TRIBUNBATAM.id - Harta kekayaan konglomerat asal Kalimantan Barat Prajogo Pangestu sebesar 23,1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 394 triliun atau 93 kali APBD Batam 2026.
Forbes Real Time Billionaires List pada awal April 2026 merilis besaran harta kekayaan Prajogo Pangestu per Kamis (9/4/2026) pukul 20.40 WIB.
Dengan demikian, Prajogo Pangestu menjadi orang terkaya di Indonesia versi Forbes.
Dibandingkan APBD Batam 2026, kekayan pendiri PT Barito Pacific itu jauh di atasnya.
Seperti diketahui, APBD Batam 2026 sebesar Rp 4,18 triliun.
Kekayaan Prajogo Pangestu juga masih di atas anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) 2026.
Pemerintah mengalokasikan Rp 335 triliun untuk MBG 2026 dengan target 82,9 juta penerima.
Dengan capaian itu, Prajogo mengungguli sejumlah nama besar, seperti pemilik BCA dan pendiri Djarum, Budi Hartono, serta pendiri perusahaan tambang batu bara PT Bayan Resources, Low Tuck Kwong.
Budi Hartono tercatat memiliki kekayaan 17,6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 300 triliun, sedangkan Low Tuck Kwong sebesar 17,3 miliar dollar AS atau sekitar Rp 295 triliun.
Sementara itu, posisi berikutnya ditempati oleh Anthoni Salim dari Salim Group dan Tahir and family.
Anthoni Salim memiliki kekayaan sekitar 11,9 miliar dollar AS atau Rp 203 triliun, sedangkan Tahir and family sebesar 9,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 169 triliun.
Lalu siapa Prajogo Pangestu?
Ia merupakan anak dari seorang pedagang karet.
Prajogo Pangestu membangun perjalanan bisnisnya dari bawah sampai akhirnya menjelma menjadi salah satu tokoh penting di industri petrokimia dan energi Indonesia.
Karier bisnis Prajogo Pangestu dimulai pada akhir 1970-an melalui sektor kehutanan.
Prajogo Pangestu merintis usaha kayu yang kemudian berkembang menjadi Barito Pacific Timber.
Perusahaan tersebut mencatatkan tonggak penting saat melaksanakan penawaran saham perdana (IPO) pada 1993.
Seiring perubahan arah bisnis dan pengurangan porsi usaha kayu, nama perusahaan resmi diubah menjadi Barito Pacific pada 2007.
Transformasi besar terjadi pada tahun yang sama ketika Barito Pacific mengakuisisi 70 persen saham perusahaan petrokimia terdaftar, Chandra Asri.
Langkah ini menandai ekspansi signifikan grup usaha tersebut ke sektor petrokimia.
Pada 2011, Chandra Asri bergabung dengan Tri Polyta Indonesia, memperkuat posisinya sebagai salah satu produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Tanah Air.
Pada tahun yang sama, perusahaan energi asal Thailand, Thaioil, masuk sebagai pemegang 15 persen saham di Chandra Asri.
Ekspansi bisnis berlanjut dalam beberapa tahun terakhir.
Setelah membawa perusahaan pertambangan batu bara miliknya, Petrindo Jaya Kreasi, melantai di bursa saham pada 2023, Prajogo kembali mencatatkan anak usaha di sektor energi terbarukan, Barito Renewables Energy, pada akhir tahun yang sama.
Sementara itu, Chandra Asri memisahkan anak usahanya, Chandra Daya Investasi, yang kemudian diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia pada 2025.
Di luar kiprahnya sebagai pendiri Barito Pacific Group, Prajogo Pangestu saat ini menjabat sebagai Komisaris Utama perusahaan tersebut.
Berdasarkan keterangan di laman resmi Barito Pacific, ia sebelumnya pernah menjabat sebagai Komisaris Utama PT Tri Polyta Indonesia Tbk. pada periode 1999–2010.
Ia juga tercatat sebagai anggota Dewan Komisaris PT Astra International Tbk. pada 1993–1998, Direktur Utama PT Chandra Asri pada 1990–1999, Direktur Djajanti Timber Group pada 1969–1976, serta Direktur Utama Perusahaan pada 1977–1993, dikutip dari laman Barito Pacific.
Perjalanan panjang Prajogo Pangestu mencerminkan transformasi bisnis yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Mulai dari industri kayu, petrokimia, pertambangan, hingga energi terbarukan. Ekspansi lintas sektor tersebut menempatkannya sebagai salah satu figur sentral dalam lanskap industri nasional.(kompas)