Kecamatan Banjarbaru Selatan.
“Kami pilih mengecilkan ukuran tahu,” ujar Suwandi yang memulai usahanya pada 1992. Sejauh ini tahu produksi Suwandi dijual ke Pasar Sentral Sekumpul Kecamatan Martapura dan Kecamatan Sungaitabuk Kabupaten Banjar.
Sementara, Gimala, pemilik pabrik tempe di Jalan Mufakat, Loktabat Selatan, Banjarbaru Selatan, belum menaikkan harga. “Kami masih jual Rp 5.000 per potong. Tapi kalau harga kedelai naik lagi, terpaksa naik juga,” ujarnya.
Adapun produsen tempe Rizki di Loktabat mengaku mengurangi ukuran tempenya sejak kedelai naik harga. “Kalau di kami, harga tetap, tapi ukuran agak kecil,” ungkapnya.
Sementara Putri Shinta, pedagang rempah dan kacang-kacangan di Pasar Bauntung, Banjarbaru, mengaku menjual kedelai dengan harga Rp 11 ribu per kilogram.
“Kedelai yang saya jual adalah kedelai impor. Soal kenaikan harga di Jawa, memang saya dengar. Semoga saja di sini tidak,” ujarnya.
Konsumen kedelai di toko Putri sebagian besar adalah produsen tempe dan susu kedelai. Dalam sehari, dia bisa menjual 4-5 karung isi 50 kilogram.
“Sedangkan kacang tanah sudah ada kenaikan harga, dari Rp 35 ribu per kilogram sekarang Rp38 ribu,” kata Putri, saat disambangi di tokonya di Blok A3/2.
Afifah, pedagang sayur, tahu dan tempe di Pasar Bauntung, mengatakan harga tahu dan tempe masih normal. Tahu ukuran sedang Rp 5.000 dan tempe ukuran kecil dan sedang Rp 2.000-Rp 5.000.
“Harga masih tetap. Kalau naik, kasihan pedagang dan pembeli. Kalau bisa jangan naik,” harapnya.
Rara, pemilik warung Dapur Palam, mengaku setiap hari memerlukan tempe sebanyak dua papan besar dan tahu ukuran besar 10 biji. Tahu dan tempe yang dibelinya belum ada kenaikan harga.
“Kalau nanti ada kenaikan, pasti akan berpengaruh terhadap harga makanan yang saya jual, karena tidak ada pilihan lain,” ujarnya.
Harga kedelai di pasar tradisional DKI Jakarta telah mengalami lonjakan menjadi Rp 20 ribu per kilogram.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan A Sidabalok menjelaskan tingginya harga kedelai dipengaruhi kondisi makroekonomi dan rantai pasokan global.
“Kenaikan harga dikarenakan adanya dinamika secara global terkait gejolak negara eksportir kedelai terbesar Amerika Serikat dan nilai tukar rupiah yang menurun,” ujarnya dalam keterangan resminya, Rabu (8/4).
Potensi kenaikan harga kedelai impor sebagai imbas perang di Timur Tengah menjadi perhatian Dinas Perdagangan (Disdag) Kalsel. Kepala Disdag Kalsel, H Ahmad Bagiawan, mengatakan kedelai di pasaran Kalsel kebanyakan impor. Sedangkan kedelai lokal yang masuk Kalsel tidak mencukupi kebutuhan.
“Sementara ini negara-negara pengekspor menahan komoditi karena saat ini lebih mementingkan keperluan dalam negeri,” ujarnya.
Mengenai kenaikan harga kedelai, saat ini diasumsikan karena adanya kondisi geopolitik yang masih memanas, harga minyak bumi naik, solar industri juga naik, mengakibatkan harga kontainer (pengiriman) naik.
Jadi, lanjutnya, perkembangan harga kedelai termasuk dalam pantauan Disdag Kalsel. Sementara ini harga di Kalsel masih tidak ada kenaikan.
Harga eceran tertinggi (HET) masih Rp 12 ribu per kilogram. Bagiawan mengatakan harga minggu lalu dan sekarang masih sama di 13 kabupaten/kota.
Sedangkan Menteri Pertanian Amran Andi Amran Sulaiman menyatakan segera memanggil importir kedelai guna merespons kenaikan harga kedelai dan memastikan kebijakan yang diambil tidak membebani masyarakat di tengah dinamika geopolitik global.
“Nanti, mungkin minggu-minggu depan (pemanggilan terhadap importir kedelai),” kata Amran usai menghadiri rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu.
Sebelumnya, Mentan meminta para importir untuk tidak menaikkan harga kedelai secara berlebihan guna menjaga stabilitas pangan. (lis/dea/ant)