TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala Center for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE) sekaligus pengamat militer, Anton Aliabbas menilai kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang diinisiasi Donald Trump bersifat sangat rapuh.
Anton memandang bahwa apa yang terjadi saat ini bukanlah gencatan senjata permanen (ceasefire), melainkan hanya sebuah jeda singkat atau pause di tengah ketegangan yang masih membara.
Anton menyebut hal ini didasari pada durasi kesepakatan yang hanya dipatok selama dua minggu, waktu yang dianggap sangat mustahil untuk menyelesaikan konflik sedalam itu.
Hal itu disampaikan Anton saat sesi wawancara khusus dengan Tribunnews, Jumat (10/4/2026).
"Amerika dulu bicara soal nuklir saja butuh waktu 19 bulan untuk berunding. Sekarang, masalah nuklir dan perang regional dikasih deadline dua minggu. Ini kayaknya bisa gagal lagi," ujar Anton.
Ia membeberkan bahwa Trump awalnya mengusulkan 15 poin kesepakatan pada 23 September, namun Iran merespons dengan 5 poin hingga akhirnya berkembang menjadi 10 poin yang alot diperdebatkan.
Anton mencium adanya motif politik domestik Amerika Serikat di balik langkah agresif Trump dalam menginisiasi perundingan singkat ini.
Baca juga: Sikap Hati-hati Presiden Prabowo Terkait Konflik Iran vs AS-Israel
Menurutnya, Trump tengah berupaya mengambil hati para donatur besar yang berafiliasi dengan Israel demi menyongsong Pemilu Sela Amerika Serikat pada November mendatang.
"Trump menghadapi Pemilu Sela pada November dan itu membutuhkan pendanaan kampanye yang besar. Siapa salah satu donaturnya? Adalah link-nya Israel," ungkap Anton.
Maka dari itu, Trump dianggap memiliki kepentingan mutual dengan Israel; Israel butuh backup militer AS, sementara Trump butuh dukungan finansial dari lobi-lobi pro-Israel.
Dinamika ini membuat perundingan menjadi tidak murni untuk perdamaian dunia, melainkan sarat dengan kepentingan kekuasaan di Washington.
"Jadi pertempuran ini tidak lepas dari urusan domestik Amerika. Dinamika ini yang membuat posisi perundingan di Islamabad nanti menjadi sangat kompleks," pungkasnya.
Berikut perikan wawancara khusus dengan Kepala Center for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE) sekaligus pengamat militer, Anton Aliabbas dengan Tribunnews;
Tanya: Sebenarnya kita juga menggunakan narasi gencatan senjata sementara sih, karena waktunya tuh singkat banget, 2 minggu. Berarti kan ada kemungkinan untuk lanjut lagi dong, karena ada kata-kata sementara juga yang dipakai sama beberapa media luar juga. Nah, Mas sendiri melihat kenapa cuma akhirnya kesepakatan 2 minggu? Dan ada 10 poin ya sebenarnya, ada 10 poin yang disepakati walaupun Trump bilang nggak menyepakati tapi Iran bilang ini kesepakatannya. Mas melihat sendiri melihat bagaimana sih dinamika ini, apakah keterlibatan Pakistan juga nggak terlalu dalam menengahi keduanya?
Jawab: Pertama harus dilurusin dulu bahwa dari Amerika itu standpoint-nya 15, 15 poin Trump usulkan tanggal 23. Waktu itu langsung dijawab sama Iran di tanggal 24 ngusulin 5 poin tapi kemudian perkembangan sekarang 10 poin gitu ya. Ada beberapa hal yang memang nanti akan jadi alot dan juga yang satu yang bagi saya mungkin ini paling rentan ya, paling rentan tuh misalnya bahwa ada jaminan bahwa ini tidak dilakukan di kemudian hari.
Ini paling rentan nih, ini paling susah nih karena paling susah diabaikan. Yang kedua yang kemudian yang bagi saya sulit itu ada tiga hal nanti yang jadi pelik. Yang pertama adalah ketika bicara tentang fee untuk lintas Selat Hormuz.
Gitu yang selama ini sebelum ada konflik, pihak-pihak itu bebas untuk lewat, aman untuk lewat, tapi pasca perang kemudian tidak aman. Bahkan terbaru kemarin misalnya dari IRGC itu mengusulkan ada jalur alternatif pelayaran.
Jadi ada alternatif yang berbeda sebelumnya karena dia bilang di situ sudah kami tanam ranjau laut, jadi lewat sini."
Baca juga: Misi Berat JD Vance di Pakistan: Capai Kesepakatan dengan Iran hingga Buka Selat Hormuz
Tanya: Rute baru?
Jawab: Rute baru, lewat sini itu makin dekat ke Iran. Nah gitu, itu satu yang akan pelik. Yang kedua adalah permintaan untuk penghentian perang regional termasuk yang Lebanon. Ini juga pelik, karena kenapa? Karena kemudian Israel itu langsung merespons, Iran-Iran, Lebanon-Lebanon, beda gitu. Sementara dari awal ketika tanggal 24 mengeluarkan 5 poin itu soal perang regional sudah masuk, gitu itu yang kedua. Yang ketiga adalah terkait pengayaan senjata nuklir.
Gitu karena dari awal ketika ada gencatan senjata itu Iran sudah mengakui bahwa poin yang ini tuh masuk dalam perundingan. Gitu jadi ketika Amerika Serikat, ketika Presiden Trump pada saat gencatan senjata kan dia bilang bahwa 10 poin dari Iran itu workable basis. Gitu jadi mungkin untuk bisa dilakukan. Tapi kemudian nggak lama kemudian kan dia membantah pokoknya nuklir nggak.
Nah, bagi sementara bagi Iran konteks tentang pengayaan senjata nuklir di bawah rezim internasional NPT itu juga matters. Kenapa? Karena konflik ketika konflik ini terjadi sebelumnya itu kan juga masih ada perundingan terkait itu. Dan yang ketika Trump keluar dari Joint Comprehensive Plan of Action yang dulu dipersiapkan Obama yang kemudian Trump keluar di 2018 itu kan juga ngomong tentang itu. Nah Iran bilang ya ini harus masuk gitu. Jadi bagi saya ini yang kemudian tadi bahwa apakah ini jadi rentan, ini kemudian jadi sangat rentan perundingan dua pekan ini gitu ya, jadi itu sih.
Jadi si 3 poin itu karena sebenarnya itu yang memberatkan Amerika Serikat juga. Ya memberatkan iya.
Baca juga: Mantan Menteri Libya Era Gaddafi Peringatkan Iran: Jangan Terlalu Percaya AS, Banyak Perangkap
Tanya: Apalagi ada tarif itu sih ya?
Jawab: Kalau tarif itu sih mungkin ya bagi saya mungkin itu bisa dilepas sama dia. Kenapa? Karena Trump, karena Iran kan bilang ini kehancuran di negaranya kan butuh anggaran untuk perbaikan.
Pilihannya Amerika yang mau bayarin atau saya cari duit sendiri. Kalau Amerika nggak mau bayar berarti izinkan saya untuk cari duit sendiri. Cari duit sendiri paling mana? Ya pakai tarif itu walaupun kata Iran kan ini tarif tidak saya ambil semuanya, saya bagi dua sama Oman gitu yang punya wilayah juga gitu tapi ya tadi anggaran ini tuh penting dan akan digunakan saya untuk membangun kembali.
Gitu jadi bagi saya sih itu agak make sense dan mungkin yang bagian itu tidak terlalu pelik, tapi yang pelik itu jadi ya satu jadi kalau misalnya diurutkan ya yang mungkin jadi saya bukan saya tidak bilangnya mudah tapi yang agak sulit adalah soal fee.
Karena itu nanti ada ada tarik ulurnya, tapi yang paling sulit adalah ketika kita bicara nanti perang regional dan juga adalah tentang nuklir.
Tanya: Nah itu dia yang regional itu kan Iran mengeluarkan statement kalau misalnya ngomongin Lebanon ya itu masuk dalam area kita, makanya dia langsung mengeluarkan statement ketika Israel kasih serangan ke Lebanon. Dan update terbarunya tuh Trump nelpon Netanyahu langsung kan Mas ya untuk memastikan kurangin dulu dong nih serangannya, sedangkan Iran bilang nggak mau dikurangin tapi maunya bersih. Nah ini Mas lihat komunikasi Trump dan Israel nih gimana Mas?
Jawab: Tadinya justru saya mendapatkan informasi sebaliknya. Jadi ketika Trump mengatakan bahwa 10 poin dari Iran itu workable basis, pada awalnya Trump tidak tidak aware dengan ada soal ini.
Gitu jadi ada impact ya soal itu nggak ada karena memang dari awal sudah tahu nih bahwa ini masuk Lebanon segala rupa tapi kemudian Lebanon apa Netanyahu nelpon Trump gitu termasuk juga ngomong tentang Lebanon termasuk juga tentang nuklir makanya kemudian posisinya menjadi berubah bahkan kemudian jadi seirama bahwa 10 poin yang di Iran itu ya nanti akan banyak didiskusikan itu yang termasuk yang disampaikan oleh wakil presiden Amerika Serikat JD Vance yang menjadi salah satu negosiator yang ada di Islamabad gitu. Jadi langsung kemudian seakan-akan kemudian jadi yang tadinya sudah agak optimis bahwa 10 poin ini mungkin akan cuma ya diacak-acak sedikit gitu tapi kemudian wah jadi mentah lagi udah kita diskusikan gitu mau dibenturkan sama 15 poin gitu. Ini yang bagi saya waduh 2 minggu jangan-jangan ini memang sengaja untuk nggak temu gitu.
Baca juga: Trump Kritik NATO soal Iran saat Bertemu Rutte
Tanya: arah ke sana sampai mengapa akhirnya 2 minggu itu?
Jawab: Iya saya juga nggak itu ya kenapa waktunya 2 minggu ya jadi karena kan sebenarnya kalau misalnya kita melihat ya Trump itu dari sudah saya catatan saya itu sudah 5 kali memberikan deadline. Deadline gitu ya dari sejak dari tanggal 21 gitu lalu tadinya 48 jam lalu 2 hari kemudian diganti lagi 5 hari diganti lagi 10 hari diganti lagi 48 lalu ada dapat extended lagi gitu jadi sehari gitu dapat perpanjangan gitu. Jadi walaupun itu menjadi menarik ketika misalnya Financial Times mencoba mengumumkan kenapa kok tiba-tiba ujug-ujug ada deadline? Jadi kalau misalnya Financial Times yang terbaru menyatakan bahwa itu tuh ada diskusi bahwa ternyata Amerika Serikat dalam hal ini Trump itu sudah mencoba mencari cara untuk penyelesaian ketika dia mengeluarkan deadline. Itu sebenarnya itu adalah cerita dia untuk bagaimana kemudian membuka apa namanya meja dialog gitu. Yang sayangnya pada saat itu Iran makin menjadi-jadi melakukan serangannya gitu. (Tribun Network/Yuda).