Sosok Ezra Timothy Nugroho, Alumni UGM Peneliti Pertama yang Riset DNA Purba di Antartika 57 Hari
Weni Wahyuny April 10, 2026 03:45 PM

TRIBUNSUMSEL.COM - Mengenal sosok Ezra Timothy Nugroho, alumni Program Studi Biologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang menuai prestasi di kanca Internasional.

Ezra berhasil menyelesaikan penelitiannya mengenai "Sedimentary Ancient DNA" atau DNA purba dari sedimen bawah laut di kutub selatan selama 57 hari.

Ezra menjadi satu-satunya peneliti asal Indonesia di antara 22 peneliti mancanegara dalam ekspedisi tersebut.

Penelitian Ezra ini diklaim sebagai yang pertama kali dilakukan untuk mendeteksi DNA purba spesies moluska di dasar laut Antartika. 

Dari hasil riset awal, Ezra berhasil mendeteksi keberadaan spesies hewan laut dari sampel sedimen yang berumur antara 6 hingga 3.500 tahun yang lalu.

Baca juga: Adila Nadya Soraya Mahasiswa Universitas Bidar Delegasi Indonesia di Global Education Turkiye 2026

Lantas siapa sebenarnya sosok Ezra?

Ia adalah Ezra Timothy Nugroho, alumni Program Studi Biologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM). 

Bekal ilmu biologi yang kuat membawanya terbang ke Australia untuk mendalami Oseanografi dan Biologi Kelautan.

Melansir dari laman Linkedinnya, saat ini, Ezra tercatat tengah menempuh studi S3 di Institute for Marine and Antarctic Studies, University of Tasmania, Australia.

Sebelum melangkah ke kancah internasional, Ezra merupakan figur aktif di Fakultas Biologi UGM.

Ezra tercatat pernah menjadi asisten pengajar di dua laboratorium krusial, yaitu Laboratorium Ekologi (2023) dan Laboratorium Fisiologi Hewan (2022).

Di sana, ia bertanggung jawab membimbing mahasiswa program reguler maupun International Undergraduate Program (IUP).

Pada tahun 2022, ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Marine Study Club Biogama.

Di bawah kepemimpinannya, ia berhasil mengoordinasikan pengembangan sumber daya manusia serta menjadi otak di balik berbagai agenda besar, termasuk peringatan Oceans Day.

Penelitian Tentang DNA

Sejak Desember 2025, Ezra dipercaya mengemban peran dalam Professional Master Contract di University of Tasmania (UTAS), Australia. 

Berbasis di Hobart, ia terlibat langsung dalam operasional laboratorium dengan standar Good Laboratory Practice (GLP) yang ketat.

Di usianya yang ke-25 tahun, Ezra berkesempatan mengikuti penelitian dan ekspedisi ilmiah selama 57 hari di Antartika. 

Keterlibatan Ezra bermula sejak ia menempuh studi magister di Institute for Marine and Antarctic Studies, University of Tasmania, Australia.

Baca juga: Pusri Raih Proper Hijau dari KLH/BPLH 2024-2025, Konsisten Jaga Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan 

Ia bercerita bahwa kesempatan mengikuti ekspedisi datang dari dosen pembimbingnya yang mengajaknya mengambil sampel di wilayah Antartika Timur, tepatnya di Cook Region. 

Pengambilan sampel ini dilakukan untuk melanjutkan penelitian tesis sekaligus menjadi dasar untuk studi doktoral (S3). 

Dalam penelitiannya, Ezta mengkaji sedimentary ancient DNA, yakni DNA yang diperoleh dari sedimen bawah laut, dengan fokus wilayah meliputiSouthern Ocean dan Antartika.

Ekspedisi yang diikutinya merupakan bagian dari pelayaran riset internasional yang meneliti ekosistem dan sedimen laut di kawasan Antartika Timur.

“Tesis research saya itu tentang sedimentary ancient DNA, jadi berfokus pada DNA yang didapatkan dari sedimen bawah laut. Fokusnya ke Southern Ocean sama Antartika,” tuturnya, dikutip dari situs resmi UGM, Selasa (31/3/2026).

Sejak 2 Januari hingga akhir Februari lalu, Ezra bergelut dengan suhu di bawah nol derajat dan badai salju demi menjalankan misi pencarian jejak masa lalu bumi.

"Kami tidak ada hari libur, tidak ada weekend. Yang paling unik adalah beradaptasi dengan kecerahan matahari. Di sana musim panas hampir 24 jam terang terus. Jam 11 malam pun masih terang," tuturnya.

Sebelum berangkat, Ezra harus melewati serangkaian persiapan ketat selama satu tahun, termasuk uji kebugaran dan tes kesehatan menyeluruh untuk memastikan fisiknya mampu bertahan di lingkungan yang sangat terisolasi.

“Sebagai orang Indonesia yang tidak pernah terkena udara dingin, itu menjadi tantangan tersendiri bagi saya,” ujarnya.
 
Tidak hanya beradaptasi dengan kondisi cuaca, ia menyebut bahwa adaptasi terhadap kehidupan di kapal dalam jangka waktu hampir dua bulan tersebut juga menjadi tantangan yang harus dihadapi.

Keterbatasan ruang, aktivitas yang terjadwal, serta senantiasa menjaga kondisi fisik supaya tetap prima selama penelitian menjadi bagian dari tantangan yang dihadapi selama ekspedisi berlangsung. 

Meski begitu, ia bersyukur dapat menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan hingga akhir ekspedisi. 

"Selebihnya sih aman-aman saja. Saya di sana dapat menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan ekspedisi dengan baik,” kenangnya.

Untuk Masa Depan Ekosistem Indonesia

Di tengah terjangan cuaca dingin yang menusuk, Ezra Timothy Nugroho bersama tim ahli berhasil menuntaskan misi krusial: mengamankan sampel sedimen dari dasar samudra menggunakan metode coring. 

Teknik ini dilakukan dengan membenamkan tabung silinder berongga secara vertikal ke dasar laut guna mengekstrak lapisan demi lapisan material bumi yang telah mengendap selama ribuan tahun.

Bagi Ezra, momen saat tabung tersebut ditarik ke permukaan dan memperlihatkan isinya adalah puncak emosional dari ekspedisi ini. 

"Bisa melihat langsung sedimen yang kami ambil sendiri dari kedalaman laut adalah pengalaman yang sangat membekas," kenangnya.

Ezra mengatakan bahwa Antartika merupakan lingkungan yang relatif tidak tersentuh aktivitas manusia, sehingga perubahan yang terjadi di wilayah ini mencerminkan dinamika alami ekosistem bumi.

“Wilayah kutub itu sangat tidak tersentuh manusia, jadi semua perubahan lingkungan yang terjadi itu benar-benar alami, tanpa ada campur tangan manusia,” tuturnya.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa hasil penelitian tersebut tidak hanya relevan bagi kawasan kutub, tetapi juga memiliki implikasi bagi wilayah lain, termasuk Indonesia.
 
Dengan mempelajari respons makhluk hidup di sana, para ahli dapat memprediksi bagaimana ekosistem di wilayah tropis, termasuk perairan Indonesia, akan bereaksi jika menghadapi tekanan perubahan iklim yang serupa di masa depan.

Ezra tidak berhenti sampai di sini. Sampel sedimen yang ia bawa pulang akan menjadi bahan bakar utama untuk studi doktoralnya (S3).

Ia berencana menggunakan analisis DNA lingkungan untuk melacak jejak evolusi dan perubahan genetik pada moluska. 

Melalui organisme ini, ia berharap bisa membaca bagaimana sejarah alam terbentuk dan menyiapkan langkah antisipasi bagi kelestarian laut di masa depan.

Temuan ini nantinya diharapkan dapat digunakan untuk memprediksi bagaimana ekosistem laut akan beradaptasi terhadap perubahan iklim di masa depan. 

"Semoga kedepannya penelitian ini dapat bermanfaat untuk membantu penelitian-penelitian lain kedepannya lagi dalam mengetahui dan memprediksi perubahan genetik yang ada di dalam hewan-hewan laut,” pungkasnya. 

(*)

Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.