Pengamat: PKB Lebih Mudah Majukan Cak Imin Jadi Capres Ketimbang Cawapres Prabowo di Pilpres 2029
Jaisy Rahman Tohir April 11, 2026 08:11 PM

 

TRIBUNJAKARTA.COM - Pengamat politik Adi Prayitno menilai Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) justru lebih mudah mengusung Ketua Umumnya, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, sebagai capres ketimbang menargetkan posisi cawapres di Pilpres 2029.

Menurut Adi, jika PKB mengincar posisi cawapres, khususnya mendampingi Prabowo Subianto, maka jalannya akan jauh lebih rumit dan kompetitif.

“Mengusung Cak Imin sebagai cawapres itu bagi saya jalan di tempat. Apalagi kalau targetnya jadi cawapresnya Prabowo, itu akan semakin rumit,” kata Adi pada unggahan video di laman Youtubenya (@adiprayitnoofficial), tayang perdana Sabtu (11/4/2026).

Ia menjelaskan, saat ini hampir seluruh partai dalam koalisi pemerintahan memiliki kepentingan yang sama, yakni mengincar posisi pendamping Prabowo.

“Semua partai pengusung Prabowo hari ini ngincar posisi cawapres. Tokohnya banyak sekali, persaingannya sangat ketat,” ujarnya.

Adi mengatatakan, peluang Cak Imin untuk maju sebagai capres dinilai jauh lebih terbuka dan realistis.

Menurutnya, hal ini tidak lepas dari putusan Mahkamah Konstitusi yang menghapus presidential threshold.

Seperti diketahui, MK menghapus ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold) 20 persenadalah Putusan Nomor 62/PUU-XXII/2024. Putusan ini dibacakan pada awal Januari 2025 dan menyatakan Pasal 222 UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu inkonstitusional.

“PKB sudah punya boarding pass untuk mencalonkan Gus Muhaimin. Tidak perlu bergantung pada partai lain,” jelasnya.

Tanpa Saingan Internal

Adi juga menyoroti faktor internal PKB yang solid sebagai keunggulan tersendiri.

Ia menegaskan, tidak ada kompetitor yang berarti di dalam partai untuk posisi capres.

“Ketua umum partainya adalah Gus Muhaimin, dan tidak ada saingan internal. Ini membuat jalannya jauh lebih mudah,” katanya.

Selain itu, basis massa PKB yang kuat dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) dinilai menjadi modal besar.

“NU adalah ormas Islam terbesar di Indonesia. Ini aset politik yang bisa dikapitalisasi,” ujarnya.

Efek Elektoral Jangka Panjang

Adi menilai, pencalonan Cak Imin sebagai capres juga memiliki dampak elektoral jangka panjang bagi PKB.

Dengan majunya Cak Imin, maka PKB akan menikmati efek ekor jas atau coattail effect yang mengakibatkan suara di Pilegnya berpotensi ikut naik.

“Bahkan di daerah yang sebelumnya PKB tidak dapat kursi, mulai muncul efek elektoralnya,” ucapnya.

Di sisi lain, langkah Cak Imin menjadi capres di 2029 bisa menjadi investasi politik pada kontestasi berikutnya.

“Ini insentif untuk membangun popularitas dan elektabilitas, bukan hanya untuk 2029 tapi juga 2034,” jelasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.