Urgensi Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Lombok
Idham Khalid April 10, 2026 12:05 PM

Oleh: Salman Faris

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Ikhtiar penyelenggaraan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pulau Lombok pada tahun 2026 merupakan sebuah panggilan sejarah yang tidak dapat diabaikan oleh seluruh jajaran pengurus pusat maupun daerah. Kesungguhan kuat Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat (PWNU-NTB) untuk menjadi tuan rumah didasarkan pada kesiapan struktur organisasi yang telah mencapai kematangan lahir dan batin. Seluruh elemen mulai dari jajaran mustasyar, syuriah, tanfidziyah, hingga lembaga otonom menyatakan soliditas penuh untuk menyukseskan perhelatan tertinggi organisasi tersebut.

Kesiapan tersebut didukung oleh rekam jejak yang sangat meyakinkan dalam menyelenggarakan berbagai agenda besar berskala nasional seperti Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama pada masa sebelumnya. Keberhasilan agenda masa lalu tersebut memberikan jaminan bahwa infrastruktur serta sumber daya manusia di bumi bertuah barokah ini telah siap menyambut ribuan nahdliyin dari seluruh penjuru dunia.

Penyelenggaraan Muktamar di Lombok memiliki urgensi yang sangat fundamental dalam rangka memperkuat dan memperluas pengaruh nilai moderasi Islam Nusantara. Pemilihan lokasi di luar Jawa menjadi langkah strategis untuk membuktikan bahwa Nahdlatul Ulama merupakan representasi Islam Indonesia secara utuh dan menyeluruh. Langkah ini sangat krusial untuk mengikis persepsi Jawa-sentris yang seringkali muncul dalam dinamika organisasi selama satu abad terakhir.

Dengan menghadirkan pusat gravitasi organisasi di wilayah Lombok (bagian timur cahaya Indonesia), Nahdlatul Ulama sedang menegaskan komitmen pemerataan peradaban yang inklusif serta merata di seluruh wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Momentum tahun 2026 harus menjadi titik tolak bagi organisasi untuk semakin kokoh sebagai pilar kebangsaan yang mampu menyentuh akar rumput di wilayah terbit matahari Indonesia.

Argumen sejarah peradaban menjadi salah satu fondasi utama dalam mendasari urgensi penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU di tanah Sasak. Keterhubungan antara Jawa dan Lombok telah terjalin sangat erat sejak era keemasan Kerajaan Majapahit pada abad ke-14. Dokumen historis dalam Kitab Nagarakretagama karya Mpu Prapanca secara eksplisit menyebutkan wilayah Lombok sebagai bagian integral dari jaringan kekuasaan Nusantara dengan sebutan Lombok Mirah Sasak Adi.

Ungkapan filosofis tersebut mengandung makna mendalam bahwa kejujuran merupakan permata kenyataan yang sangat utama dalam struktur sosial masyarakat setempat. Hubungan politik dan budaya pada masa lampau tersebut membuktikan bahwa Lombok bukan wilayah asing bagi peradaban Jawa yang menjadi basis utama Nahdlatul Ulama. Sejarah mencatat bahwa integrasi sistem birokrasi dan tatanan sosial di kerajaan lokal seperti Selaparang dan Pejanggik sangat dipengaruhi oleh model pemerintahan dari tanah Jawa.

Selain keterkaitan administratif, akar genealogis masyarakat Sasak memiliki hubungan biologis yang sangat kuat dengan penduduk di Jawa. Terdapat teori sejarah yang menyatakan bahwa gelombang migrasi besar terjadi pada masa pemerintahan Raja Rakai Pikatan dari Kerajaan Mataram Kuno menuju Pulau Lombok. Migrasi tersebut mengakibatkan terjadinya asimilasi kebudayaan serta pernikahan lintas etnis yang membentuk karakteristik suku Sasak modern.

Persamaan dalam pola pemukiman tradisional yang menempatkan masjid dan kuburan sebagai pusat aktivitas sosial religius menjadi bukti nyata adanya kemiripan sosiologis antara desa-desa di Jawa dan Lombok. Kondisi ini menciptakan ikatan emosional dan persaudaraan lintas pulau yang sangat kuat sehingga penempatan Muktamar ke-35 NU di Lombok terasa seperti pulang ke rumah saudara sendiri. Ikatan historis ini harus dimaknai sebagai modal sosial yang sangat berharga untuk mempererat ukhuwah wathaniyah dalam bingkai jam'iyah.

Sejarah keagamaan juga memberikan argumen yang sangat tajam terkait keterhubungan spiritual antara Jawa dan Lombok. Proses Islamisasi di Pulau Lombok pada abad ke-16 dipimpin langsung oleh Sunan Prapen yang merupakan putra dari Sunan Giri Gresik. Ekspedisi dakwah yang mendarat di pantai utara Lombok tersebut membawa corak Islam yang moderat, toleran, serta sangat menghargai kearifan lokal.

Pendekatan kultural yang dilakukan oleh para mubaligh dari Giri ini identik dengan semangat dakwah Wali Songo yang selama ini menjadi pedoman bagi warga Nahdlatul Ulama. Melalui dakwah yang persuasif, ajaran Islam dapat diterima dengan damai oleh para penguasa lokal tanpa menghilangkan tradisi lama yang sudah mengakar. Penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU di tempat yang menjadi saksi sejarah penyebaran Islam dari tanah Jawa ini akan memberikan energi spiritual yang luar biasa bagi penguatan ideologi Ahlussunnah wal Jama'ah.

Fenomena keagamaan unik di Lombok seperti paham Wetu Telu merupakan bukti konkret dari dialektika antara ajaran Islam dan budaya lokal yang sangat mirip dengan kategori abangan di Jawa. Praktik keagamaan ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai tasawuf dan sufisme dapat berakulturasi dengan struktur kepercayaan masyarakat tradisional. 

Meskipun dalam perkembangannya masyarakat telah bertransformasi menuju pengamalan Islam yang lebih sempurna melalui gerakan Waktu Lima, sisa-sisa sinkretisme budaya tersebut tetap menjadi bukti ketahanan budaya yang luar biasa. Transformasi religius tersebut seringkali dilakukan secara bertahap melalui peran sentral para Tuan Guru yang menimba ilmu di Mekkah serta mendirikan pesantren dengan model pendidikan yang searah dengan tradisi pesantren di Jawa. Oleh karena itu, Lombok secara teologis merupakan cermin dari fleksibilitas Nahdlatul Ulama dalam menjaga tradisi lama yang baik serta mengambil tradisi baru yang lebih baik.

Literatur klasik dalam bentuk naskah Babad Lombok memperkuat alasan kebudayaan mengapa Muktamar ke-35 NU harus dilaksanakan di Lombok. Sebagian besar naskah kuno milik masyarakat Sasak ditulis menggunakan bahasa Jawa Madya atau Kawi dengan aksara Jejawan yang sangat identik dengan aksara Carakan di Jawa. 

Penggunaan media tulis ini membuktikan adanya kepemimpinan intelektual dan pertukaran pengetahuan yang sangat intensif antara para ulama di kedua pulau selama berabad-abad. Isi dari Babad Lombok tidak hanya menceritakan silsilah para raja, tetapi juga mengandung ajaran etika serta ekosufisme yang sangat luhur. Nilai-nilai seperti zuhud dan mahabbah dalam naskah tersebut mengajarkan manusia untuk menghormati seluruh ciptaan Tuhan serta menjaga harmoni dengan alam semesta. Literasi yang kaya ini menjadi bukti bahwa masyarakat Lombok memiliki kedalaman intelektual yang sejalan dengan tradisi keilmuan kitab kuning yang dijaga ketat oleh Nahdlatul Ulama.

Sejarah kehadiran organisasi Nahdlatul Ulama secara formal di Lombok dimulai pada tahun 1930-an melalui mandat langsung dari Rais Akbar Hadratusy Syaikh Hasyim Asy'ari. Penunjukan Syaikh Abdul Manan sebagai Konsul NU pertama di wilayah ini menandai dimulainya pengorganisasian ulama tradisional yang sangat sistematis di wilayah Nusa Tenggara. 

Peran strategis ulama keturunan Arab tersebut kemudian dilanjutkan oleh tokoh-tokoh karismatik seperti Tuan Guru Faisal yang memiliki hubungan sangat takzim dengan tokoh-tokoh nasional seperti KH Abdurrahman Wahid. Hubungan harmonis antara ulama lokal dan pusat selama puluhan tahun ini menunjukkan bahwa Lombok telah lama menjadi basis pertahanan ideologi organisasi yang sangat loyal. Penempatan Muktamar ke-35 NU di Lombok merupakan bentuk apresiasi tertinggi atas loyalitas serta dedikasi para ulama Sasak dalam menjaga panji Nahdlatul Ulama di wilayah timur Nusantara.

Hubungan antara Nahdlatul Ulama dan Nahdlatul Wathan sebagai organisasi lokal terbesar di Nusa Tenggara Barat juga menjadi alasan sosiologis yang sangat kuat. Meskipun keduanya memiliki struktur organisasi yang berbeda, namun secara ideologis kedua lembaga ini berada dalam satu napas perjuangan Ahlussunnah wal Jama'ah. Pendiri Nahdlatul Wathan, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, tercatat pernah memimpin Nahdlatul Ulama di wilayah Sunda Kecil pada masa awal kemerdekaan. 

Kesamaan mazhab Syafi'i dalam bidang fiqih serta Asy'ariyah dalam bidang akidah menciptakan harmoni sosial yang sangat stabil di tengah masyarakat. Dukungan penuh dari keluarga besar Nahdlatul Wathan terhadap rencana penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU merupakan sinyal positif bagi terciptanya persatuan ulama di tingkat nasional. Sinergi antara organisasi nasional dan lokal ini akan menjadi contoh nyata bagi daerah lain dalam membangun ekosistem dakwah yang kondusif.

Secara geopolitik organisasi, Lombok dipandang sebagai daerah yang paling netral di luar Pulau Jawa untuk menyelenggarakan forum sebesar Muktamar NU. Kondisi politik internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang sempat mengalami dinamika ketegangan memerlukan suasana pendingin yang tidak terpengaruh oleh faksi-faksi dominan di tanah Jawa. 

Kesepakatan islah yang terjadi di Pondok Pesantren Lirboyo pada akhir tahun 2025 memberikan mandat untuk segera melaksanakan Muktamar NU dalam suasana yang damai dan bermartabat. Lombok menawarkan atmosfer yang tenang dengan dukungan masyarakat yang sangat ramah serta infrastruktur pariwisata yang sangat memadai. Keberadaan tokoh sepuh seperti Tuan Guru Haji Lalu Turmuzi Badaruddin atau Datok Bagu sebagai figur jangkar memberikan jaminan moral bagi kesuksesan acara tersebut. Beliau merupakan simbol kearifan yang mampu menyatukan berbagai perbedaan pandangan di dalam tubuh organisasi.

Urgensi penyelenggaraan di Lombok juga berkaitan erat dengan visi organisasi dalam menyongsong abad kedua eksistensinya. Nahdlatul Ulama harus berani melangkah lebih jauh dari sekadar organisasi nasional menjadi kekuatan peradaban global yang diperhitungkan dunia. Dengan mengadakan Muktamar ke-35 NU di wilayah yang dikenal sebagai negeri seribu masjid, organisasi ini sedang mengirimkan pesan diplomasi internasional tentang model Islam yang damai dan toleran.

Tema-tema strategis seperti penguatan ekonomi kerakyatan melalui koperasi serta pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah dapat diimplementasikan secara nyata di tengah masyarakat agraris dan pariwisata Lombok. Muktamar NU di Lombok sangat berpotensi dapat menghasilkan rekomendasi konkret yang mampu menjawab tantangan transformasi digital tanpa meninggalkan akar tradisi pesantren. Transformasi pendidikan pesantren yang adaptif terhadap zaman harus menjadi prioritas utama agar kader nahdliyin mampu bersaing di kancah global.

Penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU di Lombok juga dapat menjadi pesan yang jelas terkait keberpihakan dan komitmen kuat NU dalam pengentasan kemiskinan dan pemutusan garis kesenjangan kesejahteraan. Komitmen sejalan dengan misi organisasi untuk hadir sebagai solusi bagi kesejahteraan umat melalui program pembangunan ekonomi inklusif. 

Selain aspek ekonomi, Muktamar ini juga akan memperkuat semangat nasionalisme serta kedaulatan wilayah di daerah-daerah luar Jawa. Pesan tentang finalitas Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pancasila akan bergema lebih keras ketika disuarakan dari bumi Lombok yang memiliki sejarah perlawanan panjang terhadap kolonialisme. Heroisme para ulama dalam Babad Praya menunjukkan bahwa semangat bela negara telah lama menyatu dengan ajaran agama di tanah Lombok.

Keterhubungan antara Jawa dan Lombok melampaui jarak geografis karena kedekatan hati serta kesamaan visi peradaban. Fakta bahwa aksara, bahasa, dan ritual keagamaan di Jawa dan Lombok memiliki akar yang sama tidak boleh dianggap sebagai kebetulan sejarah semata. Hal tersebut merupakan garis takdir yang menempatkan Lombok sebagai penyangga utama peradaban Islam di wilayah timur Indonesia yang harus segera diberikan panggung nasional melalui Muktamar ke-35 NU.

Saya meyakini bahwa kesuksesan perhelatan Muktamar ke-35 NU di Lombok, nantinya akan menjadi standar baru bagi penyelenggaraan forum-forum tingkat tinggi organisasi di masa depan yang lebih inklusif dan tidak terpusat. Nahdlatul Ulama sedang melakukan desentralisasi peradaban yang akan memperkuat struktur organisasi hingga ke tingkat ranting di seluruh pelosok negeri. Dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah serta organisasi keagamaan lain di wilayah Nusa Tenggara Barat, Muktamar ke-35 NU dipastikan akan menjadi muktamar paling damai dan produktif sepanjang sejarah. 

Rekonsiliasi nasional serta penguatan basis ideologi Aswaja akan menjadi hasil utama yang akan dibawa pulang oleh para kiai dan delegasi ke daerah masing-masing. Harapan besar ini digantungkan pada keberanian para pemimpin organisasi di Jakarta untuk segera menetapkan Lombok sebagai tuan rumah resmi dalam forum Konferensi Besar nantinya.

Penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU di Lombok merupakan bentuk nyata dari penerapan prinsip rahmatan lil alamin dalam konteks pembangunan nasional yang berkeadilan. Nahdlatul Ulama menunjukkan bahwa setiap jengkal tanah di Nusantara memiliki nilai strategis yang sama dalam memajukan peradaban umat manusia. Karena itu, urgensi Muktamar ke-35 NU di Lombok adalah tentang bagaimana menghormati masa lalu Jawa-Sasak yang gemilang sambil membangun jembatan menuju masa depan peradaban global.

Keputusan untuk melaksanakan Muktamar ke-35 NU di bumi Sasak lebih besar daripada hanya melihatnya sebagai pemilihan lokasi koordinat di peta, karena hal tersebut bernilai sebagai pemosisian diri dalam arus sejarah yang benar. Kekuatan literasi naskah Babad, legitimasi mandat dari Hadratusy Syaik Hasyim Asy'ari, hingga semangat islah Lirboyo semuanya menunjuk ke satu arah, yaitu Lombok.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.