AS-Iran Diambang Perang Dahsyat, Perundingan Gagal Capai Kesepakatan soal Nuklir dan Selat Hormuz
Ansari Hasyim April 12, 2026 11:19 AM

 

SERAMBINEWS.COM – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah pembicaraan penting di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan. Media pemerintah Iran, Press TV Iran, melaporkan negosiasi kandas akibat “tuntutan berlebihan” dari pihak AS yang dinilai menghalangi tercapainya kerangka kerja bersama.

Dalam perundingan tersebut, sejumlah isu krusial menjadi titik sengketa, mulai dari pengelolaan Selat Hormuz, hak Iran atas program nuklir damai, hingga berbagai kepentingan strategis lainnya.

AS Dinilai Menuntut Terlalu Jauh

Menurut sumber tersebut, Iran menolak keras tuntutan AS yang dianggap terlalu ambisius, terutama terkait Selat Hormuz dan pembatasan program energi nuklir damai.

Nasib Kesepakatan di Tangan Perubahan Sikap AS
Fars juga menegaskan bahwa peluang tercapainya kesepakatan kini bergantung pada kesediaan AS untuk mengubah tuntutan yang dinilai “tidak masuk akal”. Selat Hormuz disebut sebagai salah satu isu paling sensitif yang masih menjadi penghalang utama.

Baca juga: Pakistan Kerahkan Jet Tempur ke Arab Saudi

Meski demikian, para ahli dari kedua pihak masih berupaya mencari titik temu. Peran mediator dari Pakistan juga disebut cukup aktif dalam menjembatani perbedaan dan mendorong kompromi.

Kedua delegasi bahkan telah kembali ke tim teknis masing-masing untuk mengkaji draf kesepakatan yang diajukan. Pembicaraan diperkirakan akan dilanjutkan setelah rancangan tersebut dimatangkan.

AS Klaim Sudah Ajukan “Tawaran Terakhir”
Sementara itu, Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan bahwa Washington telah memberikan “penawaran terakhir dan terbaik” kepada Iran.

Ia mengungkapkan bahwa selama 21 jam perundingan berlangsung, tim AS terus berkomunikasi intensif dengan Presiden Donald Trump.

“Kami berbicara dengan presiden secara konsisten—mungkin setengah lusin hingga belasan kali dalam 21 jam terakhir,” ujar Vance.

Menurutnya, meski diskusi berlangsung substantif, hasil akhir tetap mengecewakan karena tidak tercapai kesepakatan. Ia bahkan menilai kegagalan ini lebih merugikan Iran dibandingkan AS.

Garis Merah Washington
Vance menegaskan bahwa AS telah menyampaikan secara jelas batas-batas yang tidak bisa dinegosiasikan. Washington, katanya, hanya membutuhkan satu hal utama: komitmen tegas Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

“Fakta sederhananya, kami membutuhkan komitmen afirmatif bahwa mereka tidak akan mengejar senjata nuklir, termasuk kemampuan yang memungkinkan mereka mencapainya dengan cepat,” tegasnya.

Ia juga menyinggung bahwa fasilitas pengayaan nuklir Iran sebelumnya telah dihancurkan. Namun, menurutnya, persoalan utama kini adalah jaminan jangka panjang—bukan hanya untuk saat ini atau beberapa tahun ke depan, tetapi selamanya.

“Kami belum melihat komitmen itu. Dan kami berharap bisa melihatnya,” pungkas Vance.

 
Gagalnya perundingan ini menambah panjang daftar kebuntuan diplomatik antara kedua negara, sekaligus membuka kembali potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah—terutama di jalur vital perdagangan dunia, Selat Hormuz.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.