PM Israel Netanyahu Ultimatum Lebanon: Lucuti Hizbullah atau Eskalasi Berlanjut
Darwin Sijabat April 12, 2026 04:11 PM

 

TRIBUNJAMBI.COM – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengeluarkan pernyataan keras menjelang pertemuan diplomatik penting di Washington. 

Dalam sebuah pidato terekam yang dirilis pada Minggu (12/4/2026), Netanyahu menegaskan kekuatan militer Israel telah memaksa Lebanon untuk membuka saluran negosiasi langsung.

Namun ia memperingatkan bahwa serangan tidak akan berhenti begitu saja.

Meskipun menyetujui pembicaraan damai, Benjamin Netanyahu menetapkan dua kondisi "harga mati" yang harus dipenuhi oleh pemerintah Lebanon jika ingin agresi militer berakhir:

- Pelucutan senjata total Hizbullah.

- Tercapainya kesepakatan damai yang abadi.

Benjamin Netanyahu mengklaim kesediaan Lebanon untuk berunding adalah hasil dari "pencapaian luar biasa" militer Israel di lapangan. 

Namun, ia mengingatkan rakyatnya dan dunia bahwa status perang masih jauh dari kata usai.

“Perang masih belum berakhir, dan Israel telah meraih pencapaian yang luar biasa,” tutur Netanyahu sebagaimana dikutip dari TRT World.

Menuju Meja Perundingan di Washington

Di tengah ancaman eskalasi, titik terang diplomasi muncul setelah Kepresidenan Lebanon dan pihak Israel sepakat untuk bertemu di Washington pada Selasa (14/4/2026) mendatang. 

Baca juga: Menlu Iran Balas JD Vance: AS Biarkan Netanyahu Serang Lebanon Itu Bodoh

Baca juga: Penjelasan BGN soal Anggaran EO Gandeng Pihak Ketiga Rp113 Triliun Viral

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat telah mengonfirmasi peran mereka sebagai tuan rumah guna memfasilitasi negosiasi gencatan senjata yang krusial ini.

Latar Belakang Konflik Berdarah

Situasi di perbatasan Israel-Lebanon memanas secara drastis sejak 28 Februari lalu, dipicu oleh serangan AS-Israel ke Iran yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei. 

Sebagai balasan, Hizbullah meluncurkan rentetan serangan ke wilayah Israel yang kemudian dibalas dengan bombardir masif. 

Puncaknya terjadi pada Rabu (8/4/2026), di mana serangan udara Israel dilaporkan telah membunuh lebih dari 300 orang di Lebanon dalam satu hari.

Kini, nasib jutaan warga sipil di kedua negara bergantung pada hasil perundingan besok lusa. 

Apakah syarat pelucutan senjata Hizbullah akan diterima oleh Beirut, ataukah Timur Tengah akan menyaksikan babak baru perang yang lebih destruktif?

Israel Ogah Gencatan Senjata dengan Hizbullah

Israel kembali membuat ulah dengan menyatakan keenganannya untuk melakukan gencatan senjata dengan Hizbullah di Lebanon.

Padahal, Amerika Serikat (AS) dengan Iran bakal melakukan perundingan damai di Pakistan pada Sabtu (11/4/2026) hari ini.

Pemerintah Israel secara tegas menolak opsi gencatan senjata dengan Hizbullah dan memilih untuk terus melanjutkan operasi militernya di Lebanon.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa pasukannya tidak akan menarik diri atau menghentikan serangan dalam waktu dekat.

Bagi Israel, diplomasi dan aksi militer adalah dua jalur yang berjalan beriringan.

Baca juga: SBY Desak PBB Setop Misi UNIFIL, Soroti Gugurnya 3 Prajurit TNI di Lebanon

Baca juga: Status Saksi Mahkota Rismon Sianipar di Tengah Laporan JK dan Isu Kerja Rodi

Mereka bersedia bicara dengan pemerintah Lebanon, namun di saat yang sama, bom-bom Israel tetap akan menyasar posisi-posisi Hizbullah.

"Tidak ada gencatan senjata di Lebanon. Kami akan terus menyerang Hizbullah dengan kekuatan penuh sampai keamanan warga kami di utara kembali pulih," tegas Netanyahu dalam keterangannya yang dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (11/4/2026).

Sikap keras kepala Israel ini menuai kritik tajam.

Lebanon, melalui sejumlah pejabatnya, menyatakan bahwa perundingan akan sulit membuahkan hasil jika warga sipil mereka terus dihujani serangan.

Mereka menuntut adanya "jeda taktis" atau gencatan senjata sementara sebagai bentuk itikad baik sebelum delegasi kedua negara duduk bersama di Departemen Luar Negeri AS Selasa mendatang.

Senada dengan Lebanon, Iran juga mengecam tindakan Israel.

Teheran menilai serangan berkelanjutan ini adalah pelanggaran terhadap komitmen perdamaian yang tengah diupayakan komunitas internasional.

Perundingan di Washington pekan depan rencananya akan difokuskan pada upaya pelucutan senjata Hizbullah dan normalisasi hubungan bilateral yang telah lama membeku.

AS sendiri mendukung permintaan Lebanon agar Israel setidaknya memberikan "isyarat damai" dengan menghentikan serangan udara sesaat sebelum pembicaraan dimulai.

Ancaman Iran Menjelang Perundingan

Menjelang pertemuan dengan AS di Ibu Kota Pakistan, Islamabad, Iran melontarkan ancaman keras.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan posisi negaranya bahwa diskusi tidak bisa melangkah lebih jauh jika aset-aset Iran yang dibekukan belum cair.

Tak hanya itu, Iran menuntut jaminan keamanan dan gencatan senjata di Lebanon sebagai paket kesepakatan.

"Kami tidak akan melangkah tanpa komitmen konkret," tegas Ghalibaf di sela-sela persiapan pertemuan tersebut, mengutip Al Mayadeen.

Pernyataan ini menjadi sandungan besar, mengingat Israel dan AS dikabarkan ingin memisahkan isu konflik Lebanon dari pembahasan utama dengan Iran.

Bagi Teheran, kedua isu tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak bisa ditawar.

Sebaliknya, delegasi AS yang dipimpin langsung oleh Wakil Presiden JD Vance tiba dengan pengamanan super ketat.

Vance membawa misi besar untuk mengakhiri perang enam minggu yang melanda kawasan tersebut.

Meski menyatakan optimistis, ia memperingatkan bahwa negosiasi ini sangat rapuh.

"Kami berharap pembicaraan ini konstruktif dan bisa membawa akhir yang definitif bagi peperangan ini," ujar Vance sebelum bertolak ke Pakistan.

Sementara itu, Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyebut pertemuan di negaranya ini sebagai titik penentu.

Dunia kini menanti apakah 10 poin rencana yang diajukan Iran akan diterima oleh AS, atau justru Islamabad hanya akan menjadi saksi bisu kegagalan diplomasi yang bisa memicu eskalasi perang lebih luas di Timur Tengah.

Negosiasi AS-Iran yang dijadwalkan pada Sabtu pagi di Islamabad akan difokuskan pada pencapaian kesepakatan gencatan senjata yang langgeng antara kedua belah pihak.

Baca juga: Presiden Prabowo Dikabarkan Akan Terbang ke Rusia Temui Putin

Baca juga: Modus Wanita Inisial TH Peras Ahmad Sahroni, Mengaku Suruhan Pimpinan KPK

Baca juga: Status Saksi Mahkota Rismon Sianipar di Tengah Laporan JK dan Isu Kerja Rodi

Baca juga: Mafia BBM Subsidi di Kerinci Diringkus Polisi, Modusnya Manfaatkan Barcode

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.