Kasus Dugaan Keracunan Menu MBG di Bantul, Kepala SDN Monggang Beberkan Kronologinya
Muhammad Fatoni April 09, 2026 02:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Jumlah siswa diduga keracunan menu dari Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Negeri Monggang, Kalurahan Srihardono, Kapanewon Pundong, Kabupaten Bantul, dilaporkan bertambah.

Kepala SDN Monggang, Sumarni, menuturkan bahwa menu paket MBG tersebut dikirim pihak SPPG Srihardono 1 pada Rabu (8/4/2026) sekitar pukul 08.30 WIB.

Selanjutnya, menu MBG langsung ditata agar mudah dibagikan per kelas.

"Menu yang datang langsung kami tata sesuai jumlah kelas masing-masing. Setelah jam istirahat, MBG kami bagi per kelas. Terus dimakan sama anak-anak. Tetapi siswa kelas 6 itu belum selesai makan, itu menemukan belatung di makanan MBG," katanya, saat dijumpai wartawan di SD Negeri Monggang, Kamis (9/4/2026).

Dikatakannya, sebelum selesai makan, ada satu siswa yang menemukan ulat kecil di dalam sayur pakcoy garlic.

Menu tersebut langsung dibawa ke kantor guru SDN Monggang.

Bau Menyengat

Sesampai di ruangan guru, tercium bau yang menyengat, sedangkan posisi  ompreng MBG belum dibuka.

"Terus pas ompreng dibuka kami cari yang bau yang mana. Ternyata yang bau dari menu susu. Pak guru juga langsung memencet (membuka) minuman susu itu, terus baunya sangat menyengat. Iya (kayak basi)," ujar Sumarni.

Diduga ulat tersebut berasal dari susu yang basi.

Sedangkan, susu yang didistribusikan oleh pihak SPPG merupakan susu dengan brand tertentu dan masih memiliki masa kedaluwarsa cukup lama.

Pihak sekolah langsung menindaklanjuti dan meminta anak-anak yang belum mengonsumsi MBG untuk tidak konsumsi dulu.

Menu itu selanjutnya dikumpulkan ke kantor dan akan dikembalikan ke SPPG.

Baca juga: Viral Ketua OSIS Dicopot karena Kritik MBG, 7 Fakta Klarifikasi Siswa SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta

Siswa Muntah

Tak lama kemudian ada anak yang mengalami muntah-muntah dikarenakan sempat mengonsumsi menu MBG itu.

Siswa itupun dilarikan ke Puskesmas Pundong untuk mendapatkan penanganan medis.

Beberapa siswa lainnya yang sudah mengonsumsi menu MBG itu juga turut mengalami pusing, mual dan muntah.

"Belum kembali (dari pemeriksaan Puskesmas) terus tambah lagi, tambah lagi (korban diduga keracunan menu MBG). Total kemarin ada sekitar 18 siswa (diduga keracunan menu MBG). Terus hari ini juga tambah satu siswa. Jadi total 19 siswa," papar dia.

Meski demikian, semua siswa itu sudah mendapatkan penanganan dari pihak Puskesmas Pundong dan tidak ada yang menjalani rawat inap. 

Namun, dari 19 siswa itu, sembilan di antaranya belum masuk sekolah dikarenakan masih merasa pusing.

"Kemarin, menu MBG kami sisihkan sekitar tiga porsi untuk dibawa ke Puskesmas dan dilakukan cek laboratorium. Terus semua pihak aparatur di sini, ada Bu Panewu, Koramil, dan sebagainya. Kami juga sudah laporan ke koordinator lapangan MBG-nya," ujarnya.

Adapun penerima manfaat MBG di SD Negeri Monggang sejumlah 127 yang terdiri atas 113 siswa dan 14 tenaga pendidik. 

Kala itu, tenaga pendidik di SD Negeri Monggang belum ada yang mengonsumsi MBG, dikarenakan masih sibuk mempersiapkan ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N).

MBG Disetop

Sementara itu, Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan sekaligus Koordintasi MBG, Sarjito, berujar karena satu ompreng ditemukan ulat, sehingga semua guru atau wali kelas SDN Monggang diarahkan untuk cek menu MBG siswa.

"Jadi hanya satu saja yang ada ulat. Satu itupun apakah mungkin karena dari ulat susu terus mencolot (melompat) atau bagaimana," ujarnya.

Kendati begitu, kata Sarjito, sempat ada minuman susu yang dibuka dan langsung dituangkan dalam ompreng.

Hasilnya terlihat ada ulat di dalam susu tersebut. Ia juga menyampaikan masa kedaluwarsa susu tersebut masih cukup lama.

"Setelah sini kejadian (diduga keracunan MBG), terus yang belum dikirim MBG pada disetop. Dan kemarin saya sempat backup jaga siswa kami yang dirawat di Puskesmas. Memang sempat ada dua siswa kami yang mendapatkan infus, tapi sekitar pukul 16.00 WIB kemarin sudah diperbolehkan pulang," jelas dia.

SPPG Belum Berkomentar

Ditemui terpisah, Kepala SPPG Srihardono 1, Septiyanto, mengaku belum bisa memberikan penjelasan lengkap.

Namun, saat ini, SPPG tersebut berhenti operasional sampai waktu yang belum bisa ditentukan.

"Nanti saya kirim pers rilis. Menu MBG sudah kami tarik dan dilakukan uji lab. Hasil uji labnya baru keluar 10 hari kemudian," tutup dia.

Baca juga: 208 SPPG di DIY Disetop, Pemda Apresiasi Langkah Preventif BGN

Keterangan Pemkab

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkab Bantul, Hermawan Setiaji, mengungkapkan, korban keracunan mencapai 18 siswa. Mereka telah mendapatkan penanganan di Puskesmas Pundong. 

"Dari 18 siswa itu, ada dua siswa yang langsung pulang. Kemudian, 16 siswa kami arahkan untuk periksa ke Puskesmas setempat. Dari 16 siswa, 14 siswa di antaranya, alhamdulillah beberapa jam kemudian siswa diperbolehkan pulang," katanya, saat dikonfirmasi Tribunjogja.com.

Selanjutnya, dua siswa sempat diberikan infus.

Akan tetapi, beberapa jam kemudian, dua siswa tersebut sudah diperbolehkan pulang, sehingga tidak ada siswa yang menjalani rawat inap.

Adapun dugaan sementara, kata Hermawan, keracunan berasal dari menu susu.

Namun demikian, Hermawan belum bisa memastikan penyebab keracunan itu.

Uji lab menu MBG

Saat ini, sampel susu tersebut telah dibawa untuk uji laboratorium.

"Yang diuji lab tidak hanya susu, makanannya juga sekalian diuji lab biar bisa mengetahui secara pasti penyebab keracunan itu apa. Menu pendamping susu itu ada nasi, telur, dan sayur," jelas Hermawan.

Dikarenakan kondisi tadi masih dalam penanganan perawatan, sehingga pihaknya belum mengetahui secara detail rasa susu yang sempat dikonsumsi oleh siswa diduga korban keracunan.

Kendati begitu, sebagai bentuk antisipasi penambahan korban keracunan, pihaknya telah memberikan informasi kepada seluruh sekolah penerima manfaat MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) itu bilamana merasakan gejala keracunan dapat segera melakukan pemeriksaan di Puskesmas Pundong.

"Kita belajar dari kasus terdahulu. Kan masing-masing orang punya imunitas dan meredam dampak keracunan yang tidak sama. Ada yang langsung, ada yang mungkin baru muncul beberapa jam, dan ada yang muncul setelah lewat malam hari. Jadi, kalau ada yang mual pusing langsung bawa ke Puskesmas," terangnya.

( tribunjogja.com )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.