TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA – Kehadiran Rumah Sakit Hermina Badung, menjawab kebutuhan layanan kesehatan cepat dan intensif di tengah pesatnya perkembangan pariwisata Bali, khususnya di Kabupaten Badung.
Bahkan rumah sakit yang baru diresmikan pada Kamis 9 April 2026, diharapkan mampu memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat.
Peresmian sendiri langsung dilakukan Direktur Utama PT Medikaloka Badung, Brigjen TNI (Purn) dr. Asmoro, Sp.An. KIC, MHA, MM didampingi Dr Yulisar Khiat SE MARS SH, MH Direktur Utama PT Medika loka Hemina Tbk dan Dirut RS Hermina dr. Agnes Vianti bersama Bupati Badunh I Wayan Adi Arnawa.
Usai peresmian, dilakukan peninjauan ruangan, serta melihat layanan kesehatan yang diberikan. Untuk diketahui RS Hermina Badung ini merupakan RS ke-53 yang telah dibangun di seluruh Indonesia.
Baca juga: LONGSOR di Gitgit, 27 KK Tempekan Yeh Muncrat Terisolir Buleleng Bali, Begini Kondisinya!
Baca juga: Sang Anak Teriak Histeris, Api Muncul dan Membesar Saat Memasak di Dapur, Rumah di Sesetan Terbakar
Direktur Utama PT Medikaloka Badung, Brigjen TNI (Purn) dr. Asmoro, Sp.An. KIC, MHA, MM menegaskan bahwa sejak awal operasional, pihaknya langsung memprioritaskan layanan gawat darurat (IGD) dan intensive care unit (ICU) sebagai unggulan utama.
“Yang kami tonjolkan saat ini adalah Gawat Darurat dan ICU, termasuk perinatologi. Ini yang paling dibutuhkan masyarakat,” ujarnya usai peresmian.
Pihaknya mengaku layanan kegawatdaruratan, menjadi salah satu fokus utama RS Hermina. Dibukanya RS Hermina Badung akan siap untuk memberikan respon cepat dengan dukungan fasilitas dan tenaga medis yang terlatih.
"Jadi masyarakat tidak perlu ragu saat membutuhkan penanganan darurat," ucapnya. Dibangun pada lahan seluas 14.820 m⊃2; rumah sakit yang berlokasi di Jalan Raya Lukluk, Sempidi itu pun memiliki kapasitas 100 tempat tidur dengan lahan parkir luas. Selain itu juga ada layanan penunjang seperti laboratorium, radiologi dan farmasi.
Hal senada disampaikan Direktur RS Hernina Badung, dr. Agnes Vianti. Menurutnya, sebagian besar pasien yang datang ke rumah sakit umumnya dalam kondisi darurat sehingga layanan IGD menjadi garda terdepan.
“Pasien pertama kali datang biasanya dalam kondisi gawat darurat. Setelah itu, kami siapkan ICU untuk penanganan lebih intensif,” jelasnya.
Saat ini, RS Hermina Badung menyediakan total 100 tempat tidur yang mencakup layanan rawat inap umum hingga perawatan intensif, baik untuk dewasa, anak-anak, maupun bayi melalui fasilitas NICU.
“Tempat tidur sudah kami siapkan lengkap, termasuk ICU dewasa, pediatrik, dan NICU untuk bayi. Ini juga mendukung layanan perinatologi kami,” tambah dr. Agnes.
Pemilihan lokasi di kawasan Luluk, Badung, juga bukan tanpa alasan. Menurut dr. Asmoro, tingginya mobilitas wisatawan membuat kebutuhan layanan medis darurat menjadi krusial.
“Wisatawan datang ke Bali bukan untuk berobat ringan. Tapi bisa saja mengalami kecelakaan, stroke, atau serangan jantung. Di sinilah peran kami sangat penting,” tegasnya.
Ia juga menyebutkan, bahwa kehadiran RS Hermina Badung diharapkan dapat mendukung Bali sebagai destinasi medical tourism, sehingga masyarakat Indonesia tidak perlu lagi berobat ke luar negeri.
Terkait layanan BPJS Kesehatan, pihak rumah sakit mengaku masih dalam tahap proses akreditasi sehingga belum dapat melayani pasien BPJS untuk sementara waktu.
“Masih dalam proses. Setelah akreditasi selesai, kami akan melayani BPJS,” sambung dr. Agnes. Ke depan, RS Hermina Badung menargetkan peningkatan kapasitas hingga 200 tempat tidur. Namun, manajemen menegaskan bahwa kualitas layanan tetap menjadi prioritas utama.
“Kapasitas bisa bertambah, tapi yang paling penting adalah kualitas pelayanan, terutama di IGD dan ICU. Kami ingin jadi rujukan untuk kasus-kasus darurat, termasuk bagi wisatawan,” imbuhnya. (*)