Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Jenderal Louis
AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Belasan orang tua murid bersama komite sekolah dan guru menggelar aksi demonstrasi di SD Inpres Uwen Pantai, Kecamatan Taniwel Timur, Kabupaten Seram Bagian Barat, Jumat (10/4/2026).
Aksi yang dimulai sekitar pukul 10.00 WIT tersebut dipicu oleh berbagai persoalan serius yang diduga terjadi di lingkungan sekolah
Mulai dari penyaluran dana Program Indonesia Pintar (PIP), gaji honorer, hingga dugaan penyalahgunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Massa aksi datang dengan membawa sejumlah poster berisi tuntutan tegas.
Di antaranya bertuliskan, “Pak Presiden Prabowo Kami Minta Keadilan Terhadap Akses Pendidikan dan Infrastruktur di SD Inpres Uwen Pantai".
Juga desakan agar kepala sekolah segera dicopot dan diperiksa aparat penegak hukum terkait dugaan penyalahgunaan dana PIP.
Selama kurang lebih dua jam menyampaikan aspirasi, massa mengaku kecewa karena Kepala Sekolah SD Inpres Uwen Pantai, Adelia Solabersain, tidak hadir untuk menemui maupun memberikan klarifikasi atas berbagai tudingan yang disampaikan.
Baca juga: Enbal Kei Kini Aneka Rasa, Ini Varian dan Harganya
Baca juga: Lima Proposal Revitalisasi Rumah Adat Lolos Seleksi, Bupati SBT Dorong Penguatan Sektor Budaya
Fasilitas Sekolah Memprihatinkan
Dalam aksi tersebut, sejumlah orang tua dan guru membeberkan kondisi fasilitas sekolah yang dinilai sangat memprihatinkan.
Salah satu orang tua murid, Meikelan Meute, bahkan terpaksa membawa kursi plastik dari rumah agar anaknya bisa mengikuti kegiatan belajar di kelas.
“Tidak ada kursi untuk anak saya duduk di dalam ruangan kelas, sehingga saya harus bawa kursi dari rumah supaya anak bisa belajar dengan baik,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti kondisi ruang kelas yang dinilai amburadul dan tidak layak untuk kegiatan belajar mengajar.
Dana PIP Dipertanyakan
Keluhan juga datang dari orang tua siswa lainnya, Paulina Katayane. Ia mengaku telah menandatangani dokumen pencairan dana PIP, namun hingga kini anaknya tidak pernah menerima bantuan tersebut.
“Saya sudah tanda tangan, tapi anak saya tidak pernah terima uang PIP. Kepala sekolah sempat janji dana itu akan cair, tapi sampai sekarang tidak ada,” ujarnya dengan nada kecewa.
Paulina pun mendesak agar kepala sekolah segera diganti karena dinilai tidak transparan dalam pengelolaan bantuan pendidikan.
Guru Keluhkan Sarana Belajar
Tak hanya orang tua, guru pun turut menyuarakan kekecewaan.
Yatri Sinia, wali kelas 2, mengungkapkan bahwa papan tulis di kelasnya sudah lama rusak namun tidak kunjung diganti.
“Saya sudah usul ke kepala sekolah agar papan tulis diganti karena sudah tidak layak. Tapi sampai sekarang tidak ada tindak lanjut,” katanya.
Ia mempertanyakan penggunaan dana BOS yang dinilai cukup besar, namun tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar seperti papan tulis.
“Sebagai wali kelas saya sangat jengkel. Masa dana BOS besar tapi tidak bisa beli papan tulis baru,” tambahnya.
Tuntutan Tegas
Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan sejumlah tuntutan, antara lain:
Hingga aksi berakhir, belum ada tanggapan resmi dari pihak sekolah terkait tuntutan yang disampaikan massa.
Kasus ini kini menjadi sorotan publik dan diharapkan mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah maupun aparat penegak hukum demi menjamin hak-hak siswa atas pendidikan yang layak. (*)