Sosok Perawat RSHS yang Berikan Bayi Nina Saleha ke Orang Lain, Sudah Bekerja Lebih dari 20 Tahun
Rr Dewi Kartika H April 10, 2026 11:11 AM

TRIBUNJAKARTA.COM - Seorang ibu bernama Nina Saleha (27) nyaris kehilangan bayi yang baru dilahirkannya, gara-gara ulah oknum perawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.

Oknum perawat tersebut menyerahkan bayi Nina Saleha ke orang tak dikenal.

Perawat Diduga Teledor

Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu pagi, 8 April 2026, ketika Nina hendak menjemput bayinya yang dirawat akibat kondisi sakit kuning.

Nina menuturkan, bayinya awalnya dirujuk ke beberapa rumah sakit hingga akhirnya ia memilih RSHS.

Setibanya di rumah sakit, sang bayi langsung menjalani perawatan intensif dan ditempatkan di inkubator.

Sehari sebelum kejadian, pihak rumah sakit sempat menghubunginya melalui pesan singkat dan menyampaikan bahwa bayinya sudah diperbolehkan pulang pada Rabu.

“Saya dapat kabar hari Selasa kalau anak saya sudah bisa pulang hari Rabu. Tapi saya setiap hari kesana, datang untuk memberikan asi dan menjenguk bayi,” kata Nina saat ditemui di kediamannya di Nanjung, Margaasih, Kamis (9/4/2026).

Keesokan harinya, Nina sudah berada di rumah sakit sejak pagi untuk proses kepulangan bayi. 

Ia sempat menyiapkan baju untuk digunakan bayi ketika pulang.

Namun, proses administrasi yang tak kunjung selesai membuatnya harus menunggu cukup lama. 

Nina mengaku sempat bertanya kepada perawat, namun diminta menunggu dokter.

Di momen tersebut, Nina mencoba berkomunikasi dengan ibu dari bayi pasien lain yang tengah menunggu dan wajahnya terlihat sedih setelah dipanggil oleh perawat.

“Saya tanya kenapa murung? Ibu tersebut bilang bayinya belum bisa pulang, punya masalah, ada kelainan, paru-parunya bocor. Saya cuma bilang semoga cepet sehat lagi,” kata Nina.

Di tengah penantian itu, suasana rumah sakit  justru semakin sibuk karena adanya pasien gawat darurat.

Di kondisi tersebut, Nina merasa lapar dan memperkirakan proses akan lebih lama. 

Ia dan  suaminya memutuskan keluar sebentar untuk makan.

Tak lama setelah meninggalkan ruangan, Nina mengaku merasakan firasat tidak enak. Ia pun segera kembali menuju ruang perawatan bayi.

“Ketika mau makan saya mendapat firasat, seakan ada bisikan di telinga untuk segera ke atas melihat bayi, jadi saya langsung ke atas dan memilih nggak jadi makan,” ucapnya.

Sesampainya di lorong NICU, ia melihat ibu yang tadi berbincang dengannya sedang menggendong bayi dengan selimut yang tampak familiar.

“Saya lihat selimutnya kok seperti punya anak saya. Tapi saya belum langsung curiga, sampai saya cek ke inkubator dan ternyata anak saya sudah tidak ada,” katanya.

Nina langsung menghampiri ibu tersebut dan memastikan identitas bayi yang digendongnya. 

Nina pun memastikan pakaian yang dikenakan anaknya adalah baju yang telah disiapkan olehnya.

“Pas saya lihat wajahnya, saya langsung yakin itu anak saya. Saya tarik dan bilang, Itu anak saya,” teriaknya.

Nina pun berteriak meminta bantuan petugas. 

Bayi tersebut akhirnya diambil kembali oleh perawat dan akhirnya dibawa oleh sang suami, sebelum sempat dibawa keluar lebih jauh.

“Ibu itu hanya bilang 'oh ini anak ibu ya?' Saya juga bilang 'Kalau udah tahu bukan anak ibu, kenapa dibawa?' Secara logika, seorang ibu yang melahirkan pasti ingat wajah anaknya,” ucapnya.

Nina mempertanyakan bagaimana bayi bisa dengan mudah berada di tangan orang lain tanpa prosedur yang jelas.

Bahkan ibu yang tidak diketahui identitasnya pun hanya diam membisu, tanpa ada keluar kata maaf.

Menurutnya, saat itu belum ada surat kepulangan resmi, bahkan gelang identitas bayi disebut sudah dilepas.

“Harusnya kan ada prosedur, ada surat pulang. Ini belum ada, tapi anak saya sudah dipegang orang lain. Gelangnya juga sudah diputus, ketika ditanya kenapa diputus, kata susternya supaya nggak terkena virus dari luar,” kata Nina.

Nina menduga adanya kelalaian dalam sistem pengawasan di rumah sakit, terutama dalam proses penyerahan bayi kepada keluarga.

Ia juga mengaku kecewa karena perawat sempat menyebut bayi diberikan kepada perempuan tersebut karena dipanggil atas nama dirinya, namun tidak ada respons.

“Kalau saya tidak ada, harusnya bayi diamankan dulu, bukan langsung diberikan ke orang lain. Kalau saya telat sedikit saja, mungkin anak saya sudah dibawa pergi,” katanya.

Sosok Perawat

Perawat RSHS Bandung yang diduga nyaris menukar bayi Nina Saleha dinonaktifkan sementara.

Dalam video yang diunggah Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi dalam Chanel YouTube nya, Kamis 9 April 2026 malam, Asisten manajer keperawatan RSHS Bandung, Arif, nampak gelagapan saat ditanya sanksi apa yang diberikan kepada perawat tersebut.

"Sanksi yang diberikan apa?" tanya Dedi Mulyadi. 

"Sementara dinonaktifkan dari pelayanan, untuk dikaji lebih mendalam lagi, dengan komite keperawatan dianalisis lebih dalam," jawab Arif. 

Mendapat jawaban yang belum sesuai, Dedi kemudian mengulang pertanyaannya. 

"Sanksi apa?" tanya Dedi lagi. 

"Sanksi disiplin, dalam regulasi kalau hasil analisis terkait kompetensi, kalau jelas kelalaian akan dicabut sampai permanen tergantung kasusnya, kalau sengaja bisa diberhentikan," jawab Arif. 

Perawat yang diduga menyerahkan bayi pasien atas nama Nina Saleha kepada orang lain itu, diketahui sudah bekerja sebagai perawat lebih dari 20 tahun dan bersatus sebagai ASN. 

"Perawatnya sudah ASN, lebih dari 20 tahun (jadi perawat)," ujar Arif. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.