Pangandaran Disiapkan Jadi Destinasi Kelas Dunia, Banyak Diminati Wisatawan Eropa
Machmud Mubarok April 09, 2026 08:35 PM

 

Laporan Wartawan TribunJabar.id, Nazmi Abdurahman

TRIBUNPRIANGAN.COM, BANDUNG - Sektor pariwisata Jawa Barat menghadapi tekanan sekaligus peluang di tengah perubahan tren wisatawan dan dampak konflik di Timur Tengah, yang memicu kenaikan harga tiket pesawat.

Ketua DPD Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Jawa Barat, Daniel Guna Nugraha, mengatakan tren wisata pascapandemi Covid-19 kini didominasi wisata alam dan budaya, yang justru menjadi kekuatan utama Jawa Barat.

“Sejak Covid memang minat wisatawan bergeser ke wisata alam. Jawa Barat punya potensi itu, ditambah perhatian gubernur terhadap lingkungan, ini jadi momentum,” ujar Daniel, Rabu (8/4/2026).

Menurutnya, Jawa Barat memiliki keunggulan komparatif berupa bentang alam, wisata budaya, hingga kuliner yang dekat dengan pasar Asia Tenggara, khususnya Malaysia, Singapura, dan Brunei.

Namun di sisi lain, kondisi geopolitik global turut memberi tekanan terhadap sektor pariwisata. Konflik di Timur Tengah berdampak pada jalur penerbangan internasional, terutama bagi wisatawan dari Eropa yang umumnya transit di kawasan tersebut.

“Banyak penerbangan terdampak, ada pembatalan atau penjadwalan ulang. Ini berpengaruh pada wisatawan inbound,” katanya.

Baca juga: Manjakan Wisatawan! Tahun Ini Pemkab Akan Bangun Jogging Track di Pantai Barat dan Timur Pangandaran

Baca juga: Long Weekend Libur Wafat Isa Al-Masih, Pantai Pangandaran Dipadati Puluhan Ribu Wisatawan

Selain itu, kenaikan harga avtur juga mendorong lonjakan harga tiket pesawat, baik internasional maupun domestik.

Bahkan, menurut Daniel, harga tiket dalam negeri kini cenderung tidak kompetitif dibandingkan destinasi luar negeri.

“Kenaikan bisa sekitar 200 dolar untuk tiket pulang-pergi. Ironisnya, tiket domestik kadang lebih mahal dari luar negeri, ini jadi tantangan besar,” ucapnya.

Meski demikian, situasi global juga membuka peluang baru. Wisatawan mancanegara mulai mengalihkan tujuan dari Eropa dan Amerika ke kawasan Asia Tenggara yang dinilai lebih aman dan ekonomis.

“Daripada ke Eropa dengan biaya 10 ribu dolar, mereka memilih ke Indonesia bisa tiga kali liburan dengan fasilitas lebih baik. Ini peluang yang harus kita jemput,” katanya.

Daniel menilai, Jawa Barat harus aktif mempromosikan diri di pasar internasional untuk menangkap pergeseran tersebut, terutama dengan memanfaatkan kedekatan geografis dengan negara-negara tetangga.

“Dari Singapura ke Jakarta hanya satu setengah jam. Ini sangat ideal untuk menarik wisatawan,” ucapnya.

Daniel menambahkan, daya tarik utama Jawa Barat tidak hanya pada alam, tetapi juga kuliner halal dan pengalaman wisata yang autentik.

“Mereka mencari pengalaman, bukan sekadar destinasi. Alam yang natural, desa wisata, sampai aktivitas seperti hiking dan paralayang itu jadi daya tarik,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Iendra Sofyan, menekankan pentingnya perencanaan matang untuk mendorong destinasi unggulan naik kelas, termasuk Pangandaran yang diproyeksikan menjadi destinasi wisata bahari berkelas dunia.

Menurutnya, pengembangan pariwisata harus berbasis pada konsep yang terukur, mulai dari program, anggaran, hingga indikator keberhasilan.

“Destinasi kelas dunia harus jelas parameternya, termasuk dikenal secara internasional dan mampu menarik wisatawan mancanegara,” ujar Iendra.

lendra menyebut, pengembangan tidak harus selalu dimulai dari nol, melainkan memaksimalkan potensi yang sudah ada, termasuk peningkatan fasilitas, aksesibilitas, dan penataan kawasan.

“Fokus kita sekarang kualitas. Pengunjung sudah banyak, tinggal bagaimana ditingkatkan agar bisa naik kelas,” katanya. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.