Kecelakaan Truk Kembali Terjadi di Silayur Ngaliyan, Wali Kota: Butuh Rp 60 M Perbaiki Jalur Maut
Rustam Aji April 11, 2026 08:07 AM

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, melontarkan pernyataan mengejutkan terkait rentetan kecelakaan di turunan Silayur, Ngaliyan.

Ia mengakui adanya kesalahan mendasar pada tata ruang dan desain jalan yang tidak ideal bagi kendaraan berat, namun pemerintah kota terkendala anggaran jumbo untuk memperbaikinya.

"Memang menurut saya tata kotanya keliru dan harus diubah. Hanya kemarin diproses perencanaan anggaran, kalau itu mau dilakukan perubahan, duitnya sekitar Rp60 miliar. Enggak kuat kita. Benar-benar enggak kuat," tegas Agustina saat ditemui di Aula Balaikota, Jumat (10/4/2026).

Pernyataan ini merespons kecelakaan beruntun terbaru yang terjadi di Jalan Silayur,

Semarang Barat, pada Jumat pagi sekitar pukul 09.30 WIB. Sebuah truk kontainer yang diduga mengalami rem blong meluncur tak terkendali di jalur menurun tersebut dan menghantam sejumlah kendaraan di depannya.

BERI KETERANGAN - Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti memberi keterangan kepada wartawan seusai pelantikan pejabat eselon II di Balai Kota Semarang, Jumat (6/2/2026). Agustina Wilujeng melantik 12 pejabat eselon II.
BERI KETERANGAN - Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti. (Tribun Banyumas/Idayatul Rohmah)

Risiko Fatal Kendaraan Berat

Agustina menjelaskan bahwa kemiringan ekstrem di jalur Silayur sejak awal tidak dirancang untuk menahan beban kendaraan bertonase besar. Namun, realitanya jalur tersebut kini menjadi urat nadi utama distribusi menuju kawasan industri.

"Kalau (kendaraan) berat itu pasti meluncur, pasti meluncur, enggak bisa tidak," imbuhnya menggambarkan risiko teknis yang menghantui setiap truk yang melintas di sana.

Baca juga: Kecelakaan Hebat di Depan Ruko Segitiga Mas Ngaliyan: Truk Melintang, Jalur Macet Parah

Upaya Pemkot Terbentur Anggaran Meski mengakui adanya kegagalan desain infrastruktur, Pemkot Semarang mengaku belum bisa melakukan rekonstruksi jalan dalam waktu dekat. Biaya Rp60 miliar yang dibutuhkan untuk mengubah elevasi jalan dianggap terlalu membebani APBD saat ini.

Sebagai langkah darurat, Pemkot selama ini hanya mengandalkan solusi jangka pendek berupa:

Penempatan pos pengamanan di titik rawan.

Koordinasi penertiban lalu lintas dengan Dinas Perhubungan dan Kepolisian.

Mendorong kolaborasi dengan pelaku industri pengguna jalan.

Namun, Agustina mengakui langkah-langkah tersebut belum efektif membendung kecelakaan.

Terkait opsi penutupan jalan bagi kendaraan berat secara total, ia menyebut hal itu memerlukan koordinasi lintas instansi karena menyangkut wewenang kepolisian.

Baca juga: KPK OTT Bupati Tulungagung Gatut Sunu, Sejumlah Kepala Dinas dan Berkas Penting Diamanka

"Kalau penutupan jalan itu kan miliknya teman-teman dari polisi. Harus ada koordinasi lanjutan ini," pungkasnya.

Jalur Silayur selama ini dikenal sebagai salah satu "jalur tengkorak" di Kota Semarang. Kontur jalan yang menurun tajam dan panjang kerap memicu rem blong pada truk bermuatan penuh, yang sering kali berujung pada kecelakaan fatal yang melibatkan banyak korban. (idy)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.