Lahan Jl. Danau Tamblingan Sanur Bali Padat, Investor Kembangkan Properti Dengan Taman Komunal Hijau
Putu Dewi Adi Damayanthi April 12, 2026 01:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Di tengah semakin terbatasnya ketersediaan lahan untuk pengembangan baru di jantung Sanur, Paradise Indonesia Group melalui entitas afiliasinya memulai pembangunan proyek anyar.

Kawasan Danau Tamblingan selama ini dikenal sebagai titik nadi pariwisata sekaligus hunian yang telah matang di Bali.

Padatnya bangunan di sepanjang jalur ini membuat kehadiran proyek baru menjadi fenomena yang cukup jarang terjadi.

Proyek yang berlokasi di Jalan Danau Tamblingan ini ditandai dengan seremoni peletakan batu pertama pada pekan ini, sebagai langkah diversifikasi grup ke segmen residensial butik.

Baca juga: Marak Kasus Penipuan Investasi di Bali, Polda Bali: Jaga Citra di Mata Investor Global

Kondisi ini yang kemudian direspons pengembang dengan mengusung konsep boutique quiet luxury living, sebuah pendekatan yang mengedepankan kualitas ruang dan ketenangan di tengah kawasan yang sibuk.

Direktur Paradise Indonesia Group, Patrick Rendradjaja, menjelaskan bahwa langkah ini diambil untuk menjawab pergeseran preferensi pasar properti pasca pandemi yang kini lebih menitikberatkan pada aspek kualitas hidup.

"Maison Aela merupakan bagian dari upaya kami yang relevan dengan perubahan preferensi pasar," kata Patrick kepada Tribun Bali, pada Minggu 10 April 2026.

"Kami melihat adanya pergeseran menuju hunian yang tidak hanya segi lokasi dan fasilitas, tetapi juga kualitas hidup yang lebih tenang, personal, dan berkarakter," imbuhnya.

Secara teknis, proyek yang dikembangkan oleh PT Graha Pradipta Pratama ini hanya menyediakan 11 unit villa.

Satu hal yang menjadi perhatian dalam desain arsitekturnya adalah kehadiran Lifted Garden Courtyard.

Area ini difungsikan sebagai taman komunal hijau yang dirancang bebas dari lalu lalang kendaraan, sehingga memberikan jaminan keamanan dan sirkulasi udara yang lebih baik.

Langkah merambah segmen hunian dengan densitas rendah ini menjadi menarik jika melihat rekam jejak grup yang biasanya mengelola proyek berskala besar.

Patrick menekankan pengelolaan properti dilakukan secara profesional dengan konsep lock and leave, yang ditujukan bagi pemilik dengan mobilitas tinggi yang menginginkan fleksibilitas antara tempat tinggal pribadi maupun sarana berlibur.

"Pada akhirnya, ruang yang baik adalah ruang yang mampu menghadirkan berbagai rasa, rasa memiliki, rasa nyaman, dan rasa ingin kembali," pungkas Patrick. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.