TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Konflik di Timur Tengah yang tak kunjung selesai memicu dampak bagi sejumlah sektor usaha.
Satu di antaranya dirasakan oleh Betjik Djojo Group, perusahaan yang bergerak di bidang minyak, gas, dan petrochemical di Indonesia.
Branch Manager PT Bintang Buana Energi, Randy Abirawa, mengatakan pihaknya selalu berupaya untuk meminimalisasi dampak tersebut, agar suplai produk kebutuhan minyak, gas dan petrochemical kepada konsumen tetap terjaga dengan baik.
"Perang Timur Tengah memang berdampak pada usaha kami. Namun, dengan fasilitas yang kami miliki dan relasi kami di area ASIA sudah cukup kuat, jadi kami masih bisa menyuplai kebutuhan konsumen kami dengan baik tanpa mengurangi kuantitas dan kualitas," katanya, kepada wartawan, Minggu (12/4/2026).
Walau secara suplai tetap bisa memenuhi permintaan konsumen dengan baik, namun pihaknya tetap melakukan penyesuaian harga jual produk minyak, gas, dan petrochemical.
Pasalnya, konflik Timur Tengah tidak hanya berdampak pada minyak dan gas, tetapi juga beberapa bahan lain yang berasal dari perut bumi.
Baca juga: Yayasan GoTo Merah Putih Hadirkan Kembali Program Beasiswa, Kuota Meningkat dan Jangkau Jenjang S1
Adapun pemasaran produk tersebut kebanyakan dibutuhkan oleh industri perhotelan, restoran, hingga rumah sakit di Indonesia.
Rata-rata konsumen mereka ada di Pulau Jawa dan Bali. Namun, melihat banyaknya permintaan kebutuhan, maka pihaknya juga akan melakukan ekspansi di Sumatera.
"Selain itu walau terjadi perang Timur Tengah, kami juga berupaya memastikan kesejahteraan karyawan. Saat ini, kami memastikan untuk tidak ada yang namanya merumahkan karyawan. Karena kami masih beraktivitas seperti normal dan tidak ada pemotongan karyawan," ujar dia.
Hal itupun terbukti, pihaknya turut mengajak sekitar 550 karyawan untuk tetap mempererat hubungan melalui agenda gathering yang digelar di sekitar Pantai Parangtritis, Kabupaten Bantul selama dua hari terakhir atau Sabtu-Minggu (11-12/4/2026).
Kendati demikian, jika nanti ada kebijakan untuk menghemat energi dengan mekanisme work from home atau bekerja dari rumah untuk beberapa hari, maka pihaknya akan melakukan koordinasi untuk penyesuaian.
"Tapi, kita kan harus melayani masyarakat setiap hari dan tidak mungkin tidak melayani. Karena, ketika kita tidak melayani masyarakat, industri ini akan mati dan tidak bisa beroperasional. Jadi, ada beberapa hal yang memang kami koordinasikan," tutup dia.(*)