Opini: AI dan Krisis Pendidikan Gen Z-Alpha
Dion DB Putra April 10, 2026 09:39 PM

Oleh: Fladimir Sie
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah wajah pendidikan secara drastis. 

Generasi Z dan Generasi Alpha kini hidup dalam dunia di mana jawaban tersedia dalam hitungan detik, tugas dapat diselesaikan oleh mesin, dan proses belajar sering kali dipersingkat oleh teknologi. 

Dalam situasi ini, muncul pertanyaan mendasar: apakah kita sedang membentuk generasi yang semakin pintar, atau justru generasi yang semakin instan?

Pendidikan sejatinya bukan hanya soal memperoleh jawaban, tetapi tentang proses menjadi manusia. 

Baca juga: Opini: Holding Daerah- Mesin Transformasi Menuju Kemandirian Fiskal

Dalam tradisi filsafat, Immanuel Kant menekankan pentingnya manusia sebagai subjek yang berpikir otonom. 

Pendidikan, karena itu, tidak boleh direduksi menjadi sekadar transfer informasi, melainkan harus menjadi ruang pembentukan nalar kritis dan tanggung jawab moral.

Namun, realitas hari ini menunjukkan kecenderungan yang mengkhawatirkan. Banyak pelajar dan mahasiswa mulai bergantung pada AI untuk menyelesaikan tugas-tugas akademik—dari menjawab soal hingga menulis esai. 

Memang, AI menawarkan kemudahan. Tetapi ketika kemudahan ini menggantikan proses berpikir, maka pendidikan kehilangan makna terdalamnya.

Generasi Z dan Alpha tumbuh dalam budaya instan—budaya yang menekankan hasil
cepat tanpa proses yang mendalam. 

Ketika segala sesuatu bisa diperoleh dengan mudah, ketekunan, kesabaran, dan daya juang dalam belajar menjadi semakin tergerus. 

Pendidikan berisiko berubah menjadi sekadar produksi output, bukan lagi proses pembentukan pribadi.

Dalam perspektif iman Kristiani, situasi ini perlu disikapi secara serius. Dokumen Gaudium et Spes menegaskan bahwa manusia memiliki martabat luhur karena diciptakan menurut gambar Allah (GS 12), dan hanya dapat menemukan dirinya melalui pemberian diri yang tulus (GS 24). 

Artinya, pendidikan harus mengarah pada pembentukan manusia seutuhnya—bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan
spiritual.

Di sinilah letak krisis pendidikan di era AI: hilangnya keseimbangan antara
kemudahan teknologi dan kedalaman manusia. 

Jawaban instan memang menghasilkan efisiensi, tetapi tidak selalu melahirkan kebijaksanaan. Pengetahuan yang cepat diperoleh belum tentu membentuk karakter yang kuat.

Peringatan ini juga sejalan dengan refleksi Paus Fransiskus dalam ensiklik Fratelli Tutti, yang menyoroti bahaya relasi dangkal dalam dunia digital (FT 42–43). 

Dalam konteks pendidikan, relasi antara guru dan peserta didik—yang merupakan ruang pembentukan nilai—tidak dapat digantikan oleh teknologi.

Karena itu, AI tidak boleh diposisikan sebagai pengganti manusia, melainkan sebagai alat bantu. 

Pendidikan harus tetap menekankan pentingnya proses: berpikir, bertanya, gagal, dan mencoba kembali. 

Tanpa itu, generasi muda akan kehilangan kedalaman intelektual dan kematangan pribadi.

Ada tiga langkah penting yang perlu dilakukan. Pertama, membangun kesadaran kritis dalam penggunaan AI. Tidak semua yang bisa dilakukan teknologi harus dilakukan. 

Kedua, memperkuat literasi digital yang etis, agar generasi muda mampu menggunakan AI secara bertanggung jawab. 

Ketiga, menegaskan kembali peran guru sebagai pembimbing manusiawi, bukan sekadar penyampai informasi.

Pada akhirnya, tantangan terbesar bukan terletak pada teknologinya, tetapi pada cara kita menggunakannya. 

Jika pendidikan hanya mengejar kecepatan dan efisiensi, maka kita berisiko melahirkan generasi instan. Namun, jika teknologi ditempatkan secara bijak, AI justru dapat memperkaya proses belajar.

Generasi Z dan Alpha tidak hanya dipanggil untuk menjadi pintar, tetapi juga untuk menjadi manusia yang utuh—yang mampu berpikir, berelasi, dan memberi makna. 

Pendidikan harus tetap setia pada tugasnya yang paling mendasar: membentuk manusia, bukan sekadar menghasilkan output. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.