Rumah Pelideh Nyaris Punah, Pegiat Seni dan Budaya Bangka Selatan Minta Dibangun di Setiap Kecamatan
Fitriadi April 11, 2026 03:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Keberadaan rumah adat Pelideh di Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung kian terancam seiring berkurangnya jumlah bangunan asli yang masih bertahan di tengah masyarakat.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan hilangnya salah satu identitas budaya lokal yang sarat nilai sejarah dan filosofi.

Upaya pelestarian dinilai mendesak untuk dilakukan agar warisan budaya tersebut tidak hanya tinggal cerita. 
Dorongan untuk menghadirkan kembali rumah adat Pelideh pun mulai disuarakan oleh pegiat budaya setempat.

Baca juga: Hampir Punah, Rumah Adat Pelideh Bangka Selatan ‘Hidup Kembali’ Lewat Miniatur Karya Yoel Chaidir

Pegiat Seni dan Budaya Kabupaten Bangka Selatan, Yoel Chaidir mendesak pemerintah daerah dapat mengambil langkah konkret dalam menjaga keberadaan rumah Pelideh yang masih tersisa.

Pelestarian tidak cukup hanya sebatas penetapan, tetapi perlu diwujudkan dalam bentuk perlindungan dan pengembangan nyata.

Keberadaan rumah adat tersebut dinilai penting sebagai simbol jati diri masyarakat Bangka Selatan.

Pegiat Seni dan Budaya Kabupaten Bangka Selatan, Yoel Chaidir ketika tengah mengerjakan miniatur rumah adat Pelideh di kediamannya di Kelurahan Teladan, Kecamatan Toboali, Sabtu (11/4/2026). Miniatur tersebut ia kerjakan selama sebulan terakhir.
Pegiat Seni dan Budaya Kabupaten Bangka Selatan, Yoel Chaidir ketika tengah mengerjakan miniatur rumah adat Pelideh di kediamannya di Kelurahan Teladan, Kecamatan Toboali, Sabtu (11/4/2026). Miniatur tersebut ia kerjakan selama sebulan terakhir. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

Selain itu, rumah Pelideh juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai aset budaya daerah.

“Kami berharap pemerintahan daerah bisa mempertahankan rumah pelide yang ada,” kata Yoel Chaidir kepada Bangkapos.com, Sabtu (11/4/2026).

Yoel Chaidir mengusulkan agar setiap kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan memiliki rumah adat Pelideh. 
Menurutnya, langkah tersebut dapat menjadi strategi pelestarian sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat. 

Kehadiran rumah adat di setiap wilayah juga dinilai mampu memperkuat identitas budaya lokal di tengah arus modernisasi.

Selain itu, konsep ini berpotensi mendukung pengembangan sektor pariwisata berbasis sejarah dan budaya.

Realitas di lapangan menunjukkan kondisi yang memprihatinkan.

Berdasarkan pengamatan Yoel Chaidir, rumah Pelideh kini hampir tidak lagi ditemukan di kampung-kampung.

Hanya beberapa desa yang masih memiliki rumah tersebut, seperti Desa Ranggung, Kecamatan Payung, Desa Tiram, Kecamatan Tukak Sadai dan Kota Toboali.

Meskipun sebagian sudah mengalami perubahan bentuk. Bahkan, rumah Pelideh yang masih mempertahankan bentuk asli disebut hanya tersisa di Desa Ranggung.

“Sementara ini jika saya berjalan ke kampung-kampung rumah pelide hampir sudah tidak ada, yang masih asli itu ada di Desa Ranggung,” jelas Yoel Chaidir.

Upaya memperkenalkan kembali rumah Pelideh juga dilakukan Yoel melalui pembuatan miniatur rumah adat tersebut.

Ia menyebut miniatur itu sebagai langkah awal untuk menarik perhatian masyarakat dan pemerintah terhadap pentingnya pelestarian budaya.

Melalui karya tersebut, ia berharap muncul kesadaran kolektif untuk menjaga warisan leluhur.

Miniatur itu juga diharapkan menjadi media edukasi yang mudah dipahami oleh generasi muda.

Rumah adat Pelideh tetap dapat disaksikan oleh generasi mendatang serta wisatawan dari luar daerah.

Pelestarian rumah adat tidak hanya berkaitan dengan budaya, tetapi juga memiliki nilai ekonomi melalui sektor pariwisata.

Dengan adanya dukungan pemerintah, rumah Pelideh dapat kembali dibangun dan dimanfaatkan sebagai destinasi wisata sejarah. Hal ini diharapkan mampu memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.

“Sehingga nanti wisatawan dari luar daerah maupun anak cucu kita masih bisa melihat rumah adat asli Bangka Selatan,” sebutnya.

Rumah adat Pelideh sendiri merupakan salah satu kekayaan budaya masyarakat Melayu di Bangka Selatan yang memiliki nilai historis dan filosofis yang tinggi.

Rumah ini tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga mencerminkan kebijaksanaan masyarakat dalam merancang hunian yang tahan lama dan nyaman.

Nilai-nilai tersebut tercermin dalam bentuk arsitektur yang khas dan fungsional.

Selain itu, rumah Pelideh juga menjadi simbol kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam secara bijak.

Dari sisi arsitektur, rumah Pelideh memiliki teknik penyusunan dinding yang unik dan khas.

Papan kayu disusun secara vertikal dengan sistem sambungan yang saling mengikat antara satu bagian dengan lainnya.

Pada bagian tepi papan dibuat alur dan bentuk menyerupai lidah agar dapat tersambung dengan kuat.

Teknik ini dirancang agar air hujan dapat langsung mengalir ke bawah tanpa mengendap sehingga membuat bangunan lebih tahan lama.

“Dari teknik penyusunan dinding pada papan rumah inilah maka rumah adat tersebut diberi nama Pelideh,” pungkas Yoel Chaidir.

(Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.