Harga Tiket Pesawat Surabaya - Balikpapan Tembus Rp26 Juta, Tarif Penerbangan ke Bandara SAMS Naik
Rita Noor Shobah April 11, 2026 08:07 AM

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Lonjakan harga tiket pesawat dalam beberapa hari terakhir dikeluhkan masyarakat Kota Balikpapan.

Kondisi ini terjadi seiring dengan terbatasnya ketersediaan tiket pada sejumlah rute penerbangan.

Kelangkaan dan kenaikan harga tiket tersebut diduga dipicu oleh melonjaknya harga minyak mentah dunia, menyusul dinamika geopolitik di Timur Tengah.

Hal ini menyebabkan harga avtur naik.

Baca juga: Viral Harga Tiket Pesawat Tak Masuk Akal, Rute Jakarta-Samarinda Capai Rp8 Juta

Berdasarkan penelusuran TribunKaltim.co melalui platform Traveloka, tiket pesawat rute Surabaya–Balikpapan untuk kelas ekonomi pada 10, 11, dan 13 April 2026 tidak tersedia.

Sementara itu, pada Minggu (12/4), hanya tersisa satu penerbangan kelas ekonomi menggunakan Batik Air Malaysia dengan harga mencapai Rp 9,9 juta dan rute transit.

Di hari yang sama, tersedia enam penerbangan kelas bisnis dengan tarif sekitar Rp 26,2 juta.

Kondisi serupa juga terlihat di platform tiket.com.

Pada Jumat (10/4), tersedia lima penerbangan dengan harga berkisar Rp 3,7 juta hingga Rp 4,1 juta.

Namun, pada Sabtu (11/4), tiket tidak tersedia.

Baca juga: Jelang Laga Borneo FC vs PSBS Biak, Fisik Skuat Badai Pasifik Terkuras Imbas Kehabisan Tiket Pesawat

Sementara Minggu (12/4), hanya ada dua penerbangan dengan harga Rp 2,7 juta hingga Rp 2,8 juta, serta lima penerbangan pada Senin (13/4) dengan harga mulai Rp 3,4 juta hingga Rp 4 juta.

Penjelasan Otorita Bandara

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Otoritas Bandar Udara Wilayah VII Balikpapan, Ferdinan Nurdin, menjelaskan bahwa kenaikan harga tiket dipengaruhi oleh lonjakan harga avtur yang mengikuti kenaikan harga minyak mentah dunia.

Ia menyebutkan, tren penyesuaian tarif ini juga terjadi secara global.

Sejumlah negara telah lebih dahulu menaikkan biaya bahan bakar sektor penerbangan sebagai respons  terhadap kenaikan harga energi.

“Ini bukan semata kenaikan, tetapi penyesuaian pada variabel tertentu. Tarif batas atas dan bawah masih tetap, sehingga kelas ekonomi tetap terkendali,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).

Pemerintah, lanjutnya, telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menekan dampak kenaikan harga tiket.

Baca juga: Harga Tiket Pesawat Naik di Balikpapan, Lion Air Ungkap Dampak Lonjakan Avtur

Salah satunya melalui penyesuaian komponen fuel surcharge (FS) menjadi 38 persen, dari sebelumnya 10 persen untuk pesawat jet dan 25 persen untuk propeller.

Selain itu, pemerintah juga menanggung Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 11 persen untuk tiket pesawat kelas ekonomi melalui skema Ditanggung Pemerintah (DTP).

Nilai subsidi yang disiapkan mencapai sekitar Rp 1,3 triliun per bulan, dengan total anggaran Rp 2,6 triliun untuk dua bulan.

Stimulus lainnya berupa penghapusan bea masuk suku cadang pesawat guna menekan biaya operasional maskapai.

Ferdinan memperkirakan dampak kenaikan ini terhadap harga tiket berada di kisaran 9 hingga 13 persen.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk lebih cermat dalam memilih jenis tiket, karena harga tinggi umumnya berasal dari kelas bisnis atau rute transit yang tidak diatur pemerintah.

Di sisi lain, kelangkaan tiket dinilai lebih dipengaruhi oleh tingginya permintaan pasca Lebaran.

Arus balik yang masih berlangsung membuat ketersediaan kursi menjadi terbatas.

Baca juga: Borneo FC Kena Imbas Harga Tiket Pesawat Naik, Dijadwalkan Pulang ke Samarinda Hari Ini

Penjelasan Maskapai

Station Manager Lion Air Balikpapan, Arif, mengungkapkan bahwa kenaikan harga avtur sejak awal April 2026 mencapai 72 hingga 80 persen, atau naik hampir Rp 10 ribu per liter.

Menurutnya, bahan bakar menyumbang sekitar 40 persen dari total biaya operasional penerbangan, sehingga kenaikan tersebut berdampak langsung pada tarif tiket.

“Kalau kelangkaan sebenarnya tidak ada, hanya saja suplai sedikit lebih lama. Biasanya satu hari, sekarang bisa dua hingga tiga hari. Ini dampak kondisi geopolitik di Timur Tengah,” jelasnya.

Ia menambahkan, tingginya permintaan selama arus balik membuat tiket cepat habis, terutama untuk penerbangan menuju Balikpapan.

Tingkat keterisian penumpang bahkan hampir mencapai 100 persen untuk penerbangan masuk.

Sementara itu, untuk penerbangan keluar dari Balikpapan, okupansi berada di kisaran 70 persen setelah melewati masa puncak.

Arif mengimbau masyarakat agar merencanakan perjalanan dengan matang, termasuk membeli tiket pulang sejak awal keberangkatan.

“Seharusnya saat berangkat sudah menyiapkan tiket pulang, karena mereka tahu kapan akan kembali,” pungkasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.