Hobi Jadi Hoki, Anik Tekuni Kerajinan Bunga Akrilik Selama 10 Tahun
Pangkan Banama Putra Bangel April 12, 2026 01:50 PM

 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA - Berawal dari ketertarikan melihat kerajinan milik temannya, Anik (39) tak menyangka hobinya merangkai bunga kini berkembang menjadi usaha yang telah ia tekuni selama 10 tahun.

Dari sekadar coba-coba hingga mahir merangkai berbagai bentuk, kerajinan bunga berbahan akrilik tersebut kini menjadi sumber penghasilan yang terus ia jalankan.

Di tengah ramainya aktivitas warga saat Car Free Day (CFD) di Jalan Yos Sudarso, Palangka Raya, Minggu (12/4/2026), lapak milik Anik tampak mencolok dengan deretan bunga warna-warni yang tertata rapi.

Baca juga: Belajar di Tepi Sungai Rungan Palangka Raya, Komunitas Tabela Dorong Minat Baca Anak di Sei Gohong

Baca juga: Yetri Segera Jalani Sidang Praperadilan Penetapan Tersangka Dugaan Korupsi Pascasarjana UPR

Baca juga: Jadwal Live Persipal Vs Deltras FC, Poin PSS Sleman-Barito Putera-Persipura Klasemen Championship

Merah, kuning, ungu hingga biru tersusun dalam berbagai bentuk.

Ada yang digantung sebagai hiasan dinding, ada pula yang diletakkan dalam pot kecil di atas meja, hingga rangkaian bunga besar yang biasa ditempatkan di sudut ruangan.

Sejumlah pengunjung tampak berhenti sejenak di depan lapaknya.

Ada yang memegang bunga mini, membolak-balik gantungan kunci, hingga menanyakan harga sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli.

Di sela aktivitas tersebut, Anik dengan sigap melayani pembeli yang datang silih berganti.

“Dulu itu dari hobi saja. Lihat punya orang kok bagus, jadi coba-coba bikin yang serius,” ujarnya.

Ia mengaku awalnya belajar dari teman, sebelum akhirnya mengembangkan keterampilannya secara mandiri melalui YouTube.

“Hobi jadi hoki jadinya,” tambahnya sambil tersenyum.

Selama satu dekade menekuni usaha tersebut, Anik telah menciptakan berbagai jenis produk dari bahan akrilik.

Mulai dari gantungan kunci, bunga mini dalam pot kecil, bunga meja, hingga rangkaian besar untuk dekorasi rumah.

Ia juga membuat produk multifungsi seperti tempat pensil dan holder serbaguna yang bisa digunakan di dapur untuk menyimpan sendok hingga pisau.

Seluruh produk tersebut dirangkai sendiri dengan mengandalkan kreativitas.

“Kalau bunga ini tergantung kreasi saja. Mau bentuk apa, tinggal kita rangkai dari bunga, daun, dan bentuknya,” jelasnya.

Dari berbagai jenis produk tersebut, bunga mini menjadi yang paling diminati pembeli.

“Yang paling laris itu yang mini-mini, sekitar Rp35 ribuan,” katanya.

Sementara itu, gantungan kunci dijual dengan harga mulai Rp5.000 hingga Rp25.000. Untuk rangkaian bunga berukuran besar, harganya bisa mencapai Rp1,5 juta, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan.

Selain menjual produk yang sudah tersedia di lapak, Anik juga menerima pesanan sesuai keinginan pelanggan.

“Kalau mau model tertentu bisa, nanti kita kreasikan lagi sesuai permintaan,” ujarnya.

Pelanggan Anik pun tidak hanya berasal dari Palangka Raya.

Ia mengaku memiliki langganan tetap dari luar daerah seperti Timpah, Pujon, Tumbang Randang hingga Kuala Kurun.

Produk yang dikirim ke daerah tersebut biasanya kembali dijual oleh pembeli, sehingga ia juga berperan sebagai pemasok.

“Biasanya saya kirim ke sana, mereka jual lagi. Jadi saya suppliernya,” katanya.

Di balik usahanya tersebut, Anik juga menghadapi tantangan dalam mendapatkan bahan baku.

Ia mengaku harus membeli bahan langsung dari luar daerah, bahkan dari Pulau Jawa, karena pilihan di Palangka Raya terbatas dan harganya cenderung lebih mahal jika sudah melalui perantara.

“Kalau di sini sudah tangan kedua, harganya beda dan pilihannya juga kurang. Jadi saya langsung ke supplier di Jakarta, karena sudah langganan,” jelasnya.

Pembelian bahan pun dilakukan secara online untuk memudahkan proses dan menekan biaya.

Dalam proses produksi, Anik mampu membuat hingga lima bunga mini dalam sehari.

Sementara untuk produk lain seperti tempat pensil atau rangkaian ukuran sedang, ia rata-rata memproduksi sekitar dua buah per hari, tergantung tingkat kesulitan.

Untuk pemasaran, Anik memanfaatkan berbagai lokasi berjualan.

Pada Minggu pagi hari, ia membuka lapak di kawasan CFD Jalan Yos Sudarso, sementara pada malam hari berjualan di kawasan Pujasera di jalan yang sama dengan, mulai setelah magrib hingga sekitar pukul 22.00 WIB.

Menurutnya, momen CFD cukup membantu meningkatkan penjualan karena banyak pengunjung yang datang.

Meski demikian, pendapatan yang diperoleh tidak selalu stabil.

“Kalau long weekend ramai bisa Rp500 ribu sampai Rp1 juta. Kalau hari biasa sekitar Rp300 ribu,” ungkapnya.

Namun, ia mengakui kondisi tersebut merupakan hal yang wajar bagi pelaku usaha kecil.

“Kalau hari ini agak sepi, sekitar dua setengah ratus ribu. Namanya jualan, kadang ramai, kadang sepi,” tambahnya.

Kisah Anik menjadi gambaran bagaimana hobi yang ditekuni secara konsisten dapat berkembang menjadi peluang usaha yang bertahan dalam jangka panjang.

Dari sekadar coba-coba karena rasa suka, kini ia mampu menciptakan berbagai kerajinan yang tidak hanya diminati pembeli, tetapi juga dipasarkan hingga ke luar daerah.

“Hobi jadi hoki” bukan sekadar ungkapan bagi Anik, melainkan perjalanan nyata yang ia jalani selama satu dekade.

“Semoga tetap lancar, tetap berjaya, dan omzetnya terus meningkat,” tutupnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.