Sosok Didik Purwanto Jaga Ludruk Tetap Hidup, Dari Panggung Tradisi Kini Go Digital 
Wiwit Purwanto April 10, 2026 01:32 PM

 

SURYA.CO.ID JOMBANG - Di tengah arus deras hiburan modern, panggung ludruk di Kabupaten Jombang tetap menyala.

Denting kendang, alunan gamelan, dan dialog khas yang sarat pesan moral terus bergema, menandai bahwa kesenian rakyat ini belum kehilangan tempat di hati masyarakat. 

Di balik ketahanan itu, berdiri sosok yang setia menjaga warisan budaya, yakni Didik Purwanto.

Penerus Ludruk Budhi Wijaya

Didik bukan nama baru dalam dunia ludruk. Ia merupakan penerus Ludruk Budhi Wijaya, kelompok seni yang telah berdiri sejak 1985. 

Grup ini dirintis oleh ayahnya, Sahid, seorang maestro ludruk yang dikenal luas di kalangan seniman tradisional Jombang. 

Baca juga: Jombang Jadi Rumah Awal Kelahiran Ludruk: Jejak Lerok dan Besutan yang Mulai Redup dari Ingatan

Sejak 2010, tongkat estafet kepemimpinan beralih ke Didik, yang kemudian mengemban tanggung jawab besar menjaga keberlangsungan grup tersebut.

Di bawah kepemimpinannya, Ludruk Budhi Wijaya tidak sekadar bertahan, tetapi juga beradaptasi. 

Didik menyadari bahwa tantangan terbesar kesenian tradisional saat ini bukan hanya soal panggung, melainkan perubahan pola konsumsi hiburan masyarakat. 

"Karena itu, saya mulai membawa ludruk masuk ke ruang digital, menjangkau penonton yang lebih luas, khususnya generasi muda," ucap Didik kepada Tribunjatim.com pada Jumat (10/4/2026). 

Langkah tersebut dilakukan tanpa meninggalkan akar tradisi. Cerita-cerita yang diangkat tetap mengandung nilai-nilai sosial dan kritik yang menjadi ciri khas ludruk.

Baca juga: Wayang Topeng Panji, Media Belajar Dokumentasi Budaya di Taman Budaya Jatim

"Namun, kemasannya disesuaikan dengan isu-isu aktual dan bahasa yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat saat ini. Dengan cara itu, ludruk tetap relevan tanpa kehilangan identitasnya," ujarnya. 

Bagi Didik, ludruk bukan sekadar seni pertunjukan. Ia memandangnya sebagai bagian dari jati diri budaya yang harus dijaga keberadaannya.

Komitmen itu terlihat dari konsistensinya mempertahankan aktivitas pementasan, meskipun berbagai tantangan kerap menghadang, mulai dari keterbatasan dana hingga menurunnya minat generasi muda terhadap seni tradisional.

Upaya tersebut tidak berjalan sendiri. Didik juga berperan sebagai penggerak komunitas, merangkul generasi muda untuk terlibat langsung dalam dunia ludruk. 

"Saya percaya bahwa keberlanjutan kesenian ini sangat bergantung pada regenerasi pelaku seni yang memahami sekaligus mencintai tradisi," bebernya. 

Atas dedikasinya itu, Didik Purwanto dinilai sebagai sosok yang layak mendapat apresiasi. Dalam ajang PWI Jombang Award 2026, yang digelar di Hotel Yusro, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, pada Rabu (8/4/2026) malam. 

Didik dianugerahi penghargaan “Pilar Pelestari Ludruk Kabupaten Jombang”. Penghargaan tersebut diberikan kepada individu yang dinilai memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan kesenian ludruk di tengah perubahan zaman.

Bagi PWI Jombang, penghargaan tersebut bukan sekadar simbol, melainkan pengakuan atas peran strategis seorang pelestari budaya.

"Sosok seperti Didik dipandang sebagai fondasi yang menjaga agar tradisi tetap berdiri kokoh, tidak tergilas oleh perkembangan zaman yang serba cepat," kata Muhammad Mufid, Ketua PWI Jombang saat dikonfirmasi. 

Bagi masyarakat Jombang, keberadaan Ludruk Budhi Wijaya menjadi bukti bahwa seni tradisional masih memiliki ruang untuk hidup dan berkembang. 

"Selama ada individu yang bersedia menjadi pilar, seperti Didik Purwanto, maka harapan akan tetap lestarinya ludruk bukanlah sekadar angan," harap Mufid. 

Di panggung sederhana maupun layar digital, cerita-cerita ludruk terus dituturkan. Dan di baliknya, ada tekad yang tak lekang oleh waktu: menjaga warisan budaya agar tetap hidup, berbicara, dan dimiliki oleh generasi yang akan datang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.