Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Jaenal Abidin
TRIBUNPRIANGAN.COM, KOTA TASIKMALAYA - Perajin Tahu di Kota Tasikmalaya menjerit akibat lonjakan drastis harga kedelai yang menembus kisaran Rp15.000 per kilogram.
Kenaikan harga kedelai ini diungkap perajin tahu yang berlokasi di Kampung Nagrog Kulon, Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya.
Saat ditemui di tempat pembuatannya pada Kamis (9/4/2026), perajin tahu Oding (64) nampak tengah memindahkan tahu dibalut kain merah menggunakan cetakan berbahan kayu ke tempat pendinginan.
Setiap harinya Oding dibantu beberapa pegawai lainnya mulai merebus kedelai ke wajan berukuran besar dari pukul 02.00 dinihari dan selesai sampai siang hari pukul 12.00 WIB.
Selanjutnya tahu tersebut mulai dipotong sesuai ukuran dan dimasukan kedalam wadah dan ember berisikan air.
Baca juga: Harga Plastik Mahal, Pedagang Makanan di Tasikmalaya Jadi Bimbang
Proses ini dilakukan sebelum dikirim ke Pasar Cikurubuk dan Pancasila serta warung-warung sembako di wilayah Indihiang.
"Untuk harga kedelai per kilogram awalnya Rp 8.000, tapi tiap hari naik terus, dan terakhir bapak beli Rp12.500 bahkan sampai Rp15.000 per kilogram. Terus sekarang plastik juga naik," ungkap Oding (64) ditemui TribunPriangan.com.
Meskipun mengalami kenaikan harga kedelai ia mengaku, tidak menaikan harga jual tapi memperkecil ukuran saja.
"Harga tahunya enggak dinaikkan, nanti pada enggak mau beli, paling ini diperkecil ukuran tahu," jelasnya.
Dalam sehari biasanya ia memproduksi tahu dengan bahan kedelai 1 ton, namun dengan kenaikan harga kedelai dikurangi bahan baku pembuatannya.
"Biasanya sebelum naik, produksi sampai 1 ton. Sekarang paling 5 kuintal aja enggak, paling 4 kuintal sampai 3 kuintal," pungkasnya.
Selain itu, dirinya mengungkapkan penjualan tahun pun kerap tidak habis dan sering dibawa ke rumah untuk di konsumsi bersama keluarganya.
"Kalau enggak habis paling di bawa ke rumah, karena kondisi sekarang serba mahal dan naik terus kebutuhan pokok," kata Oding.
Oding berharap pemerintah bisa segera memberikan solusi terkait kenaikan yang drastis bahan baku kedelai.
"Bingung juga mau ga produksi ga ada pemasukan, tapi produksi ukuran diperkecil karena kedelai naik terus. Moga aja ada solusi dari pemerintah," jelasnya.(*)