ZAWAHIR, S.Pd., Guru Fisika, SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe, melaporkan dari Kota Lhokseumawe
Tidak hanya di kelas, siswa juga bisa belajar di alam. Saat siswa belajar di alam, mereka tidak hanya memahami konsep tertentu, tetapi juga belajar bagaimana membangun sikap, menghargai kehidupan, bekerja sama dengan teman, serta dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab.
Pengalaman belajar semacam ini membuat pembelajaran terasa lebih dekat, menyenangkan, dan mudah diingat oleh siswa.
Aceh yang sangat kaya dengan sumber alam, seperti gunung, sawah, lautan, dan sungai-sungai sangat cocok untuk dimanfaatkan sebagai sumber belajar, karena siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan menyenangkan. Melalui kegiatan di alam, siswa dapat mengaitkan teori yang dipelajari di kelas dengan fenomena nyata di sekitarnya, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan membantu memperjelas konsep-konsep yang teoretis.
Pembelajaran ala Sukma
SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe sudah menjalankan kegiatan tersebut ke Sungai Lhok Buloh pada Februari 2025.
Lhok Buloh adalah objek wisata pemandian sungai yang asri di Desa Cok Bedak, Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara. Lokasinya berjarak sekitar 14 km dari pusat Kota Lhokseumawe dan terkenal dengan airnya yang jernih, suasana sejuk, serta aman bagi anak-anak.
Kegiatan belajar alam di lokasi wisata ini dijalankan oleh siswa kelas X dan berkolaborasi dalam beberapa pelajaran, yaitu matematika, fisika, bahasa Inggris, dan agama. Pada saat sampai di tujuan, siswa di-briefing terlebih dahulu tentang adab ketika berada di sungai, kemudian diarahkan untuk mengerjakan tugas yang sudah dibagikan.
Pembelajaran yang dilakukan siswa meliputi: mengukur kecepatan arus sungai, lebar sungai, mengukur usia pohon, dan selanjutnya bertafakur alam atas keindahan dan kenikmatan alam semesta yang mereka rasakan.
Pada tahap awal, siswa berdiskusi dalam kelompok masing-masing untuk menentukan area yang akan diamati.
Selanjutnya, setiap kelompok melaksanakan tugasnya dengan mengaitkan materi yang diperoleh di kelas dengan praktik langsung di lapangan.
Setelah seluruh tahapan kegiatan dilaksanakan dan kemudian data dari hasil pengukuran diperoleh, masing-masing kelompok kembali berdiskusi untuk menyelesaikan perhitungan.
Setelah itu, hasil kerja kelompok dikirimkan melalui tautan ‘padlet’ yang sudah dibagikan guru.
Bentuk tugas yang diberikan adalah pembuatan laporan dalam bahasa Inggris yang menceritakan kegiatan pengamatan di Sungai Lhok Buloh. Laporan tersebut memuat cara mengukur lebar sungai, cara memprediksi kecepatan arus, serta mengaitkannya dengan pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), khususnya refleksi bertafakur dan bersyukur atas seluruh ciptaan Allah.
Keterlibatan siswa
Setelah siswa mengerjakan serangkaian aktivitas di sungai, saatnya mereka menikmati suasana sungai, berenang sambil bercanda gurau sesama mereka.
Nah, di situlah serunya belajar ‘outdoor’. Apalagi di tengah era digital seperti saat ini, anak-anak disibukkan dengan berbagai aktivitas gadget mereka.
Padahal, pembelajaran di alam terbuka sangatlah penting untuk anak-anak, karena mereka dapat berinteraksi sesama teman, bebas berekspresi. Pastinya siswa lebih dekat dengan alam dan lebih penting lagi mereka semakin kreatif dalam pemecahan masalah.
Pembelajaran yang sudah kami lakukan ini memberikan kesan sangat positif bagi siswa, yang biasanya hanya belajar di ruang kelas, di laboratorium, yang seakan-akan mempersempit ruang gerak siswa.
Namun, pada kesempatan ini, siswa terlihat lebih menikmati dan lebih senang ketika langsung terjun ke alam terbuka, meskipun terlihat sedikit santai, tetapi ketika siswa mengerjakan tugasnya tidak ada keluhan. Malah, setiap kelompok berlomba-lomba mengerjakan tugasnya. Begitu antusias dan begitu serunya belajar di alam terbuka karena dapat memberikan kesempatan kepada para siswa untuk bisa mengeksplorasi secara aktif dan bebas.
Pembelajaran di alam
Pembelajaran ‘outdoor’ atau di alam (outdoor learning) merupakan suatu jalan dalam meningkatkan kapasitas belajar siswa serta mendorong motivasi mereka untuk menjembatani antara teori di dalam buku dengan kenyataan yang ada di lapangan (Thomas; Munge, 2017).
Hal serupa juga dinyatakan oleh (Evayani, 2020) bahwa proses pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan alam sebagai media sangatlah efektif dalam menumbuhkan serta mengembangkan pengetahuan yang dimiliki karena peserta didik dapat merasakan, serta melihat langsung, bahkan dapat melakukannya sendiri.
Berdasarkan pendapat di atas bahwa pembelajaran ‘outdoor’ merupakan salah satu cara efektif untuk meningkatkan kapasitas belajar dan memotivasi siswa. Berdasarkan pengalaman di atas, ketika siswa belajar di Lhok Buloh, mereka menjadi lebih antusias, aktif bertanya, dan mampu mengaitkan konsep teoretis dengan fenomena yang mereka amati secara langsung.
Pembelajaran ‘outdoor’ juga memberi ruang bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, dan pemecahan masalah, yang sering kali sulit dicapai secara optimal melalui pembelajaran di kelas saja.
Kolaborasi antarmata pelajaran Kegiatan ‘learning in nature’ yang telah dilakukan merupakan pembelajaran kolaboratif lintas mata pelajaran yang memberi pengalaman belajar lebih utuh bagi siswa.
Melalui kegiatan di alam, siswa tidak hanya memahami materi dari satu sudut pandang, tetapi juga melihat keterkaitan berbagai mata pelajaran dalam konteks nyata.
Selain itu, pembelajaran di alam juga menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan serta kesadaran akan pentingnya menjaga alam sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.
Melalui pengalaman ini, siswa memperoleh bekal pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang relevan dengan kehidupan nyata.
Peran guru berinovasi
Alasan saya dan tim mengajak siswa belajar di alam adalah:
1) alam membantu siswa
berpikir lebih terbuka. Mereka menjadi berpikir bahwa kegiatan pembelajaran tidak harus dilakukan di dalam kelas dan dalam situasi formal. Akan tetapi, kegiatan pembelajaran bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Sehingga, saat anak-anak pulang sekolah pun, mereka akan terpacu untuk belajar dari lingkungan di sekitar rumahnya;
2) keakraban antarsiswa dan guru
Dengan suasana yang santai dan nyaman, siswa pun akan semakin rileks, terutama saat mereka hendak mengobrol dengan sesama teman maupun dengan guru.
Suasana santai inilah yang nantinya akan mampu membuat mereka menjadi semakin akrab satu sama lain dan tentunya hal ini bisa memacu kecerdasan sosialnya dan
3) dengan mengajak siswa
belajar menggunakan benda-benda di sekitar, ini akan memperluas pandangannya bahwa media pembelajaran tidak harus sesuatu yang diproduksi oleh pabrik atau harus dibeli. Namun, mereka bisa mendapatkan sumber atau media pembelajaran di mana pun, terutama dari lingkungan sekitar.
Belajar di alam terbuka dapat menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi siswa. Mereka akan merasa nyaman dan tentu saja akan sangat “me-refresh” kepenatan, kebosanan dalam belajar.
Alam telah memberikan kenyamanan kepada anak-anak, sehingga di dalam hati mereka akan timbul keinginan untuk menjaga alam ciptaan Tuhan dengan sebaik-baiknya.
Pendekatan ini bisa dijadikan salah satu pilihan oleh guru sebagai pendekatan dalam proses mengajar sehingga pembelajaran tidak terasa monoton, melainkan lebih hidup dan kontekstual.
Pada akhirnya, guru sejati adalah guru yang selalu belajar dan terus berinovasi sehingga pembelajaran yang dihadirkan bermakna dan benar-benar berdampak bagi siswa.