TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bakal memanfaatkan setidaknya lebih dari seribu embung untuk menghadapi musim kemarau yang diprediksi mulai terjadi pada April 2026.
Selain embung, Pemprov juga telah memerintahkan kepada kabupaten/kota untuk memulai mendata wilayah yang rawan kekeringan untuk menyiapkan langkah mitigasinya.
Kepala Dinas PUPR Provinsi Jawa Tengah, Henggar Budi Anggoro mengatakan, bakal memaksimalkan embung yang ada di Jateng untuk menghadapi musim kemarau mendatang.
"Embung di Jateng jumlahnya banyak banget, nanti semua akan kami optimalkan saat musim kemarau," ujar Henggar kepada Tribunjateng.com, Sabtu (11/4/2026).
Merujuk data Pemprov Jateng, jumlah embung tercatat sebanyak 1.137 embung yang tersebar di 35 Kabupaten/kota pada tahun 2023.
Sementara pada tahun 2025, jumlah embung bertambah delapan titik meliputi Embung Salam,Embung Selur, Embung Rondo Kuning, Embung Geblok , Embung Karangjati , Embung Kemurang wetan, Embung Tegalwulung dan embung Plosorejo.
Menurut Henggar, embung tersebut diprioritaskan sebagai penyediaan air baku dan pengairan sawah.
Baca juga: Ombudsman : Integritas Pelayanan Publik Jadi Persoalan Serius di Jawa Tengah
Meskipun embung jadi andalan dalam penyediaan air, pembangunan embung tidak dilakukan pada tahun 2026.
"Tahun 2026 ini, kami tidak ada alokasi anggaran untuk pembangunan embung," ujarnya.
Strategi lain dilakukan oleh Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dalam menghadapi kekeringan.
Ia lebih mengutamakan percepatan mitigasi dengan memerintahkan para Bupati dan wali kota agar segera memetakan wilayah rawan kekeringan.
Daerah yang sudah dipetakan nantinya akan dicarikan solusi penanganan seperti pipanisasi atau menghubungkan air ke wilayah tersebut.
Langkah lain yaitu pendataan sumur yang berpotensi jadi sumber air. Sumur-sumur itu nantinya bisa dimanfaatkan saat musim kemarau.
"Prioritas kami tentu kebutuhan air baku bagi rumah tangga dan suplai kebutuhan air bagi petani," ujarnya. (Iwn)