Jakarta (ANTARA) - Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Pol Agus Suryonugroho mengatakan keberhasilan pengamanan arus mudik dan arus balik Lebaran 2026 dalam Operasi Ketupat adalah hasil dari kerja kolektif seluruh pemangku kebijakan (stake holder).
Menurut dia, keberhasilan tersebut melibatkan seluruh petugas yang terlibat di lapangan, mulai dari mengelola dan mengendalikan arus, mencatat parameter-parameter volume kendaraan, hingga memastikan pemeliharaan keamanan dan ketertiban, serta kelancaran dan ketertiban lalu lintas.
"Jadi Korlantas Polri dengan stake holder tentunya akan membuat keputusan-keputusan contraflow, one way, ini berdasarkan data driven atau traffic counting atau parameter-parameter yang ada di jalan tol, termasuk juga kita mengantisipasi yang ada di non-tol," kata Agus dalam diskusi yang digelar Koordinatoriat Wartawan Parlemen di Jakarta, Kamis.
Menurut dia, ada lima klaster pengamanan yang dilaksanakan dalam Operasi Ketupat 2026, yakni pengamanan jalur alternatif atau jalan nasional, jalan tol dan dinamikanya, tempat-tempat penyeberangan pelabuhan, tempat-tempat ibadah, dan tempat-tempat wisata.
Dalam arus mudik tersebut, menurut dia, telah terjadi arus mudik tertinggi sepanjang sejarah, yakni sebanyak 270.513 kendaraan meninggalkan Jakarta menuju Trans Jawa, Sumatera, maupun Jawa Barat, dalam satu hari. Termasuk juga arus balik tertinggi terjadi pada tanggal 24 Maret 2026, dengan sejumlah 256.318 kendaraan.
"Jadi puncak tertinggi arus mudik dan arus balik bisa kita kelola dengan baik. Kita lakukan contraflow, one way sepenggal presisi, hingga one way nasional," kata dia.
Selain itu, dia menyampaikan bahwa tingkat fatalitas korban meninggal dunia pada momen arus mudik-balik itu turun sekitar 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kemudian angka kecelakaan juga turun sebanyak 5,31 persen.
"Ini luar biasa berkat kolaborasi dan kerja sama dan kepemimpinan Bapak Kapolri yang selalu hadir di lapangan," katanya.
Untuk itu, dia berharap Operasi Ketupat ini betul-betul telah mengedepankan kemanusiaan, melalui kehadiran Polri untuk menjamin keamanan dari sisi sosial, spiritual, dan memastikan bahwa perjalanan aman dan selamat sampai tujuan.




