Bengkel Belum Ada, Kok BGN Nekat Beli 25 Ribu Unit Motor MBG?
GH News April 12, 2026 08:11 AM
Jakarta -

Badan Gizi Nasional (BGN) telah memesan 25 ribu unit motor listrik EMMO untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Keputusan tersebut menimbulkan pertanyaan besar usai produsen terkait dikabarkan belum punya bengkel.

Disitat dari laman resminya, Sabtu (11/4), EMMO hanya punya satu dealer di Indonesia, yakni di Grogol, Jakarta Barat (Jakbar). Bahkan, fasilitas tersebut belum sepenuhnya selesai. Jangankan bengkel, showroom-nya hingga kini masih terlihat kosong.

Padahal, 25 ribu unit motor listrik yang dipesan untuk MBG akan disebar ke SPPG se-Indonesia. Lantas, jika dealer-nya hanya satu, bagaimana jadinya jika kendaraan di luar kota mengalami kerusakan?

"Untuk proyek Rp 1,2 triliun yang melibatkan 21.801 unit operasional lapangan di seluruh Indonesia, faktor reliabilitas jangka panjang, suku cadang, dan after-sales sangat krusial," ujar pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Pasaribu kepada detikOto.

"Sehingga jika jejaring purna jual dan parts lain tidak siap dijamin risiko downtime lebih tinggi dibandingkan merek mapan lokal yang sudah lebih bagus jejaring 3S-nya," tambahnya.

dealer motor listrik MBG Emmo di Grogol, Jakarta Barat.dealer motor listrik MBG Emmo di Grogol, Jakarta Barat. Foto: Septian Farhan Nurhuda/detik.com

Berkaca dari kenyataan tersebut, Yannes menyimpulkan, motor listrik EMMO tak ideal menjadi kendaraan operasional MBG. Bukan hanya jaringan yang terbatas, TKDN kendaraan juga masih cenderung kecil.

"Jelas tidak sepenuhnya ideal meski legal via e-Katalog LKPP. Emmo relatif baru (brand 2021), jaringan service masih terbatas, dan TKDN hanya 48,5% sehingga nilai tambah ekonomi rendah," ungkapnya.

Seharusnya, untuk ukuran proyek bernilai triliunan rupiah, Badan Gizi Nasional (BGN) memilih motor lain yang jaringannya telah tersebar di mana-mana. Sebab, jika kendaraan dengan jaringan terbatas mengalami kerusakan, akan sulit melakukan perbaikan.

[Gambas:Instagram]

Di kesempatan yang sama, Yannes juga mengkritik keputusan BGN memilih motor listrik jenis trail sebagai kendaraan operasional MBG. Dia menganggap, kendaraan model tersebut akan sulit dikendarai ibu-ibu atau kaum hawa.

"Secara fungsional motor trail bisa diterima karena dirancang khusus untuk medan berat di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) yang menjadi sasaran utama distribusi makanan bergizi," ungkapnya.

"Tapi dari sisi ergonomis, kenyamanan, dan kesesuaian budaya, kurang ideal ya. Terutama bagi pengendara perempuan atau ibu-ibu berbusana muslim yang lebih terbiasa dengan skuter matik kecil," kata dia menambahkan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.