4 Kesalahan Cara Memasak Mi Instan, Ancam Kesehatan Tubuh
Desi Triana Aswan April 11, 2026 12:50 AM

TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Inilah empat kesalahan cara memasak mi instan. 

Makanan yang menjadi favorit sejuta umat ini, memang sangat mudah diolah. 

Namun perlu diketahui, jika salah mengolahnya juga akan berdampak fatal pada kesehatan tubuh. 

Sehingga, harus sangat diperhatikan agar bisa tetap aman mengonsumsi mi instan. 

Di Indonesia, mi instan bak menjadi solusi di tengah perut keroncongan. 

Baca juga: Kronologi Penemuan Bayi Perempuan Dalam Kardus Mi Instan di Tahoa Kolaka Sulawesi Tenggara

Apalagi di tengah kesibukan, ingin sesuatu yang instan dan cepat tersaji, mi instan bak menjadi solusi. 

Namun, di balik kepraktisannya, terdapat sejumlah kebiasaan memasak yang kerap dianggap sepele, padahal berpotensi memengaruhi kualitas kesehatan secara tidak langsung.

Indonesia bahkan menempati peringkat kedua di dunia untuk konsumsi mi instan. 

Sehingga, tentu saja meski banyak diminati namun cara penyajiannya pun perlu dipastikan aman dan tak membahayakan. 

Setidaknya ada empat hal yang membuat mi instan jadi berbahaya. 

Salah satu hal yang paling penting diperhatikan adalah cara pengolahannya. 

1. Merebus Mie Terlalu Lama

Saat merebus mi instan pastikan waktunya tak terlalu lama. 

Biasanya orang akan merebus terlalu lama akan berpengaruh dengan tekstur hingga rasa. 

Proses ini tidak hanya merusak struktur mi, tetapi juga dapat mengurangi nilai gizi yang terkandung di dalamnya.

Ketika mi dimasak berlebihan, komponen tertentu bisa terurai secara tidak optimal, sehingga manfaat yang seharusnya diperoleh justru berkurang.

2. Menggunakan Air Rebusan Berulang

Tak boleh menggunakan air rebusa ulang saat memasak mi. 

Hal ini biasa didapati jika berada di penjual warung mi instan. 

Sehingga, perlu berhati-hati ketika melihat hal tersebut agar dapat dihindari. 

Atau bisa juga Anda memesan khusus agar dipakai air rebusan yang baru. 

Selain itu, penggunaan air rebusan mi yang tidak diganti juga patut diperhatikan.

Banyak orang langsung mencampurkan bumbu ke dalam air rebusan pertama tanpa mempertimbangkan bahwa air tersebut mengandung sisa zat dari proses produksi mi instan.

Dalam beberapa kasus, membuang air pertama dan menggantinya dengan air baru dapat menjadi langkah sederhana untuk meminimalkan paparan zat yang tidak diinginkan.

3. Menambahkan Isian yang Tinggi Natrium

Di sisi lain, banyak orang tergoda untuk menambahkan berbagai bahan pelengkap tanpa memperhatikan keseimbangan nutrisi.

Mi instan yang sudah tinggi natrium, jika dipadukan dengan bahan tambahan yang serupa, dapat meningkatkan asupan garam secara signifikan.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat berdampak pada kesehatan, terutama bagi mereka yang memiliki risiko tekanan darah tinggi.

4. Memasak Mie Instan dengan Wadah Plastiknya

Kemasan mi instan umumnya dibuat dari bahan plastik yang mengandung senyawa kimia seperti bisfenol A (BPA) dan ftalat.

Kedua zat ini bisa menjadi berbahaya ketika terpapar suhu tinggi, misalnya saat disiram atau direbus dengan air mendidih.

Panas dapat memicu pelepasan zat kimia tersebut ke dalam mi dan kuah, sehingga berisiko masuk ke dalam tubuh saat dikonsumsi.

Paparan BPA dan ftalat dalam jangka panjang bukan hal sepele.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kedua bahan ini berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari ketidakseimbangan hormon hingga peningkatan risiko penyakit serius seperti kanker.

Berikut beberapa dampak kesehatan yang perlu diwaspadai jika sering memasak mi instan langsung dengan bungkus plastiknya:

- Mengacaukan keseimbangan hormon

BPA diketahui memiliki sifat yang menyerupai hormon estrogen dalam tubuh.

Kondisi ini dapat mengganggu sistem hormon alami, baik pada pria maupun wanita.

Pada wanita, paparan BPA berpotensi memicu gangguan siklus menstruasi, kesulitan hamil, hingga masalah pada sistem reproduksi.

Sementara pada pria, zat ini dapat memengaruhi kualitas dan produksi sperma yang berujung pada gangguan kesuburan.

- Mengganggu tumbuh kembang anak

Anak-anak termasuk kelompok yang paling rentan terhadap paparan zat kimia berbahaya.

Ftalat yang larut dari plastik dapat berdampak pada perkembangan sistem saraf, menurunkan kemampuan kognitif, serta mengganggu proses belajar.

Selain itu, paparan ini juga berpotensi memengaruhi perkembangan organ reproduksi.

Dampaknya bisa berlangsung jangka panjang, termasuk pada tingkat konsentrasi dan kecerdasan anak.

- Berisiko merusak organ vital

Paparan terus-menerus terhadap BPA dan ftalat dapat memberikan efek negatif pada organ-organ penting dalam tubuh.

Beberapa organ yang rentan terdampak antara lain hati, ginjal, dan paru-paru.

Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berkembang menjadi gangguan kronis yang memengaruhi fungsi tubuh secara keseluruhan.

- Memicu peningkatan risiko kanker

Sejumlah studi mengaitkan paparan BPA dengan meningkatnya risiko beberapa jenis kanker, seperti kanker payudara, kanker prostat, dan kanker endometrium.

Meskipun masih terus diteliti, temuan ini menjadi peringatan penting untuk membatasi paparan zat kimia dari plastik.(*)

(TribunnewsSultra.com/Desi Triana)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.