Tradisi Ngideri Cermee Bondowoso Bertahan 5 Abad, 11 Pria Keliling Desa Tanpa Alas Kaki 
Wiwit Purwanto April 11, 2026 06:05 PM

 

SURYA.CO.ID BONDOWOSO - ​Di Bondowoso, terdapat sebuah tradisi yang telah berlangsung selama lebih dari lima abad dan masih terjaga kelestariannya hingga kini. 

Tradisi tersebut adalah Ngideri di Desa Rambankulon, Kecamatan Cermee. Ritual ini merupakan bagian dari rangkaian tradisi Selametan Gugur Gunung yang telah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTBI). 

Digelar Setiap Malam Jumat (Kamis malam) Bulan Syawal

​Heri Kusdaryanto, Plt. Kepala Bidang Kebudayaan Disparbudpora Bondowoso, menjelaskan bahwa tradisi ini dilaksanakan setiap malam Jumat (Kamis malam) pada bulan Syawal. 

"Pelaksanaannya dimulai setiap malam Jumat selama tujuh minggu berturut-turut. Jadi tujuh Malam Jum'at pada bulan Syawal," jelasnya pada Sabtu (11/4/2026). 

​Ritual Ngideri diawali dengan upacara doa bersama di makam Raden Imam Asy'ari, tokoh penyebar ajaran Islam di wilayah tersebut. 

Baca juga: Tradisi Unik Tuban: Kupatan Sapi demi Tolak Bala Peternak dan Simbol Syukur

Pada malam harinya, 11 pria warga lokal akan berkeliling desa tanpa alas kaki sambil membawa alat musik khusus.

Rute perjalanan dimulai dari makam Raden Imam Asy'ari di Desa Ramban Kulon, menuju Ramban Wetan, Suling Kulon, dan kembali lagi ke titik awal. 

​"Rombongan berjumlah 11 orang; 10 pria bertugas memegang alat musik seperti klonengan, tong-tong kecil, dan talam (nampan), sementara satu orang lainnya adalah juru kunci," tambah Heri. 

​Meskipun warga meyakini tradisi ini ada sejak tahun 1500-an, pihak dinas menduga usianya jauh lebih tua.

Hal ini terlihat dari kemiripan alat musiknya dengan lonceng atau klonengan pada masa Buddha. 

Baca juga: Tradisi Haul Syekh Maulana Ibrahim Asmoroqondi Tuban, 3.000 Warga Ikuti Pawai

"Masuknya Islam di sini tidak terjadi secara instan, melainkan berakulturasi dengan adat istiadat yang sudah ada," tuturnya. 

​Uniknya, meski berjalan kaki tanpa alas sejak pukul 20.00 hingga 01.00 WIB, telapak kaki para peserta tidak ada yang terluka.

Menurut penuturan warga, rute saat ini sebenarnya lebih pendek dibanding masa lampau.

Pada era Majapahit, para peserta konon harus berkeliling hingga ke kawasan Surabasah hingga Panarukan, Situbondo. 

​Peserta Ngideri pun tidak sembarangan; mereka adalah keturunan dari 11 orang asli secara turun-temurun.

Jika salah satu anggota sudah sepuh, perannya akan digantikan oleh keturunannya. 

​Kepercayaan masyarakat setempat terhadap ritual ini sangat kuat. Jika tradisi tidak dilaksanakan atau ada rukun yang terlewat seperti syarat kambing yang harus berwarna cokelat muda menyerupai kijang warga percaya akan terjadi musibah atau kejadian di luar nalar (bala). 

​Sebagai informasi, pada Januari 2026, tradisi Selametan Gugur Gunung resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTBI) bersama dua kekayaan budaya Bondowoso lainnya, yaitu Tari Topeng Kona dan Tape Bondowoso.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.