Sikap Hati-hati Presiden Prabowo Terkait Konflik Iran vs AS-Israel
Theresia Felisiani April 12, 2026 09:32 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Langkah diplomasi Presiden Prabowo Subianto dalam menyikapi konflik Iran dan Israel-AS menjadi sorotan lantaran dianggap sangat berhati-hati dibandingkan ketegasannya dalam isu Palestina.

Kepala Center for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE) sekaligus pengamat militer, Anton Aliabbas menilai perbedaan sikap ini bukanlah tanpa alasan, melainkan sebuah kalkulasi terkait dampak politik domestik di tanah air.

Anton menyebut bahwa Prabowo menggunakan pendekatan bottom-up dengan mengundang tokoh-tokoh elit terlebih dahulu sebelum mengambil posisi resmi pemerintah.

Hal itu disampaikan Anton saat sesi wawancara khusus dengan Tribunnews, Jumat (10/4/2026).

"Pak Presiden menunjukkan sikap yang sangat hati-hati dalam merespons ini. Beliau sangat paham berhitung, karena politik luar negeri adalah kelanjutan politik domestik," kata Anton.

Baca juga: Melihat Peran Pakistan dalam Gencatan Senjata AS–Iran

Anton menganalisis adanya risiko besar jika Prabowo bersikap terlalu frontal dalam isu Iran, terutama yang berkaitan dengan sentimen yang mudah digoreng di media sosial.

Hal ini dianggap krusial bagi citra politik Prabowo ke depan, terutama jika ia masih memiliki agenda politik untuk tahun 2029.

"Ada potensi dampak negatif yang bisa dipelintir atau di-spin oleh pihak yang tidak suka melalui media sosial. Pak Prabowo tentu berhitung soal ini," jelas Anton.

Menurutnya, isu Iran berbeda dengan isu Palestina yang memiliki dukungan bulat secara nasional.

Isu Iran lebih kompleks karena bersinggungan dengan kepentingan banyak aliansi global.

Meskipun menteri-menteri terkait sudah bersuara, Anton tetap memandang kehadiran narasi langsung dari Presiden sangat penting untuk menjaga wibawa negara.

Anton membandingkan dengan pemimpin negara lain yang kerap muncul memberikan state address untuk menjelaskan posisi negara dan dampak konflik bagi rakyatnya.

"Wibawa kita di depan Israel dan dunia internasional dipertaruhkan. Kita butuh konsolidasi suara antara Jakarta dan New York agar pesan kita sampai dengan keras," jelas Anton.

Baca juga: Trump Kritik NATO soal Iran saat Bertemu Rutte

 

Berikut perikan wawancara khusus dengan Kepala Center for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE) sekaligus pengamat militer, Anton Aliabbas dengan Tribunnews;

Tanya: Nah terkait dengan konflik di Timur Tengah juga kan terakhir-terakhir ini kita tahu ya kena juga anggota TNI kita yang bertugas sebagai pasukan pengamanan PBB UNIFIL, tiga pasukan tiga anggota TNI meninggal dunia dan kemudian ada beberapa juga yang terluka sekitar 7 orang 8 orang 11 totalnya, 3 meninggal sisanya terluka berarti ini kan juga terdampak langsung buat pasukan kita yang menjaga perdamaian di sana. Apakah desakan untuk menarik pasukan TNI di UNIFIL adalah keputusan yang tepat atau ada opsi lainnya yang bisa ditawarkan?

Jawab: Ya pertama tentu ketika ada tiga prajurit TNI yang gugur itu adalah duka cita yang mendalam kehilangan kita yang mendalam itu satu. Kedua harus dipahami bahwa serangan yang dilakukan oleh Israel itu bukanlah kali pertama. Sebelumnya juga Israel pernah melakukan serangan walaupun di tempat yang berbeda tapi di kawasan yang sama di Lebanon Selatan UNIFIL markas UNIFIL yang di mana ada orang walaupun waktu itu tentara Indonesia nggak meninggal dunia hanya luka-luka. Gitu tapi ini gitu kedua.

Ketiga apa kemudian harus kita respons bagi saya memang satu kita sudah merespons dengan adanya kecaman dan permintaan investigasi. Itu dilakukan oleh Dubes Umar Hadi di PBB gitu.

Apakah itu cukup ketika misalnya ada ketua MPR mengusulkan untuk menarik diri. Satu bagi saya ketika bicara UNIFIL, UNIFIL ini sudah sebentar lagi habis sebenarnya mandatnya. Ya kan ini sekarang ini sudah sedang perpanjangan gitu ya perpanjangan gitu jadi akhir tahun ini selesai semestinya gitu dan penarikan selesainya adalah tanggal di tahun depan gitu penarikan mundurnya gitu jadi bagi saya ya sudah mau habis.

Tapi apakah tidak ada hal strategis lain yang bisa dilakukan bagi saya ada dua hal yang bisa dilakukan. Yang pertama adalah ketika kita bicara tentang misi UNIFIL, UNIFIL itu adalah penjaga perdamaian peacekeeper. Dia menjalankan mandat PBB untuk menjaga sebuah kawasan perdamaian di mana terjadi gencatan senjata.

Dan kondisinya pasca sejak dari perang Iran Amerika Serikat, Lebanon Selatan itu terjadi eskalasi yang sangat luar biasa. Jadi sebenarnya dari sisi mandat itu memang secara otomatis sebenarnya sudah hilang kenapa kawasan itu sudah jadi berperang.

Kan dia harus menjaga memang kawasannya sedang lagi gencatan senjata dia ada tapi ketika sudah perang kan sebenarnya mandatnya sudah nggak ada lagi ya tapi kan memang tidak semudah itu karena itulah kemudian hal strategis yang bisa dilakukan adalah Indonesia semestinya juga mengajak di Dewan Keamanan PBB untuk meninjau ulang misi UNIFIL.

Apakah ini masih relevan atau tidak relevan kenapa karena di situ itu sudah tidak ada lagi perdamaian di situ sudah adanya perang sementara ini kan untuk misinya misi perdamaian kan itu sebenarnya batal demi syariat tapi lagi-lagi itu kan berdasarkan resolusi PBB karena itulah kemudian di secara strategis Indonesia apa mengajak negara-negara anggota Dewan Keamanan untuk berpikir ulang ini penting untuk kita tinjau ulang apa nggak misi UNIFIL.

Jadi perlu atau tidak perlu kita kemudian nunggu sampai selesai gitu kenapa ya ini kondisinya lagi berperang karena apa karena kita tidak lagi hanya bicara tentang keselamatan prajurit kita tapi keselamatan semua yang tergabung dalam UNIFIL gitu itu satu jadi itu bagi saya yang opsi jadi memang adalah opsi untuk menarik diri dari sana adalah salah satu walaupun juga nanti misalnya ketika kita belum pulang dari misi belum selesai misinya artinya apa artinya ketika kita melakukan penarikan mundur itu semua harus Indonesia yang nanggung ya.

Bukan PBB ya itu nggak bisa direimburse ya kan belum selesai Anda yang minta pulang termin di tengah-tengah Anda tanggung sendiri ya gitu ada berapa nah itu ya kan jadi memang ada cost yang memang harus ditanggung gitu walaupun oh ini kan nggak nyawa apa nyawa ya kita kan juga nih dalam menjalankan misi yang apa dan juga apa amanat dari pembukaan Undang-Undang Dasar partisipasi dalam perdamaian dunia.

Yang kedua saya lagi-lagi berharap pemerintah kita yang ada di Jakarta itu mestinya memang meresonansi apa yang dilakukan oleh diplomat-diplomat di PBB. Jadi antara Jakarta dan New York itu semestinya sama-sama membuat statement yang sama. Hmm jadi di sana buat statement di sini juga buat statement gitu statement apa ya statement-nya sama bahwa kami melakukan ini kami mengecam ini kami meminta ini secara resmi itu satu. Menlu sudah ngomong waktu pas kemarin tapi bagi saya lagi-lagi saya sih berharapnya Pak Presiden yang ngomong.

Baca juga: VIDEO EKSKLUSIF Konflik Iran–AS Memanas: Dilema Indonesia di Panggung Dunia

Tanya: Langsung RI 1-nya?

Jawab: RI 1 sebagai kepala negara kita tidak terima kita mengecam keras kita prihatin gitu ini keprihatinan yang mendalam duka yang mendalam kami mengecam keras kami menuntut PBB untuk melakukan investigasi sudah.

Dan hal yang lain misalnya ya kita memang tidak punya apa namanya perdagangan dengan Israel secara langsung karena kita tidak punya hubungan diplomatik tapi kan juga kita tidak menutup mata bahwa ada berbagai produk Israel yang masuk ke kita walaupun dengan menggunakan negara pihak ketiga.

Ini untuk apa? Ini untuk menunjukkan bahwa saya nggak terima ya dengan Anda. Bagi saya serangan yang dilakukan oleh Israel ke UNIFIL yang di mana ada orang Indonesia itu adalah dengan intensi. Ini udah bukan lagi kayak zaman batu yang kita nggak tahu kita nimpuk ini larinya ke mana nggak.

Jadi bagi saya serangan itu sudah tahu bahwa itu adalah markas UNIFIL di situ ada PBB. Bagi saya ini bisa jadi nih Israel ngetes saja ah Indonesia berani nggak? Indonesia bisa apa sih? Ya udah kalau misalnya Anda nantang saya nih sikap saya kayak gini. Nih saya gini jadi bagi saya apa sikap yang lebih keras kepada Israel kali ini memang dibutuhkan tidak hanya bisa lagi sekadar kita ya ada di jalur multilateral di PBB tapi kita secara bilateral walaupun kita nggak ada kaitan sama diplomatik iya nggak ada masalah tapi kita punya sikap yang jelas gitu.

Baca juga: Gubernur Lemhannas Harap Gencatan Senjata AS-Israel-Iran Permanen demi Stabilitas Global

Tanya: Dan dibutuhkan statement langsung dari pemerintahnya karena kalau misalnya kayak misalnya ada boikot mungkin teman-teman masyarakat udah melakukannya tapi pemerintah belum melakukan official statement gitu ya?

Jawab: Yes bagi saya penting untuk kayak gitu?

Tanya: Bisa dari sisi itu dulu ya Mas ya?

Jawab: Jadi itu menunjukkan apa namanya memberikan pesan yang keras bagi kepada Israel kita nggak terima dengan diserang kayak gini. Heeh ini kita lagi bukan zaman batu main timpuk nih nggak tahu nyampai mana nggak nggak kayak gitu ceritanya gitu ini udah dengan intensi Israel tahu bahwa alah Dewan Keamanan mau dia investigasi nanti bilang oh iya itu anak buah saya di lapangan paling nanti akan kayak gitu. (Tribun Network/Yuda).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.