TRIBUNJAKARTA.COM - Di tengah hiruk pikuk ibu kota, komunitas Rwanda di Indonesia bersama Kedutaan Besar Republik Rwanda menggelar peringatan 32 tahun Genosida 1994 terhadap suku Tutsi.
Acara bertajuk Kwibuka32: Remember, Unite, Renew ini menjadi ruang refleksi, bukan hanya bagi warga Rwanda, tetapi juga komunitas internasional yang hadir di Jakarta.
Digelar di Hotel Mandarin Oriental, acara tersebut dihadiri pejabat Pemerintah Indonesia, korps diplomatik, hingga sahabat Rwanda.
Peringatan ini tak sekadar mengenang tragedi kelam, tetapi juga menguatkan komitmen bersama untuk mencegah sejarah serupa terulang.
Duta Besar Rwanda untuk Indonesia, Abdul Karim Harelimana, menekankan pentingnya menyebut tragedi tersebut sebagaimana adanya: genosida terhadap Tutsi.
“Tanpa menjunjung tinggi kebenaran, kita menolak kesempatan bagi dunia secara kolektif untuk benar-benar belajar dari apa yang telah terjadi dan dengan demikian menggagalkan setiap upaya kita untuk secara efektif mencegah sejarah buruk seperti itu terulang kembali berulang kali,” ujarnya.
Menurutnya, penyebutan yang tidak tepat justru membuka ruang bagi penyangkalan dan merendahkan jutaan korban yang kehilangan nyawa secara tidak bermartabat.
Salah satu momen paling menyentuh datang dari Liliane Murangwayire, penyintas genosida yang membagikan kisah hidupnya di hadapan para tamu.
Melalui pengalaman pahit yang ia tuangkan dalam bukunya Surviving the Unthinkable, Liliane menghadirkan kesaksian yang bukan hanya tentang penderitaan, tetapi juga kekuatan untuk bangkit.
“Hari ini, saya berdiri di hadapan Anda bukan hanya sebagai penyintas, tetapi sebagai saksi—saksi tentang apa yang dapat dilakukan oleh kebencian, dan saksi tentang kekuatan harapan, ketahanan, dan kemanusiaan,” ucapnya.
Pesan serupa disampaikan Duta Besar Tanzania untuk Indonesia, Macocha Moshe Tembele.
Ia menegaskan bahwa “Kwibuka” bukan sekadar mengenang, tetapi sebuah kewajiban moral.
“Kita mengingat karena melupakan itu berbahaya. Melupakan menciptakan lahan subur bagi penyangkalan, distorsi, dan munculnya kembali ideologi-ideologi yang menyebabkan genosida. Ingatan adalah perisai terhadap pengulangan. Ia adalah seruan untuk waspada,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa lebih dari satu juta nyawa melayang dalam kurun waktu 100 hari pada 1994—sebuah tragedi yang tak boleh dilupakan.
Mewakili Pemerintah Indonesia, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan komitmen Indonesia untuk terus berdiri bersama Rwanda dalam memperjuangkan nilai kemanusiaan.
“saat kita memperingati hari ini, marilah kita menghormati para korban dan penyintas dengan mendedikasikan diri kita untuk masa depan yang didasarkan pada perdamaian, keadilan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia, serta dengan tegas menolak kebencian dan perpecahan sambil memajukan dialog, pemahaman, dan solidaritas.”
Peringatan Kwibuka32 di Jakarta menjadi pengingat bahwa tragedi kemanusiaan tidak mengenal batas negara.
Dari luka sejarah yang dalam, lahir pesan universal tentang pentingnya persatuan, empati, dan kewaspadaan terhadap benih-benih kebencian.
Di Jakarta, ribuan kilometer dari Rwanda, ingatan itu tetap hidup—menjadi pengingat bahwa kemanusiaan harus selalu dijaga, agar sejarah kelam tak kembali terulang.
Baca juga: Kasus Amsal Sitepu Buat Hotman Paris dan Mahfud MD Heran, Sebutan Negara Hukum Sebatas Khayalan
Baca juga: Jika Aktor Utama Penyiraman Air Keras Tak Terungkap, Jangan Salahkan Publik Curiga Negara Terlibat
Baca juga: Feri Amsari Tegas: Jika Gagal Ungkap Kasus Andrie Yunus, Negara Jadi Bagian dari Kejahatan