Indonesia Terlambat? Pengamat Migas Bongkar Dampak Krisis Hormuz | Ngocak Febby
Tribun-video April 12, 2026 02:42 PM

TRIBUN-VIDEO — Ketegangan di Selat Hormuz kembali menekan sistem energi global dan berdampak langsung ke Indonesia.

Bagi negara yang kini berstatus net importir minyak, gangguan di jalur vital tersebut memperlihatkan rapuhnya ketahanan energi nasional. 

“Dengan krisis Hormuz ini, kita sebenarnya sudah terlambat,” ujar Erie, di Studio Tribunnews, Jumat (10/4/2026).

Menurut Erie, konflik antara Iran dan Amerika Serikat tidak hanya berdampak pada harga minyak yang kini menyentuh 95–98 dollar AS per barel, tetapi juga mengganggu stabilitas pasokan.

Dalam kondisi krisis, pasar minyak tidak lagi berjalan normal.

Ia menjelaskan, ada tiga pemain utama dalam pasar minyak dunia, yakni pemilik kilang, pemegang cadangan strategis, dan spekulan. 

Dalam situasi genting, spekulan justru menjadi aktor dominan yang memengaruhi harga dan distribusi. Dampaknya terlihat nyata.

Kapal LNG yang semula menuju Indonesia bisa berbalik arah di tengah perjalanan karena adanya penawaran harga lebih tinggi dari pihak lain.

Lebih jauh, ia menilai akar persoalan Indonesia terletak pada strategi energi yang tidak banyak berubah sejak 1970-an.

Saat itu, Indonesia masih berpenduduk sekitar 120 juta jiwa dan berstatus eksportir minyak.

Kini, dengan jumlah penduduk mencapai 280 juta jiwa, kebutuhan energi melonjak, tetapi kebijakan dinilai belum beradaptasi. 

“Tahun 1970 sampai 2026, selama 50 tahun, kita tidak melihat perubahan geopolitik. Rakyat kita sudah 280 juta, dan yang butuh BBM bukan hanya Pulau Jawa,” tegasnya.

Saksikan wawancara lengkapnya hanya di YouTube Tribunnews!

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.