AS Tuduh China Kirim Senjata ke Iran di Tengah Gencatan Senjata, Trump Beri Peringatan Keras
Faisal Zamzami April 12, 2026 01:03 PM

 

SERAMBINEWS.COM, WASHINGTON – Intelijen Amerika Serikat (AS) menuduh China berencana mengirimkan bantuan persenjataan kepada Iran dalam beberapa pekan ke depan, di tengah berlangsungnya gencatan senjata antara kedua negara.

Menurut laporan intelijen, Beijing diduga tengah menyiapkan pengiriman sistem pertahanan udara ke Teheran.

Langkah ini dinilai provokatif, mengingat China sebelumnya mengklaim turut membantu menginisiasi kesepakatan gencatan senjata.

Sumber intelijen juga menyebut adanya kemungkinan Iran memanfaatkan momen gencatan senjata untuk mengisi kembali persenjataannya dengan dukungan mitra.

Bahkan, terdapat indikasi bahwa China mengirimkan senjata melalui negara ketiga guna menyamarkan asalnya.

Baca juga: Trump Remehkan Perundingan Damai Iran-AS, Klaim Amerika Tetap Menang

Dugaan Jenis Senjata

Dilansir dari CNN, sistem yang diduga akan dikirim adalah rudal anti-pesawat portabel atau MANPAD (Man-Portable Air Defense System).

Senjata ini dikenal mampu menjadi ancaman serius bagi pesawat militer yang terbang rendah.

Presiden AS, Donald Trump, menanggapi tuduhan tersebut dengan peringatan keras kepada China.

“Jika China melakukan itu, China akan menghadapi masalah besar,” ujarnya, dikutip dari Reuters.

Trump juga mengindikasikan bahwa jet tempur F-15 yang ditembak jatuh di wilayah Iran pekan lalu kemungkinan terkena rudal bahu genggam.

Namun, belum dapat dipastikan apakah sistem tersebut berasal dari China.

Selain itu, disebutkan bahwa perusahaan-perusahaan China diduga menjual teknologi dwiguna kepada Iran, yang dapat digunakan untuk pengembangan sistem senjata dan navigasi.

Baca juga: Penyebab Perundingan Iran-AS di Pakistan Gagal, Negosiasi soal Nuklir dan Selat Hormuz Masih Buntu

Dinamika Hubungan Internasional

Meski demikian, sejumlah sumber menilai China tidak memiliki kepentingan strategis untuk terlibat langsung dalam konflik.

Beijing disebut berupaya menjaga posisi sebagai mitra jangka panjang Iran, sembari tetap mempertahankan citra netral.

China juga berargumen bahwa sistem pertahanan udara bersifat defensif, berbeda dengan dukungan Rusia yang disebut lebih ofensif.

Rusia dilaporkan membantu Iran melalui berbagi intelijen yang digunakan untuk menargetkan aset dan pasukan AS di Timur Tengah.

Iran sendiri diketahui memiliki hubungan militer dan ekonomi yang erat dengan China dan Rusia.

Teheran juga disebut membantu Rusia dalam perang di Ukraina melalui pasokan drone serta menjual minyak yang terkena sanksi kepada China.

Baca juga: Netanyahu Tegaskan Israel Siap Kembali Perang Lawan Iran: Jari Kami Tetap di Pelatuk

Bantahan China

Menanggapi tuduhan tersebut, juru bicara Kedutaan Besar China di Washington membantah keras.

“China tidak pernah menyediakan senjata kepada pihak mana pun yang terlibat dalam konflik. Informasi tersebut tidak benar,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa China selalu memenuhi kewajiban internasionalnya dan meminta AS untuk tidak melontarkan tuduhan tanpa dasar.

China juga menyatakan telah berupaya mendorong gencatan senjata serta meredakan ketegangan sejak konflik antara AS, Israel, dan Iran meningkat.


Di tengah meningkatnya ketegangan ini, komunikasi tingkat tinggi antara AS dan China dilaporkan terus berlangsung.

Bahkan, Trump dijadwalkan akan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing bulan depan untuk membahas berbagai isu strategis, termasuk situasi di Timur Tengah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.