TRIBUNKALTIM.CO - Sejumlah negara mendesak agar kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran tidak hanya terbatas pada kedua negara tersebut, tetapi juga diperluas ke wilayah Lebanon.
Seruan ini muncul di tengah berlanjutnya serangan militer yang dilancarkan Israel ke wilayah Lebanon, meskipun kesepakatan penghentian konflik sementara telah diumumkan.
Perkembangan ini menambah kompleksitas konflik yang sudah melibatkan banyak pihak dan meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya perang di kawasan.
Lebanon, yang selama ini menjadi salah satu titik panas konflik regional, kembali berada dalam tekanan akibat serangan yang tidak berhenti.
Baca juga: 3 Pelanggaran Amerika Dibongkar Iran, Gencatan Senjata Terancam Bubar
Sebelumnya, pemerintah Israel melalui kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Rabu (8/4/2026) menyatakan dukungan terhadap langkah Amerika Serikat untuk menunda serangan terhadap Iran selama dua minggu.
Namun demikian, Israel secara tegas menyebut bahwa Lebanon tidak termasuk dalam cakupan kesepakatan tersebut.
Hal ini berarti operasi militer Israel di wilayah Lebanon tetap berjalan meskipun ada upaya meredakan ketegangan antara AS dan Iran.
Kondisi ini memicu reaksi keras dari berbagai negara yang menilai bahwa pengecualian Lebanon dari gencatan senjata berpotensi memperburuk situasi.
Perancis Soroti Serangan dan Sebut Gencatan Senjata Rapuh
Dari Eropa, Perancis menjadi salah satu negara yang paling vokal dalam menyoroti situasi ini.
Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Noel Barrot mengkritik keras serangan Israel yang masih berlangsung di Lebanon.
"Serangan-serangan ini semakin tidak dapat diterima karena merusak gencatan senjata sementara yang dicapai kemarin antara Amerika Serikat dan Iran," ucap Noel Barrot kepada radio France Inter.
Dalam pernyataan lanjutan, ia juga menegaskan bahwa konflik tidak boleh menjadikan Lebanon sebagai pihak yang disalahkan. Ia menyoroti peran kelompok Hizbullah yang selama ini disebut terkait dengan Iran.
"Iran harus berhenti meneror Israel melalui Hizbullah, yang harus segera dilucuti," katanya.
Barrot juga mengingatkan bahwa penghancuran Lebanon justru dapat berdampak sebaliknya terhadap situasi keamanan.
"Penghancuran Lebanon dan negaranya tidak akan melemahkan Hizbullah, justru sebaliknya, akan memperkuat," tekannya.
Selain itu, Perancis turut menunjukkan solidaritas dengan bergabung dalam hari berkabung nasional yang diumumkan di Lebanon.
Inggris hingga Australia Minta Gencatan Diperluas
Seruan agar gencatan senjata mencakup Lebanon juga datang dari Inggris. Menteri Dalam Negeri Inggris Yvette Cooper menilai bahwa kesepakatan antara AS dan Iran seharusnya berlaku lebih luas.
Pernyataan tersebut muncul di tengah laporan bahwa Israel terus melakukan serangan mematikan di wilayah Lebanon.
Selain itu, Cooper juga menyinggung isu strategis lain, yakni jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Selat ini merupakan jalur vital perdagangan global, dan rencana Iran untuk memberlakukan tarif di kawasan tersebut dinilai dapat berdampak besar terhadap ekonomi dunia.
Dari kawasan Asia Pasifik, Australia juga menyampaikan pandangan serupa. Perdana Menteri Anthony Albanese menegaskan pentingnya memperluas cakupan gencatan senjata.
"Saya tau banyak warga Australia khawatir dengan peristiwa yang terjadi di Lebanon. Ini bukan hanya soal dampak di sana, tetapi juga dampak yang dirasakan di seluruh dunia," katanya.
Spanyol dan Italia Kecam Keras Serangan Israel
Kritik terhadap Israel juga datang dari Spanyol. Perdana Menteri Pedro Sanchez mengutuk eskalasi militer yang terjadi.
"Penghinaannya terhadap kehidupan dan hukum internasional tidak dapat ditoleransi," kata Sanchez dalam pernyataannya.
Sementara itu, Italia melalui Menteri Luar Negeri Antonio Tajani menyatakan solidaritas kepada Presiden Lebanon Joseph Aoun.
Ia menegaskan bahwa serangan terhadap Lebanon tidak dapat dibenarkan.
"Kami ingin menghindari terjadinya Gaza kedua. Kami juga akan menegaskan hal ini kepada Duta Besar Israel, yang telah saya panggil ke Farnesina," katanya.
Italia juga mengecam keras serangan terhadap warga sipil, termasuk insiden yang melibatkan pasukan UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon—misi penjaga perdamaian PBB di Lebanon).
Iran dan IRGC Keluarkan Peringatan Keras
Dari pihak Iran, peringatan keras disampaikan oleh Islamic Revolutionary Guard Corps atau Korps Garda Revolusi Islam.
"Kami mengeluarkan peringatan tegas kepada Amerika Serikat, yang melanggar perjanjian, dan kepada sekutunya: jika agresi terhadap Lebanon tidak segera berhenti, kami akan memenuhi tugas kami dan memberikan tanggapan," kata IRGC melalui siaran televisi negara.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa ketegangan tidak hanya terbatas pada konflik langsung, tetapi juga berpotensi melibatkan kekuatan militer yang lebih besar.
Korban Tewas dan Situasi di Lapangan
Situasi di Lebanon dilaporkan semakin memburuk. Berdasarkan laporan terbaru, sedikitnya 255 orang tewas dan lebih dari 1.165 orang mengalami luka-luka dalam satu hari serangan pada Rabu (8/4/2026).
Pemerintah Lebanon bahkan menetapkan hari berkabung nasional sebagai respons atas tingginya jumlah korban.
Di sisi lain, kelompok Hizbullah dilaporkan membalas dengan menembakkan roket ke wilayah utara Israel. Serangan ini disebut sebagai respons terhadap dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Israel.
Perdebatan Soal Cakupan Gencatan Senjata
Perdebatan mengenai cakupan gencatan senjata terus berlanjut. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyoroti pernyataan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif terkait kesepakatan tersebut.
"Ketentuan gencatan senjata Iran-AS jelas dan eksplisit: AS harus memilih - gencatan senjata atau melanjutkan perang melalui Israel. Itu tidak bisa memiliki keduanya,” tulis Araghchi.
Namun, di sisi lain, Gedung Putih menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan tersebut.
Ancaman Eskalasi Konflik Regional
Situasi yang berkembang saat ini menunjukkan potensi eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah. Keterlibatan berbagai pihak, mulai dari negara besar hingga kelompok militan, membuat konflik semakin kompleks.
Selain itu, faktor strategis seperti Selat Hormuz—jalur utama distribusi minyak dunia—menjadi perhatian karena berpotensi terdampak konflik.
Desakan dari berbagai negara untuk memperluas gencatan senjata menunjukkan kekhawatiran global terhadap dampak yang lebih luas, baik dari sisi kemanusiaan maupun stabilitas internasional.