SURYAMALANG.COM, KOTA BATU - Belanja online kini menjadi gaya hidup baru di Indonesia, termasuk di Kota Batu.
Masyarakat cenderung memilih belanja online di marketplace dibanding datang langsung ke toko untuk membeli barang keperluan maupun pakaian.
Alasannya, selain karena Mager (males gerak), juga karena harga barang-barang di online dinilai lebih murah dibanding harga di toko.
Salah satu pengguna marketplace Shopee asal Kelurahan Temas, Kota Batu, Azizah Rahma mengatakan, ia kini sudah beralih ke belanja online karena alasan-alasan tersebut.
“Belanja online itu lebih murah secara harga, belum lagi kalau dapat diskon atau voucher belanja."
"Terus kitanya gak perlu jauh-jauh ke tokonya, apalagi sampai luar kota."
"Setelah beli bisa langsung diantar ke rumah. Lebih efesien aja,” kata Azizah Rahma kepada SURYAMALANG.COM, Minggu (12/4/2026).
Baca juga: ASN dan Pedagang Sudah Diperiksa, Kejari Kota Batu Usut Dugaan Jual Beli Kios Pasar Induk Among Tani
Dalam belanja online, Azizah pernah mengalami hal tak mengenakan saat barang belanjaanya tiba. Ia pernah ditipu dan merugi.
“Pernah sekali zonk. Karena tergiur harga murah jadinya barang yang datang kualitasnya jelek."
"Waktu itu beli pakaian. Saya lihat di video displaynya itu kelihatan bagus, gak tahunya pas datang tipis banget bahannya."
"Akhirnya gak kepakai. Harus lebih pinter milih sih kalau belanja online dan lihat di ulasannya,” ujarnya.
Sementara itu, pengusaha tanaman hias asal Kecamatan Bumiaji, Kota Batu bernama, Ivan mengatakan, selama ini pihaknya tak pernah mengalami kejadian tak mengenakan selama menjual tanaman hias di marketplace TikTok.
Baca juga: Alih Fungsi Lahan di Hulu Bumiaji Picu Bencana, Wali Kota Batu Minta Ketegasan Aturan Tata Ruang
“Saya memasarkan barang dagangan saya berupa tanaman hias."
"Selama ini aman-aman saja dan Alhamdulillah tidak ada komplain dari pembeli."
"Soalnya dari marketplace kami langsung melewati chat WhatsApp,” jelas Ivan.
Ivan menjelaskan, pembeli tanaman hiasnya tak hanya dari dalam negeri saja, namun juga sampai ke Eropa.
“Pembeli dari Malaysia lebih ke anthurium. Jepang biasanya banyak yang membeli agave, kalau China permintaannya banyak ke jenis tanaman Platycerium."
"Kami juga melayani ke Eropa dan Singapura."
"Sebagian negara ada tanaman yang tidak bisa masuk. Jadi harus lihat jenis tanaman dan negaranya,” terangnya.
Pria yang telah bertahun-tahun menggeluti usaha tanaman hias ini menuturkan, meski bisnis tanaman hias memiliki risiko besar ketika dikirim ke luar kota maupun luar negeri, namun itu dapat diantisipasi dengan cara pengemasan dan pemilihan jasa kirim barang tang terpercaya.
“Kalau kirim ke luar negeri rata-rata 7-10 hari sampai ke tujuan,” pungkasnya.