TRIBUNNEWS.COM - Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengklaim telah membunuh keponakan sekaligus sekretaris pribadi pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, dalam serangan pada Rabu (8/4/2026) di Beirut, Lebanon.
Mengutip The Guardian, dalam unggahan di media sosial pada Kamis (9/4/2026), IDF menyatakan:
“Kemarin (Rabu), IDF menyerang wilayah Beirut dan menewaskan Ali Yusuf Harshi, sekretaris pribadi sekaligus keponakan Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem.”
Harshi disebut sebagai rekan dekat dan penasihat pribadi Qassem yang berperan penting dalam mengelola serta mengamankan aktivitas kantornya.
Hingga kini, Hizbullah belum memberikan komentar atas klaim tersebut.
Sebelumnya, kelompok militan yang didukung Iran, Hizbullah, mengaku telah menembakkan roket ke arah Israel sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata AS-Iran.
Hizbullah menyatakan memiliki hak untuk membalas serangan Israel di wilayah Lebanon.
“Sebagai tanggapan atas pelanggaran perjanjian gencatan senjata oleh musuh, kami menargetkan kibbutz Israel di Manara dekat perbatasan Lebanon dengan rentetan roket pada Kamis pagi,” ujar Hizbullah dalam sebuah pernyataan, dikutip dari NDTV.
Lebanon menetapkan hari berkabung setelah serangan tersebut menewaskan lebih dari 254 orang dan melukai lebih dari 1.165 orang dalam satu hari.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam gencatan senjata antara AS dan Iran.
Namun, Pakistan sebagai mediator memiliki pandangan berbeda.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan bahwa gencatan senjata tersebut juga mencakup penghentian pertempuran di Lebanon.
Baca juga: Gencatan Senjata Kacau, Israel Serang Lebanon, Iran Membalas, Apa Langkah Trump Selanjutnya?
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menegaskan bahwa syarat kesepakatan sudah jelas.
Ia memperingatkan bahwa AS harus memilih antara mempertahankan gencatan senjata atau menghadapi perang berkelanjutan melalui Israel.
Berikut perkembangan lain perang di Iran pada hari ke-41 (9 April 2026), dikutip dari Al Jazeera:
Wakil Presiden AS JD Vance akan memimpin delegasi dalam pembicaraan dengan Iran di Pakistan yang dijadwalkan pada Jumat (10/4/2026).
Utusan Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, serta menantunya Jared Kushner, juga akan bergabung dalam pertemuan di Islamabad.
Iran sebelumnya menyatakan tidak mempercayai Witkoff dan Kushner, yang terlibat dalam pembicaraan di Jenewa saat konflik pecah.
Kepala hak asasi manusia PBB dan Komite Internasional Palang Merah (ICRC) mengecam keras serangan Israel.
“Skala pembunuhan dan kehancuran di Lebanon hari ini sungguh mengerikan,” ujar Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Türk.
“Pembantaian seperti itu, hanya beberapa jam setelah gencatan senjata dengan Iran, sulit dipercaya.”
Presiden Prancis Emmanuel Macron telah berkomunikasi dengan pemimpin AS, Iran, dan Irak untuk mendorong agar Lebanon dimasukkan dalam kesepakatan gencatan senjata.
Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengintensifkan langkah politik dan diplomatik untuk menghentikan operasi militer Israel.
Sejumlah negara regional, termasuk Oman dan Qatar, juga mengecam serangan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional.
Trump mengkritik sekutu NATO karena dinilai tidak memberikan dukungan militer langsung dalam konflik AS-Israel melawan Iran.
Gedung Putih bahkan menyebut konflik ini sebagai “ujian” yang gagal dilewati aliansi tersebut.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)