Tak Sekadar Jualan, Mahasiswa dan Pelajar Didorong Bangun Bisnis Peduli Lingkungan
Vito April 10, 2026 10:55 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Upaya membentuk wirausaha muda yang peduli lingkungan terus didorong sejak tahap awal pembelajaran. 

Tak hanya berorientasi pada keuntungan, model bisnis kini mulai diarahkan agar memperhatikan dampak terhadap alam, mulai dari bahan baku hingga proses produksi.

Semangat itu dibawa dalam Festival Planet Preneur 2 yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Soegijapranata Catholic University (SCU), Jumat (10/4).

Berlangsung di selasar Yustinus, kampus SCU Bendan, ajang itu mengambil tema 'Kreasi yang Bersahabat dengan Alam' dengan harapan mahasiswa dan pelajar membangun bisnis yang berpihak pada kelestarian alam, mulai dari bahan baku hingga kemasan.

Kepala Laboratorium Kewirausahaan (KWU) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Soegijapranata Catholic University, Dr Chatarina Yekti Prawihatmi mengatakan, kegiatan itu bukan sekadar ajang jualan, melainkan tahap implementasi dari perencanaan bisnis yang sebelumnya telah disusun.

“Ini adalah tahap eksekusi pertama. Mereka sudah mulai menjual produknya secara langsung, setelah sebelumnya kami review business plan mereka,” katanya, kepada Tribunjateng.com.

Ia menekankan, pendekatan kewirausahaan yang dikembangkan menitikberatkan pada prinsip ramah lingkungan secara menyeluruh. Tidak hanya produk akhir, tetapi juga seluruh rantai produksi harus mengandung nilai keberlanjutan.

Hal itu mulai dari pemilihan bahan tanpa pengawet, proses produksi yang efisien, penggunaan kemasan ramah lingkungan, hingga strategi promosi yang mengedukasi konsumen, semuanya menjadi bagian dari konsep bisnis yang dibangun.

“Yang ditonjolkan adalah bagaimana mereka membangun bisnis yang peduli lingkungan, dari hulu sampai hilir,” katanya.

Dalam praktiknya, berbagai inovasi mulai bermunculan. Produk makanan, misalnya, tidak lagi bergantung pada bahan tambahan kimia, melainkan memanfaatkan bahan alami. Bahkan, limbah seperti kulit buah naga diolah kembali menjadi produk bernilai.

Di sektor lain, seperti fesyen, peserta mulai mengadopsi teknik ramah lingkungan seperti ecoprint untuk menghasilkan produk yang tetap menarik tanpa merusak alam.

Keterlibatan peserta di ajanh juga cukup luas. Dari SMA Kolese Loyola, sekitar 60 siswa yang terbagi dalam 16 kelompok ikut ambil bagian. Sementara dari kalangan mahasiswa dan pelaku usaha, total terdapat sekitar 40 stan yang terlibat dalam kegiatan ini.

Yekti menyatakan, kolaborasi antara kampus dan sekolah itu bukan hal baru. Kerja sama telah berjalan selama dua tahun, meski untuk expo bersama baru pertama kali dilaksanakan.

Ke depan, kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi berkembang dalam bentuk pelatihan, workshop, hingga kompetisi bersama.

Dalam kesempatan yang sama, Valencia Celline Jovinsky, siswi SMA Kolese Loyola, mengaku mendapat banyak pembelajaran dalam mengembangkan produk yang tidak hanya menarik, tetapi juga lebih bertanggung jawab.

Kelompoknya mengembangkan roti berbasis fermentasi alami (sourdough), yang dinilai lebih sehat karena minim bahan tambahan.

“Selama prosesnya kami banyak dapat kritik, misalnya soal rasa. Itu kami terima supaya produk kami bisa lebih baik dan lebih diterima,” bebernya.

Dari sisi pemasaran, mereka juga mencoba pendekatan berbeda dengan metode penjualan langsung (door to door) di lingkungan sekolah. Cara itu dinilai efektif sekaligus membantu memahami kebutuhan konsumen secara langsung.

Upaya mendorong bisnis hijau ini diharapkan tidak berhenti sebagai tren sesaat. Edukasi sejak dini dinilai penting agar generasi muda tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga keberlanjutan lingkungan. (F Ariel Setiaputra)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.